Pemimpin Tertinggi Iran Tewas dalam Serangan Udara
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan bahwa serangan udara terhadap Iran akan terus dilakukan tanpa batas waktu selama dianggap perlu untuk mencapai perdamaian dunia. Pernyataan ini muncul di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas setelah Trump mengonfirmasi tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dalam rangkaian serangan udara besar-besaran.
Kematian Khamenei menandai akhir dari 36 tahun kekuasaannya sebagai pemimpin Iran sejak 1989. Trump mengumumkan kematian tersebut melalui platform media sosial Truth Social, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lebih dahulu mengungkapkan klaim serupa. Dalam pernyataannya, Trump menyebut situasi ini sebagai momentum besar bagi rakyat Iran dan menggambarkan bahwa moral aparat keamanan Iran mulai runtuh.
Operasi Militer Gabungan AS-Israel
Operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel yang diberi nama Operation Epic Fury dilaporkan dimulai pada pukul 01.15 dini hari waktu setempat. Serangan udara tersebut menyasar berbagai target strategis, termasuk pusat komando militer, fasilitas peluncuran rudal dan drone, serta infrastruktur militer Iran.
Target utama meliputi fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lapangan udara militer, sistem pertahanan udara, serta infrastruktur peluncuran rudal balistik Iran. Skala serangan ini menandai salah satu operasi militer paling masif dalam sejarah konflik AS–Iran.
Menurut laporan Axios, jasad Khamenei ditemukan di kompleks kediamannya yang hancur akibat serangan Israel. ISW juga mengutip laporan yang menyebut sejumlah tokoh penting Iran turut tewas, termasuk komandan IRGC, menteri pertahanan, kepala intelijen, hingga sekretaris dewan pertahanan.
Korban Sipil dan Balasan Iran
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas dan hampir 750 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan tengah menyelidiki laporan bahwa salah satu serangan menghantam sekolah putri di Iran selatan yang disebut menewaskan lebih dari 80 siswi.
ISW menilai respons Iran terhadap serangan AS dan Israel berlangsung dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Iran dilaporkan telah merespons serangan dengan meluncurkan 35 rudal ke wilayah Israel dan mengirim rudal serta drone ke berbagai pangkalan AS di kawasan Teluk Persia, termasuk Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
Opsi “Jalan Keluar” yang Diungkapkan Trump
Di tengah eskalasi yang terus meningkat, Trump mengungkapkan kepada Axios bahwa ia masih memiliki beberapa opsi yang disebut sebagai “jalan keluar”. Salah satu opsi bahkan membuka kemungkinan serangan tambahan di masa depan.
“Saya bisa melanjutkan lebih lama dan mengambil alih seluruhnya, atau mengakhirinya dalam dua atau tiga hari dan mengatakan kepada Iran, ‘Sampai jumpa lagi dalam beberapa tahun jika Anda mulai membangun kembali program nuklir dan rudal Anda,’” ujarnya.
Trump menegaskan bahwa Iran akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari dampak serangan ini.
Diplomasi Buntu dan Dunia Menunggu
Serangan ini terjadi setelah perundingan antara diplomat AS dan Iran mengenai program nuklir mengalami kebuntuan. Trump bersama anggota parlemen dari kedua partai tetap menentang pengembangan senjata nuklir oleh Iran, tudingan yang selama ini dibantah oleh Teheran.
Dengan situasi yang terus memburuk dan arah konflik yang belum jelas, dunia kini menanti: apakah eskalasi ini akan berujung pada perdamaian seperti yang diklaim Washington, atau justru membuka bab paling berbahaya dalam sejarah konflik global modern.











