Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Telkom soal Layanan Internet Murah: Pasar Berbeda

Penjelasan Perbedaan Teknologi Internet Rakyat dan IndiHome



Telkom memberikan penjelasan mengenai layanan internet yang disediakan oleh PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) milik Hashim Djojohadikusumo, yang menggunakan anak usaha PT Telemedia Komunikasi Pratama. BUMN ini menekankan bahwa target pasar yang diincar berbeda dari produknya sendiri.

Telkom memiliki lini bisnis IndiHome, yang bergabung dengan Telkomsel pada 2023. “Dari sisi IndiHome, target pasarnya sedikit berbeda,” ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Indonesia Arthur Angelo Syailendra saat media briefing, Senin (1/12).

Internet Rakyat yang digagas oleh Surge (WIFI) lewat Telemedia dan OREX SAI Inc., perusahaan patungan antara NTT DOCOMO, INC. dan NEC Corporation, menggunakan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) yang beroperasi pada frekuensi 1.4 GHz, serta implementasi Open RAN atau arsitektur terbuka pada radio access.

Sementara itu, IndiHome menggunakan fiber optik. Fiber optik adalah teknologi broadband tetap menggunakan kabel serat optik yang mentransmisikan data lewat sinar cahaya dalam kabel kaca/plastik.

Perbandingan FWA dan Fiber Optic

Berdasarkan referensi dari Ericsson, Aviat Networks, AT&T Business, dan VSAT, berikut adalah perbedaan antara FWA dan fiber optic:

Aspek Fiber Optic FWA
Kecepatan & Latensi Sangat tinggi, latensi sangat rendah, unggah dan unduh bisa simetris/tinggi Bisa cepat, terutama dengan 5G FWA, tetapi latensi/throughput dipengaruhi posisi pelanggan terhadap base station, beban sel, kondisi radio.
Ketersediaan / Cepat Deployment Butuh pembangunan kabel fisik, izin, pekerjaan tanah, lebih mahal dan lama Lebih cepat deployment terutama di area tanpa fiber, karena hanya perlu antena/line-of-sight radio/basestation
Biaya / CAPEX Modal usaha besar untuk kabel, instalasi. Namun Total Cost of Ownership atau TCO jangka panjang bagus. Biaya awal lebih rendah untuk last mile, cocok untuk area sulit. Namun tergantung kondisi radio/infrastruktur.
Stabilitas / Gangguan Stabilitas tinggi: kabel terlindungi, kurang tergantung kondisi cuaca / jarak ‘radio’ Ada variabilitas: link radio bisa dipengaruhi jarak, halangan, beban sel. Kualitas bisa menurun di ‘worst households’
Skenario terbaik Area padat, demand tinggi, aplikasi latency-sensitif (gaming, cloud, remote surgery) Area rural/terpencil, rollout cepat diperlukan, ataupun sebagai alternatif/back-up bila fiber sulit dijangkau.

“Jadi, pemain lain memberikan harga lebih rendah ketimbang IndiHome dan lainnya, ini persoalan pada tipe konsumen yang menginginkan seberapa cepat internetnya. Apakah 25 Mbps, 50 Mbps atau 100 Mbps,” kata dia.

Selain itu, Angelo mengatakan bahwa Surge WIFI merupakan pasar potensial bagi Telkom. BUMN ini memiliki kabel fiber sekitar 180 ribu kilometer, serta 33 data center di 15 negara. Infrastruktur itu nantinya akan dibuka untuk Internet Service Provider atau ISP lain di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 1.300. “Mereka (WIFI) salah satunya. Kami sudah melayani sekitar 150 ISP saat ini,” katanya. “Jadi, bagi kami, internet itu very blue ocean market.”

Kolaborasi antara WIFI, Telkom, dan TIF

Dikutip dari laman resmi Surge, WIFI bekerja sama dengan Telkom dan Telkom Infrastruktur Indonesia pada Juni, terkait upaya memperluas konektivitas dan penyediaan layanan internet terjangkau.

“Kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi digital Indonesia. Kolaborasi ini merupakan momentum penting untuk mendorong ketersediaan Internet Rakyat secara merata, terutama bagi masyarakat di wilayah yang selama ini kurang tersentuh layanan digital,” kata Direktur Surge Moh Mustaghfirin dalam keterangan pers, pada Juni.

Wakil Presiden Eksekutif Divisi Wholesale Service Telkom Muhammad Rofik menyatakan kolaborasi ini merupakan wujud nyata komitmen dalam memperluas konektivitas nasional. “Dengan memanfaatkan kekuatan infrastruktur dan teknologi dari seluruh pihak, kami ingin memastikan seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali, dapat menikmati layanan internet yang terjangkau dan andal,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Utama TIF I Ketut Budi Utama mengatakan perusahaan siap menjadi tulang punggung pengembangan jaringan internet rakyat.

Nota Kesepahaman antara WIFI, Telkom, dan TIF mencakup pemanfaatan dan pengembangan infrastruktur jaringan metro-ethernet dan IP Transit, penguatan layanan digital dan perpesanan berbasis cloud, dan optimalisasi layanan Edge Data Center (neuCentrIX). Selain itu, pemanfaatan infrastruktur pasif seperti tiang, menara, dan/atau tiang, ducting kabel optik, dan serat optik gelap, implementasi teknologi FTTX melalui skema Virtual Unbundling Line Access (VULA), serta layanan Managed Service berbasis optimalisasi jaringan kolaboratif dan sistem pemantauan terintegrasi.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *