BERITAGOWA.COM – Serangan drone semakin menjadi pilihan utama dalam peperangan modern. Hal ini terbukti dari serangan yang dilakukan oleh Hizbullah yang berbasis di Lebanon dan didukung oleh Iran terhadap pangkalan militer Israel. Serangan tersebut menewaskan empat tentara Israel dan melukai puluhan lainnya.
Serangan ini menunjukkan bahwa drone dapat melaksanakan tugas yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh penyerbuan dengan jumlah yang banyak. Bahkan, drone juga mampu menyusup ke pertahanan udara “Iron Dome” Israel yang biasanya tidak dapat ditembus.
Menanggapi hal ini, juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari, menyatakan bahwa mereka sedang mempelajari dan menyelidiki insiden tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa serangan drone bukanlah hal yang mengejutkan dalam era perang modern.
Konflik Israel-Gaza dan perang Ukraina-Rusia juga menunjukkan penggunaan drone sebagai strategi utama dalam peperangan. Bahkan, dalam invasi Rusia di Ukraina, dilaporkan bahwa hingga 10.000 drone terbang di udara setiap harinya.
Tidak hanya di darat, penggunaan drone juga semakin marak di laut. Pemberontak Houthi di Yaman menggunakan kawanan drone laut untuk mengancam kapal-kapal komersial dan mengintimidasi kapal-kapal perang Barat. Hal ini menunjukkan bahwa drone telah menjadi ancaman serius dalam perang modern.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan drone dalam peperangan, negara-negara harus meningkatkan pertahanan mereka untuk menghadapi ancaman ini. Sebuah pertahanan yang lebih baik harus disiapkan untuk menghadapi serangan-serangan drone di masa depan.











