Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Disebut Tewas Dampak Rudal Iran, Netanyahu Muncul Beri Pesan Perang

Peristiwa Penting di Timur Tengah

Pada hari Kamis (12/3/2026) malam, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba-tiba muncul dalam sebuah video yang disiarkan secara langsung. Ia menghadapi isu yang menyebut dirinya tewas akibat serangan rudal Iran. Dalam pidatonya, Netanyahu membantah berita tersebut dan menegaskan bahwa Iran telah mengalami pukulan besar dari serangan AS-Israel.

Netanyahu menyatakan bahwa tujuan utama Israel adalah menghentikan proyek nuklir serta rudal balistik Iran. Ia juga mengklaim bahwa pasukan elite Iran telah terpuruk setelah hampir dua minggu digempur oleh pasukan AS dan Israel. Dalam sesi konferensi persnya, ia menjawab beberapa pertanyaan wartawan melalui tautan video.

Selain itu, Netanyahu mengaku terus berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang perkembangan konflik di kawasan. Ia menegaskan bahwa Israel akan terus melakukan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, terutama setelah kelompok tersebut melepaskan tembakan pada 2 Maret 2026.

Ancaman Terhadap Pemimpin Iran

Ketika ditanya mengenai kemungkinan pendudukan militer Israel di wilayah Lebanon, Netanyahu mengatakan bahwa ia sudah menyampaikan pesan langsung kepada pemerintah Lebanon. Ia menegaskan bahwa Israel akan menuntut harga yang mahal dari Hizbullah dan berharap pemerintah Lebanon mendukungnya.

Netanyahu juga menyampaikan ancaman terhadap Mojtaba Khamenei dan pemimpin Hizbullah Naim Qassem. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan memberikan polis asuransi jiwa untuk mereka dan tidak bermaksud memberikan pesan pasti tentang apa yang akan dilakukannya.

Situasi Politik di Iran

Netanyahu menyinggung situasi politik di Iran, meski tidak menjelaskan apakah Israel mempersenjatai demonstran di negara tersebut. Ia menyatakan bahwa perubahan politik di Iran tetap bergantung pada rakyatnya sendiri. “Kita dapat menciptakan kondisi untuk perubahan rezim, tetapi terserah kepada rakyat Iran untuk turun ke jalan,” ujarnya.

Kemunculan Netanyahu ini hampir bersamaan dengan pernyataan perdana Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei di Teheran. Di saat yang sama, situasi keamanan di Israel dilaporkan kembali memanas. Menurut laporan kantor berita Rusia Tass, ketika Netanyahu memberikan keterangan pers, wilayah Israel justru sedang dihujani rudal Iran. Sirene peringatan serangan udara terdengar di sejumlah wilayah, termasuk Tel Aviv.

Mojtaba Bersumpah Balas Dendam

Terpisah, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, mengungkap bahwa ia bersumpah bahwa Iran tidak akan berhenti membalas dendam atas darah para syuhada. “Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para syuhada Anda,” katanya.

Dalam pernyataannya, Mojtaba menyatakan bahwa pembalasan yang dimaksud tidak hanya terkait dengan wafatnya Pemimpin Revolusi, melainkan setiap anggota bangsa yang gugur sebagai syuhada. Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus membalas dendam tanpa menghiraukan tanda apa pun yang dihapus atau dilupakan.

Serangan Iran Terhadap Israel

Tidak lama setelah pernyataan Mojtaba Khamenei tersiar, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peluncuran gelombang ke-41 Operasi Janji Sejati 4 terhadap target di wilayah pendudukan Israel. Dalam pernyataannya, IRGC mengumumkan bahwa gelombang operasi ini diluncurkan dengan nama sandi “ke al-Quds yang Suci”, karena dilakukan menjelang Hari Quds Internasional.

Serangan itu menargetkan sasaran-sasaran Zionis-Amerika di Tel Aviv dan al-Quds yang diduduki, serta pangkalan-pangkalan tentara teroris Amerika di wilayah tersebut. IRGC menyatakan bahwa operasi tersebut dilaksanakan dengan menembakkan lebih dari 10 rudal Khorramshahr yang berat dan tangguh dengan kemampuan hulu ledak ganda, rudal Qadr dengan kemampuan hulu ledak ganda, rudal Kheybar Shekan dengan hulu ledak seberat satu ton, rudal hipersonik Fattah dengan hulu ledak seberat satu ton, dan drone penghancur.

Penolakan Gencatan Senjata AS

Iran menolak usulan gencatan senjata dari AS. Pemerintah Iran secara resmi menolak dua pesan dari utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, yang meminta pemberlakuan gencatan senjata. Iran menilai posisi mereka saat ini tidak sedang kalah dan meyakini bahwa Trump justru tengah menghadapi tekanan politik domestik yang besar.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa klaim kemenangan sepihak dari Washington tidak serta-merta menghentikan peperangan. Iran menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata yang bersifat sementara.

Blokade Selat Hormuz

Di tengah desakan internasional, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan ancaman serius terkait Selat Hormuz, jalur krusial yang melayani 20 persen pasokan minyak dan gas global. IRGC memperingatkan akan memblokir setiap kapal yang memiliki kaitan dengan negara-negara agresor.

Meskipun demikian, IRGC memberikan pengecualian bagi kapal-kapal dari negara yang masih menjalin hubungan diplomatik dengan mengirimkan duta besar ke Amerika Serikat dan Israel.

Tekanan Internasional di PBB

Posisi Iran kian terjepit secara diplomasi di tingkat global. Pada Rabu (11/3/2026), Dewan Keamanan PBB dijadwalkan membahas resolusi yang diajukan Bahrain. Lebih dari 80 negara dilaporkan mendukung resolusi yang mengecam serangan Iran terhadap negara-negara Teluk.

Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menutup pintu negosiasi dengan menyatakan bahwa Iran akan membalas setiap serangan secara instan dan proporsional. “Kami sama sekali tidak mencari gencatan senjata. Biarkan musuh tahu bahwa apa pun yang mereka lakukan, pasti akan ada pencapaian yang proporsional dan segera. Kami berjuang habis-habisan,” tulis Ghalibaf melalui media sosialnya.

Hingga saat ini, meskipun ada jalur komunikasi dengan beberapa negara mediator, faksi garis keras di Teheran tampaknya lebih memilih konfrontasi terbuka ketimbang menerima tawaran gencatan senjata dari pemerintahan Trump.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *