Terminal Arjosari Siap Jadi Titik Layanan Trans Jatim
Terminal Arjosari, yang berada di Kota Malang, menyatakan kesiapan untuk menjadi salah satu titik layanan bus Trans Jatim. Hal ini sejalan dengan wacana penambahan koridor transportasi antardaerah di wilayah Malang Raya. Namun, hingga saat ini, pihak terminal belum menerima informasi resmi terkait rencana tersebut dari Pemkot Malang maupun Pemprov Jatim.
Kepala Terminal Arjosari, Mega Perwira Donowati, menjelaskan bahwa meskipun belum ada pengumuman resmi, pihaknya sudah sangat terbuka jika Arjosari dijadikan sebagai titik layanan Trans Jatim. Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan transportasi lanjutan dari Terminal Arjosari menuju kawasan wisata dan pusat aktivitas di Malang Raya cukup tinggi, terutama menuju Kota Batu yang hingga kini belum terlayani angkutan langsung yang memadai.
“Banyak penumpang dari luar kota ingin ke Batu atau tempat wisata lain, tapi belum ada transportasi langsung. Kalau ada Trans Jatim, itu akan sangat membantu,” ujarnya.
Pihak terminal sempat diundang dalam pembahasan awal oleh pemerintah provinsi dan menyampaikan kesiapan terminal sebagai titik layanan. Namun, saat realisasi, Terminal Arjosari tidak masuk dalam rute awal. Meski demikian, pihak terminal tetap menyambut positif jika ke depan Arjosari dimasukkan dalam pengembangan koridor baru.
Beberapa langkah telah dilakukan oleh Terminal Arjosari untuk memastikan integrasi layanan dengan angkutan lain di dalam terminal. Salah satunya adalah usulan agar Trans Jatim masuk ke shelter belakang terminal, sehingga dapat menghidupkan area tersebut dan bersinergi dengan angkutan kota.
Potensi Penumpang yang Besar
Dari sisi potensi pengguna, Terminal Arjosari mencatat jumlah penumpang cukup tinggi. Pada hari biasa, jumlah penumpang mencapai sekitar 3.500 orang per hari, meningkat menjadi 5.000 saat akhir pekan, dan bisa mencapai 6.000 penumpang pada momen hari besar. Potensi penumpang ini termasuk mahasiswa dan wisatawan.
Ia menambahkan, kebutuhan transportasi publik juga meningkat saat tahun ajaran baru, terutama bagi mahasiswa baru yang datang dari luar daerah. “Kami sering mendengar langsung dari penumpang, termasuk orang tua mahasiswa, bahwa mereka butuh transportasi lanjutan yang nyaman dan pasti,” katanya.
Menurutnya, saat ini angkutan kota belum menjadi pilihan utama masyarakat karena dinilai kurang nyaman, waktu tempuh tidak pasti, serta tarif yang tidak jelas. “Kalau ada Trans Jatim, itu bisa jadi solusi karena lebih pasti dan nyaman,” pungkasnya.
Usulan Wali Kota Malang
Sebelumnya, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengusulkan penambahan dua hingga tiga koridor layanan transportasi Trans Jatim ke Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Usulan ini bertujuan untuk memperkuat konektivitas di wilayah Malang Raya.
Menurut Wahyu, kebutuhan transportasi publik lintas daerah semakin penting karena pergerakan masyarakat tidak hanya terjadi di dalam Kota Malang, tetapi juga melibatkan Kabupaten Malang dan Kota Batu. “Saya minta ada dua atau tiga koridor tambahan, karena pergerakan masyarakat itu tidak hanya di dalam kota, tapi juga dari luar daerah,” ujarnya.
Wahyu menilai, layanan transportasi berbasis koridor antarwilayah seperti Trans Jatim terbukti lebih efektif dibandingkan konsep Buy The Service (BTS) dalam kota. “Waktu saya masih Pj, BTS dalam kota kurang optimal,” paparnya.
Ia mengusulkan sejumlah rute strategis yang dapat menghubungkan pusat-pusat mobilitas di Malang Raya, seperti Arjosari, Bandara Abdul Rachman Saleh, Kepanjen, hingga Kota Batu. Misalnya, dari Arjosari ke bandara, ke Kota Malang, ke Kepanjen, sampai Batu. Atau dari Hamid Rusdi ke Singosari.
Wahyu menilai keberadaan Trans Jatim mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, terutama saat momen libur Natal dan Tahun Baru. Saat ini jumlah armada bus masih dinilai cukup, sehingga fokus utama adalah perluasan jaringan koridor.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











