Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Asaki: Kenaikan Harga Gas dan Impor Tekan Industri Keramik 2026



Tantangan Industri Keramik Nasional di Tengah Kenaikan Harga Gas dan Ancaman Impor

Pada awal tahun 2026, industri keramik nasional kembali menghadapi berbagai tantangan. Meskipun pada tahun sebelumnya, industri ini berhasil mencatat pertumbuhan kinerja yang positif, situasi saat ini menunjukkan tekanan signifikan dari berbagai faktor eksternal dan internal.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyampaikan beberapa isu utama yang memengaruhi operasional industri. Salah satunya adalah gangguan pasokan gas industri, terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, menjelaskan bahwa gangguan pasokan gas ini langsung berdampak pada operasional pabrik dan tingkat produktivitas industri.

Akibat dari gangguan tersebut, sejumlah perusahaan keramik di Jawa Timur terpaksa menghentikan produksi selama sekitar satu minggu. Selain itu, penurunan Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) serta kenaikan harga surcharge gas juga menjadi masalah serius.

Edy menjelaskan bahwa rata-rata AGIT di Jawa Barat pada 2025 berada di level 67%, turun dari 79% pada tahun 2024. Pada Februari 2026, AGIT di Jawa Barat hanya mencapai 49%. Sementara itu, di Jawa Timur, rata-rata AGIT hanya sekitar 51%. Penurunan ini berdampak pada kenaikan harga gas yang mencapai US$ 10 – US$ 10,5 per million British Thermal Unit (MMBTU) di Jawa Barat, dan sekitar US$ 8 per MMBTU di Jawa Timur.

Menurut Edy, kondisi suplai gas dengan AGIT 50% – 55% tidak sesuai dengan tujuan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Harga gas aktual yang dibayar oleh industri jauh lebih tinggi dari HGBT yang tercantum dalam Kepmen ESDM No.76K/2025.

Akibatnya, porsi biaya energi dalam struktur biaya produksi meningkat tajam menjadi 33% – 35%. Sebagai perbandingan, saat kebijakan HGBT mulai diterapkan pada 2021, biaya energi bisa ditekan hingga 25% – 27%.

Langkah Strategis yang Diperlukan

Asaki meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis guna melindungi industri keramik nasional. Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah menerapkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) gas bumi. DMO ini dimaksudkan untuk memprioritaskan penggunaan gas bumi bagi industri manufaktur nasional.

Edy menegaskan bahwa gas bumi seharusnya digunakan untuk kebutuhan industri dalam negeri yang memiliki multiplier effect besar, seperti penyerapan tenaga kerja dan mendorong investasi baru. Ia menilai bahwa kepastian pasokan dan harga gas yang terjangkau sangat penting bagi daya saing industri keramik nasional.

Selain itu, ancaman impor dari China dan India kembali menghantui produsen lokal. Edy mengaitkan hal ini dengan gejolak di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran, AS, dan Israel. Potensi pengalihan ekspor keramik dari China dan India ke Indonesia akibat gangguan pasar utama mereka di kawasan tersebut menjadi ancaman serius.

Pengaruh Biaya Produksi dan Rupiah yang Melemah

Biaya produksi yang meningkat juga menjadi faktor lain yang memengaruhi kinerja industri. Edy menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memengaruhi biaya pembayaran gas kepada pemasok utama, yaitu PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Kombinasi dari berbagai faktor ini telah berdampak pada tingkat utilisasi produksi industri keramik. Asaki mencatat bahwa rata-rata utilisasi produksi hingga akhir kuartal I-2026 berada di bawah ekspektasi, hanya sekitar 70% – 72%. Angka ini masih di bawah target Asaki sebesar 80% pada 2026.

Outlook dan Target Industri Keramik Nasional

Sebelumnya, Asaki telah menyusun outlook dan roadmap pengembangan industri keramik dengan pendekatan optimis. Target utilisasi produksi keramik nasional diharapkan terus meningkat dari 73% pada 2025 menjadi 80% pada 2026. Pada 2027, target utilisasi akan naik menjadi 85%, dan pada 2028, target di atas 90% akan diperjuangkan.

Selain itu, kapasitas produksi industri keramik nasional juga akan meningkat. Pada 2025, kapasitas produksi mencapai 650 juta meter². Pada 2026, kapasitas terpasang akan bertambah sekitar 4% menjadi 672 juta meter². Dua tahun ke depan, kapasitas produksi diharapkan meningkat menjadi 701 juta meter², sehingga memperkuat posisi industri keramik Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar di dunia.

Peran Pemerintah dan Peluang Pasar

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri keramik bersifat siklikal dan sangat dipengaruhi oleh dinamika makro ekonomi, khususnya dari sektor properti dan konstruksi. Saat ini, Indonesia memiliki 36 perusahaan keramik dengan total kapasitas terpasang sebesar 650 juta m².

Rata-rata konsumsi keramik di Indonesia masih rendah, hanya sekitar 2,5 m² per kapita. Angka ini masih di bawah rata-rata regional Asia Tenggara dan negara produsen utama seperti China. Menurut Agus, data ini menunjukkan potensi pasar domestik yang sangat besar, sekaligus peluang ekspansi bagi industri keramik.

Dengan kinerja yang terus meningkat, pemerintah optimis bahwa misi menjadikan sektor keramik naik ke posisi keempat dunia bisa segera tercapai.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *