Upaya Harita Nickel dalam Mengelola Air Limpasan Tambang
Industri pertambangan nikel dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa mengganggu kualitas lingkungan. Hal ini dibuktikan oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel melalui pengelolaan air limpasan tambang di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Perusahaan menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang ketat agar air tetap aman bagi ekosistem sekitar.
Sistem Pengelolaan Air Limpasan
Tingginya curah hujan di kawasan Indonesia timur menjadi tantangan bagi operasional Harita Nickel. Oleh karena itu, perusahaan membangun 52 kolam sedimentasi untuk menampung air tangkapan hujan dari area pertambangan. Kolam-kolam ini membantu mengendalikan kualitas air sebelum masuk ke laut maupun badan air lainnya.
Kolam terbesar berada di Tuguraci 2 dengan kapasitas penampungan air sebanyak 924.000 m3. Kolam seluas 43 Ha ini mampu menampung debit air antara 10.000—50.000 m3 per jam, bahkan dengan intensitas hujan tinggi. Fasilitas ini dapat menyimpan air limpasan hingga 10—15 jam sampai air menjadi jernih dan dapat dirilis ke badan air yang telah ditentukan.
Dedy Amrin, Environmental and Business Improvement Manager Harita Nickel, menjelaskan proses kerja kolam sedimentasi. Air limpasan (infulent) masuk melalui saluran inlet dan diinjeksi menggunakan bahan kimia tertentu sehingga membentuk partikel kecil yang tersuspensi menjadi flok, proses ini dinamakan flokulasi. Untuk memastikan partikel terikat sempurna, dibutuhkan kolam pencampuran berbentuk zigzag. Setelah keluar dari kompartemen ini, aliran air akan masuk ke kompartemen perjernihan (purifier), yang berfungsi memisahkan flok dengan air yang telah jernih.
“Pada proses ini, flok yang telah terbentuk akan mengendap ke dasar kolam karena memiliki berat jenis yang lebih besar dari air. Air yang telah jernih akan dialirkan menuju saluran outlet yang selanjutnya akan dialirkan ke badan air penerima,” ujar Dedy.
Debit dan kualitas air limbah di seluruh instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) Harita Nickel dipantau secara real-time oleh Kementerian Lingkungan Hidup melalui Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Secara Terus Menerus dan Dalam Jaringan (SPARING). Selain itu, pengambilan sampel dan analisis laboratorium dilakukan secara berkala oleh pihak ketiga independen yang terakreditasi, sehingga hasilnya objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Memantau Kualitas Air Laut
Harita Nickel juga secara berkala mengecek kualitas air laut yang berdekatan dengan wilayah operasional perusahaan. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam melaksanakan kewajiban yang tercantum dalam dokumen ANDAL, Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL), serta persetujuan teknis.
Pengukuran awal dilakukan di lapangan dengan instrumen water quality checker untuk memperoleh data in situ. Pengambilan sampel air laut dengan water sampler dilakukan oleh Petugas Pengambil Contoh yang kompeten dan bersertifikasi, serta melibatkan laboratorium independen. Sampel tersebut kemudian dipreparasi sesuai parameter yang akan diuji dan dikirim ke laboratorium lingkungan independen untuk dianalisis lebih lanjut.
Parameter yang diuji di laboratorium cukup ketat, di antaranya pH (6,5–8,5), Total Suspended Solids/TSS (<80 mg/L), Dissolved Oxygen/DO (≥5 mg/L), minyak & lemak (<5 mg/L), serta logam berat seperti nikel, mangan, besi, timbal, dan merkuri. Hasil pengujian kemudian disandingkan dengan baku mutu yang ditetapkan pemerintah, baik yang tercantum dalam PP 22 Tahun 2021 maupun persetujuan teknis yang berlaku.
Berdasarkan pemantauan pada tahun 2023 dan 2024 yang dilakukan pihak independen, tidak terdapat temuan ketidaksesuaian terkait air maupun aspek lingkungan lainnya di seluruh area operasional Harita Nickel. Contohnya, hasil pemantauan pada 2024 menunjukkan angka TSS berkisar 18–32 mg/L (jauh di bawah ambang batas 80 mg/L), DO antara 6,2–7,5 mg/L (baik untuk ikan dan karang), serta kandungan logam berat yang tetap aman.
Selain kualitas air laut, pemantauan juga mencakup komponen lain dari ekosistem laut seperti sedimen laut, biota plankton, benthos, terumbu dan ikan karang. Dengan cara ini, perusahaan memastikan pengelolaan lingkungan laut dilakukan secara menyeluruh dan transparan.
Keberlanjutan Air Jangka Panjang
Untuk memastikan keberlanjutan air dalam jangka panjang di Pulau Obi, Harita Nickel juga melaksanakan sejumlah inisiatif utama seperti membangun proyek taman air komunitas dan fasilitas pengemasan air, memperluas sistem daur ulang air, dan menebar reef cube di perairan.
Proyek taman air komunitas mencakup kolam budidaya ikan air tawar dan pembibitan tanaman dalam zona penyangga seluas 20,92 Ha yang dilindungi, untuk mendukung mata pencaharian masyarakat dan restorasi ekologi. Untuk mengurangi ketergantungan pada air tawar, perusahaan mengembangkan sistem daur ulang dan sirkular yang lebih luas. Saat ini, Harita Nickel telah dapat menghemat air lebih dari 7 juta m3 per tahun dalam operasionalnya.
Adapun reef cube yang digunakan dalam program rehabilitasi terumbu karang di perairan Pulau Obi terbuat dari bahan sisa hasil produksi, yakni slag nikel dan fly ash. Kubus-kubus berongga berukuran 40 x 40 cm tersebut ditempatkan membentuk struktur bangunan di area terumbu karang yang terdegradasi, menjadi rumah bagi berbagai jenis biota laut.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan tim Environmental Marine Harita Nickel pada periode Oktober 2022 hingga Januari 2024, karang alami tumbuh dengan baik antara 1,30 cm hingga 8,65 cm di lokasi penempatan reef cube. Sebanyak 109 spesies ikan karang dari 50 genus dan 22 famili juga terpantau berada di area restorasi terumbu karang.
Mengelola, menjaga, dan memperbaiki kualitas air hanyalah salah satu dari komitmen Harita Nickel menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Dengan membawa aspirasi penerapan prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang kuat, perusahaan yang telah beroperasi selama lebih dari satu dekade ini secara sukarela mengajukan diri menjalani audit ketat Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Lembaga ini dikenal memiliki standar pertambangan paling ketat dan komprehensif di dunia, dan Harita Nickel merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang mengikuti audit IRMA.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











