Karena kesulitan keuangan, Liberty Films, studio yang memproduksi film ini, tidak dapat membayar tagihan mereka. Akibatnya, studio tersebut mengajukan kebangkrutan dan diakuisisi oleh Paramount Pictures.
3. The Alamo (2004)

Foto/Stars Insider
The Alamo (2004) adalah film sejarah yang dibintangi oleh Dennis Quaid dan Billy Bob Thornton. Film ini memakan biaya produksi sebesar USD107 juta atau Rp1,5 triliun dan hanya meraup USD22 juta atau Rp314 miliar di seluruh dunia. Film ini juga menerima kritik yang buruk, terutama karena menggambarkan para pahlawan Texas sebagai orang kulit putih yang berkulit putih.
Disney mengalami kerugian besar dan memutuskan untuk menghentikan produksi film-film mahal yang tidak cocok untuk keluarga. Akibatnya, studio tersebut mengurangi lebih dari 20% staf dan menutup divisi filmnya.
4. Town & Country (2001)

Foto/Stars Insider
Warren Beatty, Diane Keaton, Goldie Hawn, dan Gary Shandling membintangi Town & Country (2001). Film ini dikenal sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah Hollywood. Produksi film ini mengalami berbagai masalah, termasuk perubahan sutradara, penundaan, dan pengeluaran yang membengkak.
Film ini memakan biaya produksi sebesar USD90 juta atau Rp1,3 triliun dan hanya meraup USD10 juta atau Rp142 miliar di seluruh dunia. Akibatnya, studio yang memproduksi film ini, New Line Cinema, mengalami kerugian besar dan terpaksa diakuisisi oleh Warner Bros.
5. Cutthroat Island (1995)

Foto/Stars Insider
Cutthroat Island (1995) adalah film aksi petualangan yang dibintangi oleh Geena Davis dan Matthew Modine. Film ini memakan biaya produksi sebesar USD98 juta atau Rp1,4 triliun dan hanya meraup USD10 juta atau Rp142 miliar di seluruh dunia. Film ini juga menerima kritik yang buruk dan dianggap sebagai salah satu film terburuk sepanjang masa.
Carolco Pictures, studio yang memproduksi film ini, mengalami kebangkrutan setelah film ini dirilis. Film ini juga mengakhiri karir sutradara Renny Harlin di Hollywood.
6. The Adventures of Pluto Nash (2002)

Foto/Stars Insider
The Adventures of Pluto Nash (2002) dibintangi oleh Eddie Murphy dan diproduksi dengan biaya sebesar USD100 juta atau Rp1,4 triliun. Film ini hanya meraup USD7 juta atau Rp100 miliar di seluruh dunia. Film ini menerima kritik yang buruk dan dianggap sebagai salah satu film terburuk sepanjang masa.
Warna Bros, studio yang memproduksi film ini, kehilangan USD96 juta atau Rp1,3 triliun dan memaksa mereka untuk membatalkan beberapa proyek film besar lainnya.
7. Mars Needs Moms (2011)

Foto/Stars Insider
Mars Needs Moms (2011) adalah film animasi yang memakan biaya produksi sebesar USD150 juta atau Rp2,1 triliun. Namun, film ini hanya meraup USD39 juta atau Rp554 miliar di seluruh dunia. Film ini dianggap sebagai salah satu film animasi terburuk sepanjang masa dan menyebabkan Disney kehilangan USD136 juta atau Rp1,9 triliun.
Disney menghentikan produksi film-film mahal yang tidak cocok untuk keluarga setelah kegagalan ini. Akibatnya, studio tersebut memutuskan untuk mengurangi lebih dari 20% staf dan menutup divisi filmnya.
beritagowa.com – Sejumlah film membuat studionya gulung tikar meski dibintangi oleh artis terkenal. Deretan film tersebut tidak berakhir dengan kesuksesan dan bahkan dinyatakan gagal total.
Di balik megahnya produksi dan promosi besar-besaran, beberapa film ini justru menjadi bencana finansial yang melumpuhkan studio pembuatnya. Mulai dari pengeluaran produksi yang membengkak hingga kegagalan menarik penonton.
Kisah film-film ini menjadi pelajaran pahit tentang risiko besar dalam dunia perfilman. Apa saja film yang berhasil mencatat sejarah kelam ini? Berikut daftarnya dilansir dari redaksi beritagowa.com, Senin (25/11/2024).
7 Film yang Buat Studionya Gulung Tikar
1. Battlefield Earth (2000)

Foto/Redaksi Beritagowa.com
Dibintangi oleh John Travolta, Battlefield Earth (2000) adalah film bencana fiksi ilmiah yang dianggap memanjakan diri sendiri untuk Scientology. Travolta secara pribadi menyumbang USD5 juta atau Rp79 miliar dari dananya sendiri, dari anggaran USD73 juta atau Rp1,1 triliun.
Film ini dikritik secara luas dan bahkan menerima penghargaan Razzie karena kualitasnya yang buruk. Film ini dikenal karena humornya yang tidak pada tempatnya dan tidak menghibur. Franchise Pictures, studio di balik film tersebut, menghadapi masalah hukum karena menipu investor, yang akhirnya menyebabkan kebangkrutan mereka.











