Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Cara AS Mengirim Bantuan ke Gaza Tanpa Rusak Seperti di Tapanuli

Situasi Darurat di Tapanuli Utara

Belum lama ini, sebuah video viral yang menunjukkan warga Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, memunguti beras dari tanah karena bantuan yang dijatuhkan dari helikopter rusak. Video tersebut menarik perhatian masyarakat luas dan menggambarkan kesulitan yang dihadapi oleh korban banjir dan longsor di wilayah tersebut.

Penjatuhan bantuan dari atas atau airdrop menjadi salah satu opsi ketika akses darat terputus. Metode ini juga digunakan oleh beberapa negara, termasuk Amerika Serikat (AS), untuk memberikan bantuan ke Gaza dalam situasi krisis pangan dan kelangkaan air bersih akibat konflik Israel-Hamas.

Cara AS Melakukan Airdrop

Dalam pelaksanaannya, mayoritas airdrop dilakukan oleh militer AS sendiri, sementara sebagian lainnya merupakan hasil kerja sama dengan Angkatan Udara Kerajaan Yordania. Bantuan yang diberikan menggunakan parasut otomatis dan pengaman agar bisa sampai dengan aman ke lokasi tujuan.

Setiap paket bantuan disimpan dalam kotak kargo berjenis A-22 yang dipasang di papan luncur dari kayu lapis dan dilapisi lima lapis karton khusus penyerap guncangan. Paket kemudian dijatuhkan dari pesawat militer Hercules C-130 ke zona penerjunan yang telah ditentukan. Kecepatan turunnya bervariasi, antara 21 meter hingga 27 meter per detik untuk paket berat dan 8 meter per detik untuk paket ringan.

Isi bantuan umumnya berupa MRE (Meals Ready-to-Eat/Makanan Siap Saji) yang dikemas dalam kantong fleksibel dan dirancang untuk kebutuhan darurat. Setiap sajian makanan memiliki kandungan gizi yang mencakup 51 persen karbohidrat, 36 persen lemak, dan 13 persen protein. Satu paket MRE mengandung makanan utama dan berbagai komponen tambahan, termasuk alat pemanas makanan tanpa api. MRE bisa dikonsumsi langsung dalam keadaan dingin dan memberikan asupan sekitar 1.250 kilokalori.

Risiko dan Kendala Airdrop

Meski dianggap sebagai metode cepat dan efektif, airdrop tidak sepenuhnya tanpa risiko. Menurut Jeremy Konyndyk, Presiden Refugees International, airdrop 8-10 kali lebih mahal dibandingkan pengiriman bantuan lewat darat. Selain biaya, metode ini juga menghadapi tantangan teknis seperti bobot peralatan yang membatasi volume bantuan yang bisa dibawa.

Operasi airdrop juga memerlukan personel dan kru pesawat dengan pelatihan khusus serta sangat dipengaruhi oleh cuaca. Zona penerjunan harus diamankan agar bantuan tidak jatuh ke tangan kelompok bersenjata atau menyebabkan kecelakaan. Pada 8 Maret 2025, sedikitnya lima orang tewas dan sepuluh lainnya luka-luka setelah paket bantuan jatuh menimpa mereka. Meskipun Komando Pusat AS membantah insiden tersebut berasal dari bantuan udara yang mereka kirimkan, hal ini menunjukkan potensi bahaya yang terjadi.

Bantuan dari Airdrop di Tapanuli Utara

Paket bantuan dari airdrop di Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, sebagian rusak setelah dilempar dari helikopter. Video tentang kejadian ini viral di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat helikopter menjatuhkan beras dan bantuan mi instan kepada korban banjir dan longsor. Warga kemudian beramai-ramai memungut beras yang bercampur tanah dan menggunakan bajunya sebagai wadah.

Menurut narasi video, bantuan dijatuhkan dari helikopter karena akses ke wilayah tersebut tertutup longsor. “Paket bantuan langsung habis berceceran, kondisi ini membuat banyak korban merasa kecewa karena tidak semua mendapatkan bagian,” tulis narasi video.

Ketua Harian Posko Darurat Bencana Pemprov Sumut, Basarin Yunus, menjelaskan bahwa pengiriman bantuan melalui helikopter dilakukan karena kondisi darurat lantaran akses darat tidak bisa dilewati. Namun, tidak semua lokasi punya tempat mendarat untuk helikopter yang sesuai standarnya, sehingga bantuan dilempar dari atas.

Basarin mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan perbaikan-perbaikan untuk proses pengiriman bantuan dari udara, supaya bantuan yang diberikan sampai dengan kondisi baik dan tidak rusak. Ia juga meminta masyarakat memahami kondisi yang terjadi karena situasi darurat.

Tapanuli Utara termasuk salah satu wilayah yang terparah akibat banjir Sumatera, dengan 32 korban meninggal, 17 hilang, dan 3.600 orang mengungsi.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *