Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Cara kerja, sifat, dan dampak bom curah yang dituduhkan Iran oleh Israel

Serangan Rudal Iran dan Respons Israel yang Memicu Ketegangan di Kawasan

Berdasarkan laporan dari petugas medis Israel, 15 orang dilaporkan terluka akibat serangan rudal Iran di kota pesisir Tel Aviv pada hari Rabu (25/3/2026). Serangan ini merupakan balasan terhadap sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv dan Safad. Sebelumnya, Israel juga melancarkan serangan ke Teheran yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 28 lainnya di wilayah permukiman.

Pada akhir pekan lalu, lebih dari 100 orang terluka akibat serangan rudal Iran terhadap kota-kota gurun di selatan Israel, yaitu Dimona dan Arad, dengan banyak korban dalam kondisi kritis. Menurut juru bicara militer Israel, Iran menggunakan bom curah dalam serangan tersebut. Sebuah rudal yang membawa amunisi klaster meledak di udara di atas sasaran dan menyebarkan banyak unit amunisi kecil, yang juga disebut bomblet, ke area yang luas. Proyektil semacam ini sulit untuk ditangkis.

Menurut data militer Israel, dampak dari senjata jenis ini dapat menjangkau hingga 10 kilometer. Di sisi lain, Israel juga meningkatkan serangannya terhadap Iran. Militer Israel mengumumkan serangkaian serangan besar-besaran baru terhadap fasilitas pemerintah. Tak lama setelah itu, dilaporkan terjadi ledakan hebat di Teheran.

Cara Kerja dan Karakteristik Bom Curah

Bom curah, atau yang dikenal juga dengan sebutan bom cluster, munisi tandan, atau cluster munitions, adalah jenis bom yang di dalamnya berisi puluhan hingga ratusan bom kecil (submunisi). Ketika dilepaskan dari pesawat atau ditembakkan dari darat/laut, bom ini akan pecah di udara dan menyebarkan bom-bom kecil tersebut ke area yang sangat luas. Begitu juga halnya jika rudalnya dicegat di langit, maka bom curah akan menyembur ke berbagai penjuru.

Senjata ini dirancang untuk menghancurkan target yang tersebar, seperti konvoi kendaraan militer, landasan pacu, atau konsentrasi pasukan musuh. Bom curah dianggap sangat berbahaya dan kontroversial karena dua alasan utama. Pertama, sifat yang tidak pandang bulu karena penyebarannya yang luas. Bom ini sulit diarahkan secara presisi dan berisiko tinggi mengenai warga sipil jika digunakan di dekat pemukiman. Kedua, bahaya jangan panjang, karena banyak bom kecil yang tidak meledak saat menyentuh tanah (menjadi “melempem”). Submunisi ini tertimbun dan berfungsi layaknya ranjau darat yang sewaktu-waktu bisa meledak dan membahayakan warga sipil, bahkan bertahun-tahun setelah konflik berakhir.

Karena dampak kemanusiaan yang buruk, lebih dari 100 negara telah menandatangani Konvensi Munisi Tandan (Convention on Cluster Munitions) yang melarang penggunaan, produksi, dan transfer senjata ini. Meski demikian, beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina belum menandatangani perjanjian tersebut.

Serangan Terhadap Negara-Negara Teluk

Situasi di negara-negara Teluk juga semakin memanas. Menurut Kementerian Pertahanan Arab Saudi, dua proyektil terdeteksi menuju ibu kota Riyadh. Satu di antaranya berhasil ditembak jatuh, sedangkan yang lain jatuh di daerah tak berpenghuni. Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa pasukannya “saat ini sedang menanggapi ancaman rudal dan nirawak yang datang dari Iran”. Beberapa jam sebelumnya, pihak berwenang di Abu Dhabi melaporkan seorang warga negara India terluka akibat puing-puing rudal jelajah yang ditembak jatuh.

Di Bahrain, sirene peringatan udara terdengar. Kementerian Dalam Negeri meminta masyarakatnya untuk “tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat”. Sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari dengan serangan udara, rezim di Teheran merespons dengan serangan rudal dan nirawak terhadap Israel, beberapa negara Teluk, dan fasilitas AS di kawasan tersebut. Selain itu, terjadi serangan terhadap fasilitas minyak di berbagai negara di kawasan Teluk serta kapal tanker minyak.

Menurut data resmi Iran, sejak dimulainya perang pada akhir Februari, lebih dari 1.500 orang tewas dan sekitar 21.000 lainnya terluka.

Ancaman Trump, Menunda Menyerang Fasilitas Energi

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak akan menyerang fasilitas energi Iran selama lima hari ke depan. Alasannya: ada pembicaraan yang “sangat baik dan konstruktif” dengan Iran untuk menghentikan pertempuran. Trump lebih lanjut menjelaskan pembicaraan dengan Iran tersebut terkait dengan “penyelesaian penuh dan final dari aksi-aksi militer Amerika Serikat.”

Trump telah memerintahkan Departemen Pertahanan AS untuk menangguhkan serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, seperti yang diungkapnya pada platform Truth Social. Namun, Iran membantah pernyataan Trump bahwa negosiasi antara Teheran dan Washington sedang berlangsung. Tidak ada kontak langsung dengan Trump, bahkan melalui perantara, demikian yang dilaporkan kantor berita pro garda revolusi Iran, Fars dan Tasnim.

Sebelumnya, di akhir pekan lalu, Presiden Trump juga mendesak para pemimpin di Teheran untuk membuka Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman bagi lalu lintas kapal dalam waktu 48 jam. Jika tidak, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, “dimulai dari yang terbesar,” kata Trump dalam sebuah postingan di media sosial. Kemudian, Iran merespons dengan ancaman balasan, “Jika kalian menyerang pembangkit listrik, kami juga akan menyerang pembangkit listrik,” demikian bunyi pernyataan Korps Garda Revolusi Iran dengan turut menyebut pembangkit listrik Israel dan fasilitas-fasilitas yang memasok listrik ke pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk.

Garda Revolusi turut menyatakan lewat stasiun televisi pemerintah IRIB bahwa Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya jika AS menyerang pembangkit listrik Iran. Selat baru akan dibuka kembali jika fasilitas yang hancur telah kembali dibangun.

Pahlavi: Runtuhkan Rezim, Lindungi Iran

Di sisi lain, Reza Pahlavi, putra mahkota penguasa monarki terakhir Iran yang diasingkan dan kini menetap di AS, menyerukan kepada Trump agar mempertimbangkan kembali ancamannya terhadap pembangkit listrik Iran dan mengecualikan infrastruktur sipil di Iran dari serangan. Sebaiknya Presiden AS diminta fokus melawan struktur kekuasaan Republik Islam, tidak menyerang fasilitas yang sangat penting bagi penduduk yang kemungkinan rekonstruksinya setelah perang sulit dipastikan.

“Rezim harus dihancurkan, namun Iran sendiri harus tetap dilindungi,” kata Pahlavi. Di ibu kota Iran, Teheran, yang berpenduduk 9.6 juta penduduk terserbut, beban akibat perang semakin meningkat. Serangan udara dari Israel dan ledakan hebat dilaporkan terjadi di beberapa distrik kota. Reporter stasiun televisi Arab “Al Jazeera” melaporkan ledakan yang “belum pernah terjadi sebelumnya”, terutama di kawasan timur Teheran. Sistem pertahanan udara dilaporkan beroperasi tanpa henti.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *