Unjuk Rasa Massa Sopir Jawa Timur di Kantor Pertamina
Pada hari Selasa (25/11/2025), sejumlah massa dari Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) melakukan unjuk rasa di Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus yang terletak di Jalan Jagir Wonokromo No 88, Jagir, Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kelangkaan dan masalah ketersediaan BBM Solar yang dialami oleh para sopir.
Tuntutan Utama Massa Aksi
Massa aksi menuntut pencabutan blokir pada barcode pengisian Solar yang digunakan oleh para sopir truk. Mereka menyatakan bahwa jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi, GSJT akan menggelar demonstrasi dengan jumlah massa yang lebih besar.
Salah satu sopir truk bernama Ghofur menggunakan sound pengeras suara untuk menyampaikan keluhan kepada pihak Pertamina. Ia menyerukan agar blokir pada barcode segera dicabut. “Ini bukan urusan politik, ini urusan perut,” ujarnya.
Penjelasan Koordinator GSJT
Koordinator GSJT, Supriyono, menjelaskan bahwa pihaknya meminta Pertamina mencabut pemblokiran barcode milik para sopir truk se-Jatim. Menurutnya, pemblokiran tersebut tidak didasarkan pada fakta yang sebenarnya. Para sopir dituduh melakukan pembelian BBM solar dalam jumlah besar untuk ditimbun dan diperjualbelikan kembali demi keuntungan pribadi.
Supriyono mengungkapkan bahwa para sopir sebenarnya tidak bermaksud menimbun BBM. Mereka melakukan pembelian dalam jumlah besar sebagai bekal cadangan khusus bagi truk yang melakukan pengiriman barang ke luar pulau Jawa. “Kami dulu melakukan penimbunan. Mohon maaf nih, kawan-kawan yang trans ketika melakukan pengiriman di Kalimantan, di Sumatera itu proses BBM sangat sulit kami dapat,” katanya.
Penjelasan Lebih Lanjut
Menurut Supriyono, para sopir truk memiliki dua tangki BBM yang letaknya pada bagian mobil yang terbuka. “Dan bukan diletakkan pada bagian mobil yang dimodifikasi dengan tujuan menyamarkan tata letak keberadaan tangki tambahan dengan maksud menghindari kecurigaan petugas berwenang,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa mobil-mobil yang digunakan oleh para sopir truk memang memiliki dua tangki. “Kalau ditimbun itu disembunyikan ya. Ini tidak kami sembunyikan. Kami perlihatkan memang ini jatah kami beli,” tambahnya.
Rencana Aksi Berikutnya
GSJT rencananya akan menemui pihak perwakilan dari Pertamina untuk segera mengabulkan aspirasi yang mereka sampaikan, yakni membuka blokir pada barcode milik para sopir. Jika aspirasi mereka tidak direspon, GSJT akan menggelar aksi demontrasi kembali keesokan hari, namun dalam jumlah massa yang lebih besar.
“Prinsipnya kami ketemu siapapun asal bisa memblok membuka blokir itu kami terima. Prinsipnya begitu. Tapi kalau ketemu (pejabat) ecek-ecek ya pasti gak bisa buka blokir lah. Masa membutuhkan waktu 16 hari untuk buka blokir kan gak masuk akal. Sistemnya yang mereka yang salah, kami yang jadi korban,” ujar Supriyono.
Pandangan Penanggung Jawab GSJT
Penanggungjawab GSJT, Angga Firdiansyah, mengatakan bahwa pihaknya merasakan permasalahan barcode pengisian BBM solar selama kurun waktu sepekan terakhir diblokir Pertamina. Ia juga menyebutkan bahwa sempat beredar isu bahwa Pertamina Patra Niaga telah memblokir 300.094 barcode BBM bersubsidi.
Angga mengungkapkan bahwa anehnya, pemblokiran tersebut menyasar pada para sopir truk angkutan logistik antar provinsi dan pulau. “Padahal ini untuk menyukupi kebutuhan kuota yang berangkat lintas ke luar jauh. Karena di sana realitanya meskipun ada SPBU tapi posisi BBM kosong. Namun di sekitar SPBU banyak pedagang solar eceran yang harganya fantastis,” ujarnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











