Profil Suhardi Duka, Gubernur Sulawesi Barat
Suhardi Duka resmi menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Barat sejak 20 Februari 2025. Sejak menjabat, ia fokus pada pembenahan birokrasi dan peningkatan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, kebijakannya yang menonaktifkan 95 pejabat memicu perdebatan, terutama setelah layanan administrasi ASN diblokir oleh Zudan Arif Fakrulloh melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Hubungan antara Suhardi Duka dan Zudan Arif Fakrulloh semakin memanas akibat pemblokiran layanan kepegawaian ASN Sulbar. Kini, Zudan Arif Fakrulloh menjabat sebagai Kepala BKN.
Perbedaan Pendapat Mengenai Pemblokiran Layanan ASN
Suhardi Duka mengkritik tindakan Zudan Arif Fakrulloh dengan menyampaikan sindiran terkait pemblokiran layanan administrasi kepegawaian. Ia menilai bahwa langkah tersebut dilakukan tanpa dasar yang jelas. Menurutnya, kebijakan penonaktifan 95 pejabat di bawah kepemimpinannya telah membawa hasil positif yang lebih baik dibanding masa transisi sebelumnya.
Ia juga menegaskan bahwa birokrasi di Sulbar saat ini bekerja dengan baik. “Pak Zudan sudah move on dari Sulawesi Barat, ya. Nah, itu kenapa?,” ujarnya saat ditemui usai membuka Musrenbang Pemprov Sulbar. Ia menilai bahwa pemblokiran layanan tersebut bertujuan untuk menghambat kemajuan pemerintahan daerah.
SDK, sapaan akrab Suhardi Duka, menegaskan bahwa kebijakannya berdasarkan regulasi yang ada. “Itu artinya bahwa birokrasi sudah bekerja dengan baik. Kemudian mau dihambat seperti itu ya kita tentunya bertahan karena saya juga punya Undang-Undang 2023,” tambahnya.
Ia juga menilai bahwa BKN bertindak berlebihan dalam melakukan pemblokiran layanan. “Dia over. Over terhadap kekuasaan yang dia miliki,” katanya singkat.
Meskipun layanan digital sedang diblokir, Suhardi Duka memastikan bahwa roda pemerintahan tidak terganggu. Ia menegaskan bahwa kualitas pelayanan publik justru meningkat.
Latar Belakang Karier Politik Suhardi Duka
Suhardi Duka lahir pada 10 Mei 1962 di Mamuju, Sulawesi Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN No. 4 Mamuju (1968–1974), lalu melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Mamuju (1975–1977) dan SMAN 1 Mamuju (1978–1981). Setelah lulus, ia meraih gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Unhas pada 1986, lalu gelar Magister Manajemen di Universitas Putra Bangsa, Surabaya pada 2002, dan gelar Doktor Ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya pada 2014.
Sebelum terjun ke dunia politik, Suhardi Duka bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak 1985. Ia bergabung dengan Partai Golkar pada 1989 dan pernah menjadi Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Mamuju (1997–1999), Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamuju (1999–2000), dan Ketua DPRD Kabupaten Mamuju (2000–2005). Saat menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Mamuju, ia juga menjabat sebagai ketua DPD Partai Golkar Mamuju hingga 2012.
Pada 2005, Suhardi Duka terpilih sebagai Bupati Mamuju dan menjabat selama dua periode (2005–2015). Pada 2012, ia bergabung dengan Partai Demokrat dan ditunjuk sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Barat. Hingga saat ini, ia masih memegang jabatan tersebut.
Perjalanan Karier Politik yang Dinamis
Di tahun 2017, Suhardi Duka maju sebagai calon gubernur di Pilkada Sulbar bersama mantan Bupati Majene, Kalma Katta. Namun, ia gagal memenangkan kontestasi tersebut setelah kalah dari pasangan Ali Baal Masdar dan Enny Angraeny Anwar.
Setelah itu, ia maju sebagai calon legislatif dari Partai Demokrat Daerah Pemilihan (Dapil) Sulbar pada Pemilu 2019. Ia berhasil merebut satu kursi dan dilantik sebagai anggota DPR RI periode 2019–2024. Di DPR RI, Suhardi Duka bertugas di Komisi IV, yang meliputi Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kelautan.
Pada Pemilu 2024, Suhardi Duka kembali terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Demokrat Dapil Sulbar. Namun, ia digantikan oleh anaknya, Zulfikar Suhardi, setelah memilih terjun sebagai calon gubernur pada Pilkada Sulbar 2024.
Pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2024, Suhardi Duka dipercaya sebagai Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Sulawesi Barat.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











