Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Harga Plastik Naik, Pedagang Kaki Lima Mengeluh

Kenaikan Harga Plastik Mengancam Pedagang Kaki Lima di Cirebon

Kenaikan harga plastik yang terjadi akibat konflik di kawasan Timur Tengah telah mengakibatkan dampak signifikan terhadap para pedagang kaki lima (PKL) yang bergantung pada bahan baku plastik. Salah satu contohnya adalah para pedagang es di Pasar Pagi Kota Cirebon, yang kini mengalami kesulitan dalam menjaga keuntungan mereka.

Aeni, seorang pedagang es di lokasi tersebut, mengungkapkan bahwa kenaikan harga gelas plastik atau cup telah memaksa dirinya untuk menaikkan harga jual minuman esnya. Ia sempat menaikkan harga dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per cup. Namun, karena protes dari pembeli, ia terpaksa kembali ke harga lama.

“Pembeli pada protes, tidak mau harga (minuman) es naik,” ujar Aeni. Ia menyebutkan bahwa keuntungan yang diperolehnya semakin terkikis karena modal yang harus dikeluarkan meningkat, sementara harga jual tidak berubah.



Warga mencari plastik di salah satu toko plastik. – (/Prayogi)

Sementara itu, Husen, seorang pembeli es, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kenaikan harga yang tiba-tiba. Ia mengatakan bahwa sebelumnya, harga es selalu stabil di Rp 5.000 per cup, dan ia tidak setuju dengan peningkatan harga tersebut.

Upaya Pemerintah dalam Mencari Sumber Alternatif Bahan Baku Plastik

Menyadari adanya gangguan impor bahan baku plastik dari negara-negara di Timur Tengah, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa pemerintah sedang mencari alternatif sumber bahan baku plastik. Hal ini dilakukan guna mencegah dampak lebih lanjut terhadap industri dan masyarakat.

Mendag Budi menjelaskan bahwa nafta, yang merupakan bahan baku utama untuk produksi plastik, saat ini terganggu akibat ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. “Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang kita impor dari Timur Tengah. Apa yang kemudian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti, atau alternatif dari negara lain,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan beberapa negara seperti India, serta pihak-pihak di Afrika dan Amerika untuk mencari pasokan alternatif. Meskipun proses ini membutuhkan waktu, pemerintah berharap dapat mengembalikan kondisi pasar ke normal.



Tumpukan kantong plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. – (/Prayogi)

Dampak Kenaikan Harga Plastik di Berbagai Negara

Kondisi serupa juga terjadi di negara-negara lain, termasuk Singapura, China, Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan. Mendag Budi menekankan bahwa upaya pemerintah tetap berjalan agar produksi dalam negeri tetap stabil dan pasokan plastik tetap terjaga.

Sebelumnya, beberapa negara juga telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi pasokan bahan baku plastik. Contohnya, Korea Selatan melarang ekspor nafta mulai berlaku pada Jumat (27/3/2026), sebagai bagian dari upaya untuk menjaga ketersediaan dalam negeri.

Tantangan bagi Pelaku Usaha Kecil

Para pelaku usaha kecil seperti Aeni dan Husen menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga plastik. Mereka tidak hanya kesulitan dalam menjaga keuntungan, tetapi juga menghadapi reaksi dari konsumen yang tidak ingin membayar lebih mahal.

Dengan situasi ini, para pedagang dan pembeli saling bertemu dalam keadaan sulit. Para pedagang berharap bisa segera menemukan solusi, sementara konsumen berharap harga tetap stabil.

Pemerintah dan pelaku industri terus berupaya mencari jalan keluar agar keadaan ini tidak terus berlanjut. Dengan dukungan dari berbagai pihak, harapan besar diarahkan pada kembalinya stabilitas harga dan pasokan bahan baku plastik.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *