Perang AS-Israel Terhadap Iran: Dampak Global dan Kesiapan Indonesia
Pada hari Sabtu (28/2/2026), Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan militer terhadap Iran, yang berdampak signifikan pada situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Salah satu akibatnya adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Konflik ini memicu kekhawatiran besar di pasar komoditas global dan menunjukkan bahwa posisi geografis Iran sangat strategis.
Posisi Geografis Iran yang Strategis
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa lokasi Iran berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman, sehingga membuatnya menjadi jalur penting dalam perdagangan global. Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, merupakan salah satu jalur laut paling penting di dunia. Sekitar 20% produksi minyak global melintasi jalur ini, sehingga jika jalur tersebut ditutup, akan berdampak besar pada pasokan minyak global dan menyebabkan kenaikan harga minyak serta gangguan ekonomi global.
Selain itu, Bab el-Mandeb yang terletak antara Yaman dan Djibouti juga merupakan jalur laut penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Dengan demikian, Iran memiliki kemampuan untuk mempengaruhi ekonomi global melalui posisi geografisnya, tanpa perlu memiliki senjata nuklir.
Dampak Ekonomi Global
Rahma menekankan bahwa Selat Hormuz bukan sekedar jalur perairan biasa, melainkan titik cekik ekonomi dunia. Meski luasnya hanya 21 mil, hampir 30% minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari melewati jalur ini. Belum lagi ditambah pasokan LNG yang menggerakkan Eropa. Artinya, bahan bakar untuk mobil, pesawat, dan pabrik semuanya bergantung pada jalur tersebut.
Sejarah telah membuktikan bahwa bahkan serangan terbatas saja dapat membuat harga minyak melonjak tajam. Misalnya, pada Perang Tanker tahun 1980-an dan kembali pada tahun 2019, harga minyak melonjak karena kekhawatiran akan terhambatnya pasokan minyak.
Proyeksi Harga Minyak dan Pasar Global
Ekonom dari Bright Institute, Yanuar Rizky, mengatakan bahwa bulan Maret biasanya mengalami koreksi karena re-balancing portofolio hedge fund. Dia menambahkan bahwa banyak outlook tentang rebalancing (market allocation) dari portofolio di Maret – Mei mengaitkan harga minyak sebagai key variable yang akan mendorong koreksi di global equity market, baik ke level moderat sampai crash.
Yanuar menyebutkan bahwa asumsi outlook rebalancing keluar sebelum adanya serangan ke Iran, dengan skenario harga minyak (WTI) di bawah US$ 65 per barel, harga di range US$ 65 – US$ 70 per barel, dan harga di atas US$ 70 per barel. Dengan kondisi krisis di Iran saat ini, Yanuar melihat kemungkinan harga minyak WTI akan ke skenario moderat di level US$ 65 – US$ 70 per barel, atau scenario crash dengan harga minyak WTI di atas US$ 70 per barel.
Jika reli di atas US$ 70 pada Maret – Mei, kemungkinan akan membuat bursa saham dan surat utang pemerintah terkoreksi tajam. Jika di US$ 65 – US$ 70, kemungkinan dalam posisi inflasi yang naik, tapi juga tertahan daya beli konsumen energi, sehingga volatilitas saham dan yield akan meningkat.
Dampak pada Emas dan Komoditas Lainnya
Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi menandai babak baru memanasnya geopolitik di Timur Tengah. Ini juga sekaligus dapat memicu kekhawatiran besar pada sejumlah komoditas global. Multiplier effect serangan ini tidak hanya berdampak pada harga komoditas minyak global, tetapi juga dapat mendongkrak harga emas dunia.
“Ini kemungkinan besar harga emas akan naik,” ujar Ibrahim. Jika perang terus berkecamuk, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia akan berada di level US$ 6.000 per troi ons pada akhir kuartal I – 2026. Sedangkan harga emas Antam berpotensi mencapai Rp 3,5 juta per gram. Sementara harga minyak WTI diproyeksikan mencapai US$ 80 per barel pada akhir kuartal I – 2026.
Dampak pada Indonesia
Rahma menjelaskan potensi dampak perang AS – Iran terhadap Indonesia. Pertama, jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak global bisa melonjak, sehingga meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia. Hal ini bisa memaksa pemerintah untuk merealokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial.
Kedua, pelemahan rupiah bisa semakin dalam, bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut akan memicu inflasi barang impor karena banyak bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri.
Ketiga, instabilitas di Timur Tengah bisa memicu gerakan radikal transnasional, dan sentimen anti-Barat yang meningkat bisa dimanfaatkan oleh aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali sel-sel tidur di Asia Tenggara.
Langkah yang Perlu Dilakukan Indonesia
Rahma mendorong pemerintah memperkuat fondasi ekonomi untuk fokus pada pembangunan ekonomi dalam negeri, terutama sektor energi. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan menghadapi fluktuasi harga minyak dunia. Diversifikasi energi dapat meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.
Indonesia juga dapat mendorong diplomasi aktif yaitu meningkatkan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan organisasi internasional untuk mendorong penyelesaian damai konflik. Penguatan keamanan siber dan intelijen untuk mengantisipasi ancaman radikalisasi dan terorisme juga perlu dilakukan.
Rahma menyebut, situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini sangat kompleks dan tidak stabil. Konflik antara Iran dan Israel saja telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketegangan di kawasan. Apalagi Amerika sekarang terang-terangan mengancam Iran dengan serangannya.
“Indonesia perlu mengambil langkah-langkah untuk menghadapi dampak ekonomi dan keamanan dari konflik ini,” pungkas Rahma.











