Kenaikan Harga Plastik Berdampak pada Perabotan Rumah Tangga di Lumajang
Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini memberikan dampak langsung terhadap berbagai produk perabotan rumah tangga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Hal ini terlihat jelas di Toko Wijaya Pangan yang berada di Jalan Kyai Ilyas, Kecamatan/Kabupaten Lumajang. Di toko tersebut, hampir seluruh barang perabotan rumah tangga yang terbuat dari plastik mengalami kenaikan harga secara signifikan.
Petugas toko memasang papan pengumuman untuk memberi tahu para konsumen bahwa ada perbedaan antara harga yang tertera di sistem dan di rak. Mereka menulis, “Mohon maaf apabila ada perbedaan harga antara yang tertera di sistem dan di rak. Harga sebenarnya adalah yang tertulis di sistem.”
Desi Ariyani, staf Toko Wijaya Pangan, mengatakan bahwa kenaikan harga ini sempat mengejutkan konsumen. Beberapa di antaranya bahkan sampai melakukan protes saat melihat lonjakan harga. “Banyak customer yang mengeluhkan kenaikan harga, karena naiknya bisa sampai Rp 3000 sampai Rp 5000,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Menurut Desi, sebelum informasi kenaikan harga plastik menyebar luas, banyak konsumen membatalkan pembelian dan mencari toko lain. “Mereka seperti membandingkan harga dulu. Setelah itu mereka bilang ternyata sama ya, sama naiknya,” kata Desi.
Desi menjelaskan bahwa kenaikan harga dilakukan untuk menyesuaikan dengan harga dari distributor. “Karena dari distributornya juga naik. Informasinya sih kenaikkan harga plastik karena dampak perang,” tambahnya.
Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga paling tinggi terjadi pada timbol plastik, dengan lonjakan hingga Rp 7000. Hal ini membuat banyak konsumen selalu bertanya dulu harga ke petugas sebelum membeli. “Karena banyak harga yang tidak sama, antara di rak dengan yang di nota pembelian. Makanya kami buat pengumuman kayak gini, supaya orang-orang tidak kaget,” katanya.
Sementara itu, sedotan dan toples plastik di toko ini mengalami kenaikan harga kisaran Rp 3000 hingga Rp 5000. Naiknya harga plastik juga berdampak pada bisnis usaha kecil dan menengah di Lumajang. Salah satunya adalah pengelola Kafe 11:11 Lumajang, yang kini menerapkan tambahan biaya kemasan sebesar Rp 2.000 per item untuk pesanan take away.
“Kalau yang dine in (makan di tempat) kita pakai gelas atau piring biasa, jadi tidak perlu biaya tambahan,” ujar Pemilik kafe Alfiyah.
Alfian mengungkapkan bahwa kenaikan harga wadah plastik mencapai 30 persen, dari 23.500 per 50 item menjadi Rp 33.000. Sementara kantong plastik naik dari Rp 5.000 per pack menjadi Rp 7.000. Menurutnya, lonjakan harga ini juga berdampak pada bahan baku lain, seperti es batu yang kini lebih mahal karena wadahnya berbahan plastik.
“Meskipun beberapa pelanggan mengeluhkan tambahan biaya ini, kami tidak banyak pilihan. Kami kan bukan badan amal ya,” ulas Alfian sambil tersenyum.
Sementara itu, pedagang rujak di Lumajang, Rifki, memilih strategi berbeda. Ia belum menaikkan harga atau menambah biaya kemasan karena masih memiliki stok lama. “Tapi saya sudah menyiapkan langkah antisipasi jika harga plastik terus naik, salah satunya dengan menggunakan wadah yang kualitasnya lebih rendah namun masih sesuai anggaran,” kata Rifki.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











