Peristiwa Meninggalnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon Menggemparkan Negeri
Insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian di wilayah Bani Hayyan, Lebanon, telah menjadi perhatian serius bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kejadian ini terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam, yaitu pada Minggu (29/3/2026) dan Senin (30/3/2026). Tiga prajurit yang gugur adalah Praka Farizal Romadhon (33), Kapten Infanteri Zulmi (Grup 2 Kopassus) yang menjabat sebagai Komandan Kompi B, serta Sersan Satu Ikhwan (Kesdam IX Udayana). Mereka merupakan bagian dari Kontingen Garuda United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Peristiwa ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak di Indonesia, termasuk para tokoh dan partai politik. Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengecam serangan militer Israel di wilayah Lebanon Selatan. Ia menuntut agar eskalasi militer segera dihentikan dan menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya prajurit TNI.
Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, juga turut mengecam serangan tersebut melalui akun Instagram pribadinya. Ia menyampaikan bela sungkawa atas gugurnya Praka Farizal Romadhon, yang merupakan sosok prajurit sejati yang telah mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan negara.
Dave Laksono, Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Partai Golkar, meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap keberadaan pasukan perdamaian Indonesia di wilayah konflik. Menurutnya, insiden ini harus menjadi momentum untuk mengevaluasi efektivitas keberadaan pasukan TNI dalam misi perdamaian di Lebanon.
Anggota DPR Fraksi PDIP, Yulius Setiarto, juga mengecam serangan Israel yang menyebabkan gugurnya prajurit TNI. Ia menekankan bahwa prajurit Indonesia yang berada di wilayah konflik bukan pihak yang berperang, melainkan menjalankan mandat internasional dalam misi UNIFIL.
Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan (DPP PDIP) mengutuk keras serangan terhadap personel perdamaian PBB. PDIP mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil peran kepemimpinan diplomatik global dalam memperkuat perlindungan pasukan internasional. Partai berlambang banteng moncong putih ini juga memberikan dukungan penuh bagi UNIFIL untuk melakukan investigasi independen secara transparan.
PDI Perjuangan juga mengusulkan kepada negara agar memberikan penghargaan setinggi-tingginya berupa kenaikan pangkat anumerta, jaminan hari tua, serta menjamin masa depan pendidikan anak almarhum. Partai ini juga akan ikut bergerak secara gotong royong memberikan bantuan langsung kepada keluarga korban, termasuk pemberian santunan rumah maupun beasiswa bagi anak korban.
Insiden di Lebanon yang menewaskan tiga prajurit TNI juga menjadi perhatian serius nasional di tengah eskalasi konflik di Lebanon. Hal ini menyoroti pentingnya keselamatan prajurit di wilayah konflik. Pihak UNIFIL sedang melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut.
Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Pernyataan resmi DPP PDIP menyebutkan bahwa setiap tindakan yang mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan personel perdamaian PBB harus ditindak tegas. Serangan ini juga melanggar Resolusi DK PBB 1701.
Di sisi lain, pemerintah tengah fokus pada proses pemulangan jenazah prajurit TNI yang gugur. Para pejabat pemerintah juga telah memerintahkan perwakilan RI di New York untuk mendesak PBB melakukan penyelidikan menyeluruh atas sumber serangan tersebut.
Terkait dengan insiden yang terjadi, pihak UNIFIL menyatakan bahwa dua penjaga perdamaian tewas dan dua lainnya terluka akibat ledakan yang menghancurkan kendaraan mereka di Lebanon selatan. Insiden ini menjadi kejadian fatal kedua dalam 24 jam terakhir.
Seluruh rakyat Indonesia merasa prihatin atas gugurnya prajurit TNI yang sedang menjalankan tugas perdamaian dunia. Mereka berada di sana membawa nama Indonesia dan membawa mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjaga stabilitas kawasan.











