Perjalanan Kriken: Dari Ide Sederhana Hingga Bisnis Sukses
Fifin Suprianti, seorang perempuan yang dulunya bekerja sebagai bankir, memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut demi mengejar mimpi bisnis keripik kentang. Pada tahun 2019, dia dan suaminya mengambil keputusan besar dengan mengundurkan diri dari pekerjaan mereka untuk memulai bisnis keripik kentang bernama ‘Kriken’. Keputusan ini diambil karena keinginan untuk menciptakan makanan yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga, termasuk anak-anak mereka.
Perjalanan bisnis Fifin dimulai dari dapur rumahnya sendiri. Dengan hanya bermodalkan keyakinan bahwa keripik kentang yang mereka buat akan disukai banyak orang, mereka mulai memproduksi dalam skala yang lebih besar. Awalnya, pesanan datang dari orang-orang terdekat, namun Fifin tidak puas hanya menunggu konsumen datang. Dia aktif mengikuti berbagai acara pengajian dan bahkan membawa sekotak keripik kentang sebagai tester kepada kenalan baru.
Strategi Pemasaran yang Kreatif
Fifin menyadari bahwa keripik kentang sering dianggap sebagai camilan “kuno” yang identik dengan orang tua. Namun, ia percaya bahwa rasanya enak dan bisa dinikmati semua usia. Untuk memperluas pasar, dia memutuskan untuk menggandeng anak-anak muda dalam pemasarannya. Misalnya, keponakannya yang saat itu masih mahasiswa diajak untuk menjual Kriken di tempat-tempat ramai seperti Merdeka Walk.
Selain itu, Fifin juga menjelajahi berbagai tempat keramaian seperti taman kota atau taman terbuka hijau sebagai target pasar. Bahkan, ia sering berobat ke rumah sakit-rumah sakit besar untuk menawarkan tester Kriken kepada calon konsumen. Tindakan ini sempat terhenti saat pandemi mewabah, namun Fifin tidak menyerah. Ia mengubah strategi dengan memberikan puluhan bungkus keripik kentang ke rumah sakit sebagai penyemangat bagi tenaga kesehatan.
Pertumbuhan Bisnis yang Pesat
Usaha keras Fifin tak sia-sia. Saat ini, ribuan bungkus Kriken kemasan 230 gram seharga Rp30.000 per bungkus berhasil terjual setiap bulan, baik secara offline maupun online melalui marketplace. Pesanan berdatangan hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk dari para pejabat dan instansi/lembaga yang sering memesan dalam jumlah besar. Bahkan, data pasti tentang reseller Kriken tidak lagi dapat dipertahankan karena permintaan yang sangat tinggi.
Kegigihan Fifin membuat Kriken diterima menjadi mitra sejumlah instansi/lembaga. Kesempatan mengikuti pameran pun dimanfaatkannya, hingga akhirnya Kriken mampu berpameran di Penang Malaysia.
Produksi yang Berkembang
Dari awal produksi dengan 30 kilogram (kg) kentang, kini Fifin mengklaim bahwa sebanyak 800 kg kentang rutin dipasok distributor dari ‘Tanah Karo’ setiap minggu ke dapur produksi Kriken di Jalan Perwira No.50 Kecamatan Medan Sunggal. Selain itu, kini dia memiliki enam orang pekerja di dapur yang merupakan warga sekitar komplek.

Fifin Suprianti, owner Kriken berpose di depan produk keripik kentang yang siap jual di rumah produksinya./ Delfi Rismayeti
Makna Nama Kriken yang Menarik
Selain sebagai singkatan dari keripik kentang, nama Kriken juga memiliki makna lain. Dari pertemuannya dengan petani-petani kentang di Berastagi Kabupaten Karo Sumut, Fifin mengetahui bahwa kata “kriken” dalam Bahasa Karo artinya “habiskan”. Makna ini selalu ia bawa setiap kali mengenalkan Kriken terutama di pameran-pameran. Hal ini menjadi bagian penting dari identitas merek Kriken yang semakin dikenal dan dicintai oleh masyarakat.











