Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Daerah  

Viral: 33 Tahun Mencari, Wanita Temukan Adiknya Akibat Sepotong Roti

Kisah Haru Seorang Wanita di Tiongkok yang Menemukan Adiknya Setelah 33 Tahun Terpisah

Seorang wanita di Tiongkok akhirnya menemukan kembali adik laki-lakinya yang hilang selama 33 tahun, hanya berbekal satu foto masa kecil. Pertemuan yang dinantikan selama puluhan tahun itu berlangsung penuh air mata dan haru.

Kisah ini dialami oleh Li Lin (44), warga Xiantao, Provinsi Hubei, yang terpisah dari adiknya, Li Xin, sejak masih anak-anak akibat kondisi keluarga yang tragis. Keduanya menjadi yatim piatu setelah ibu mereka meninggal dunia karena kanker. Sementara itu, sang ayah dilaporkan mengalami gangguan mental, meninggalkan rumah, dan tidak pernah kembali.

Dalam kondisi hidup serba kekurangan, kakak beradik tersebut harus bertahan hidup dengan mengais sisa makanan di jalanan. Mereka menjalani hari-hari penuh ketidakpastian tanpa perlindungan orangtua.

Peristiwa yang mengubah hidup mereka terjadi saat Li Lin berusia 11 tahun dan Li Xin berusia 7 tahun. Saat itu, keduanya berlindung dari hujan di belakang sebuah truk dan tanpa disadari terbawa hingga ke kota lain. Dalam keadaan tersesat dan kelaparan, mereka kemudian didatangi seorang wanita tua yang menawarkan roti kepada Li Xin.

Mengira akan mendapat pertolongan, Li Lin mengizinkan adiknya pergi bersama wanita tersebut. Namun keputusan itu menjadi awal perpisahan panjang. Li Xin tidak pernah kembali.

“Adik saya diculik saat berada dalam tanggung jawab saya. Rasa bersalah itu saya bawa seumur hidup,” ujar Li Lin mengenang kejadian tersebut.

Setelah diculik, Li Xin menjalani masa kecil yang penuh penderitaan. Ia mengaku sempat mencoba melarikan diri untuk mencari kakaknya, tetapi tertangkap oleh pelaku perdagangan manusia. Selama dalam penyekapan, ia mengalami kekerasan fisik, kelaparan, hingga dikurung di ruangan gelap. Setelah beberapa waktu, ia akhirnya berhasil melarikan diri.

Li Xin kemudian bertahan hidup dengan mengemis dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya tiba di Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan. Di sana, ia diadopsi oleh sebuah keluarga dan diberi nama keluarga Han. Meski telah memiliki kehidupan baru, ia mengaku tidak pernah melupakan masa lalunya.

“Di dalam hati, saya selalu tahu saya punya kakak perempuan dan saya tidak pernah berhenti mencarinya,” ujarnya.

Di sisi lain, Li Lin tidak pernah menyerah dalam pencarian. Selama lebih dari tiga dekade, ia berpindah dari satu kota ke kota lain, melakukan berbagai pekerjaan serabutan demi membiayai upayanya menemukan sang adik. Ia pernah bekerja sebagai buruh angkut di proyek bangunan, mencuci piring di restoran, hingga menjadi pekerja pabrik. Semua dilakukan demi satu tujuan: menemukan kembali keluarganya.

Tanpa akses data DNA orang tua, satu-satunya petunjuk yang dimiliki Li Lin hanyalah foto lama sang adik. Ia pun menyebarkan puluhan ribu selebaran orang hilang ke berbagai wilayah di Tiongkok. Tak hanya itu, ia juga menghabiskan hampir satu juta yuan untuk biaya pencarian selama bertahun-tahun.

Harapan akhirnya datang pada 2026. Seorang petugas polisi di Provinsi Jiangxi menggunakan teknologi pengenalan wajah dan menemukan seorang pria bermarga Han di Guangdong yang memiliki kemiripan dengan foto lama Li Xin. Setelah dilakukan pengujian DNA, hasilnya mengonfirmasi bahwa pria tersebut memang Li Xin, adik yang selama ini dicari Li Lin.

Keduanya akhirnya dipertemukan kembali pada 23 Maret 2026 di sebuah kantor polisi di Jiangxi. Moment pertemuan itu berlangsung emosional, dengan keduanya saling berpelukan erat sambil menangis. Sebagai simbol penyesalan yang ia pendam selama 33 tahun, Li Lin membawa kantong berisi roti untuk sang adik—mengingat peristiwa yang memisahkan mereka dulu bermula dari sepotong roti.

Pertemuan tersebut sekaligus menutup perjalanan panjang penuh luka, harapan, dan keteguhan hati seorang kakak yang tak pernah berhenti mencari adiknya.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *