Proyek Pembangunan Jalan Manado Outer Ring Road (MORR) III Terus Berjalan
Proyek pembangunan ruas jalan Manado Outer Ring Road (MORR) III kini terus berlanjut. Pembangunan ini mendapat respon positif dari warga sekitar. Mereka berharap pemerintah desa dapat menyiapkan lokasi atau ruang usaha bagi masyarakat di sekitar jalur MORR III.
Proyek tersebut kini telah memasuki tahap IV, dengan anggaran tahun 2026 sebesar Rp 26 miliar. MORR III dinilai membuka peluang baru bagi masyarakat Desa Sea, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Pantauan di lapangan pada Selasa (17/2/2026), pembangunan ruas jalan Manado Outer Ring Road III masih terus berjalan. Ruas jalan ini nantinya menghubungkan Kalasey, Kabupaten Minahasa, dengan Winangun, Kota Manado, dan melintasi wilayah Desa Sea. Desa Sea sendiri berada di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa. Jarak desa ini sekitar 8 kilometer dari pusat Manado, atau sekitar 30 menit perjalanan menggunakan kendaraan roda empat.
Saat ini, Desa Sea juga sedang memasuki tahapan pemilihan calon Hukum Tua atau Kepala Desa. Momentum pembangunan MORR III dinilai berpotensi menjadi salah satu isu penting yang diharapkan bisa ditangkap oleh calon pemimpin desa ke depan.
Sejumlah warga berharap, keberadaan jalan baru tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong perputaran ekonomi desa. Alex, salah satu warga Desa Sea, mengatakan bahwa jika ruas MORR III sudah resmi difungsikan, maka peluang ekonomi bagi masyarakat akan semakin terbuka.
“Kalau jalan ini sudah dibuka dan kendaraan banyak lewat, itu jadi peluang besar bagi desa. Apalagi di Desa Sea penghasil buah pisang. Mungkin bisa dibuat oleh-oleh dalam kemasan supaya bisa menambah pemasukan desa dan masyarakat,” kata Alex.
Selain pengolahan hasil pertanian, warga juga berharap pemerintah desa ke depan dapat menyiapkan lokasi atau ruang usaha bagi masyarakat di sekitar jalur MORR III. Hal itu dikatakan Wendy warga lain. Menurutnya dengan adanya pembinaan bagi pelaku usaha kecil agar produk lokal Desa Sea bisa dikemas lebih menarik dan dipasarkan kepada pengguna jalan yang melintas.
Ia juga berharap pemerintah desa dapat mengatur pemanfaatan ruang di sekitar jalan lingkar tersebut agar tetap tertib, tidak semrawut, dan tidak mengganggu fungsi jalan. “Apalagi banyak juga masyarakat yang berjualan sebagai UMKM, ini bisa jadi peluang untuk mendongkrak mereka,” pungkasnya.
Hasil Hearing BPJN dengan Komisi III DPRD Sulut
Setelah Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) melakukan hearing dengan Komisi III DPRD Sulut, Senin 2 Februari 2026. DPRD Sulut berada di Kairagi Satu, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Proyek MORR tiga yang menghubungkan wilayah Kalasey, Minahasa dan Winangun Manado akan berlanjut tahun ini. Jarak antara wilayah Kalasey Minahasa dan Winangun Manado sekitar 11,39 km. Tentunya jika jalan sudah selesai pengendara bisa mendapat jalan alternatif lain.
Kepala Satuan Kerja PJN Wilayah I Sulawesi Utara, Ringgo Radetyo mengungkapkan, salah satu proyek strategis konektivitas ialah lanjutan pembangunan MORR III. Ruas jalan lingkar ini nantinya menghubungkan Kalasey, Minahasa ke Winangun, Manado.
Menurut Ringgo, saat ini pihaknya menunggu pencairan konsinyasi lahan. Katanya, persoalan pembebasan lahan yang sebelumnya menjadi kendala telah mendapatkan solusi. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkimtan) Sulut telah menyelesaikan proses penyiapan anggaran.
“Saat ini, tahapan telah memasuki proses konsinyasi di pengadilan. Kami sedang menunggu proses pencairan konsinyasi bagi pihak penerima hak atas nama sertifikat yang ada di lokasi tersebut,” kata Ringgo dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPRD Sulawesi Utara, Senin 2 Februari 2026.
Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh pekerjaan yang dilakukan sepanjang tahun 2025 berjalan sesuai target melalui monitoring ketat. “Hal ini menjadi fondasi penting sebelum melangkah ke program kerja tahun 2026 yang menjadi lingkup kewenangan BPJN,” katanya.
Butuh Kolaborasi
Terkait itu, BPJN menekankan bahwa proses pemberkasan terus dipacu. Meskipun ada beberapa persyaratan administrasi yang harus dipenuhi sebelum masuk ke ranah pengadilan, “Ada pemberkasan yang harus dipenuhi, namun kami terus dibantu oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Minahasa dalam proses ini,” katanya.
Dengan kolaborasi, diharapkan proyek strategis di Sulawesi Utara dapat berjalan lancar demi mempercepat pemerataan infrastruktur dan mengurai kemacetan di wilayah penyangga Kota Manado.
Anggaran dan Rincian Proyek
Dalam RDP dengan Komisi III DPRD Sulut pada Oktober 2025 terungkap, pembangunan tahap 4 dan 5 Ring Road III menyisakan 6,3 km jalan. MORR III berawal di Kalasey, tepat di bibir Teluk Manado dan akan berakhir di Winangun, bertemu dengan Ring Road I.
“Biaya pembangunan sesuai DIPA, total Rp 94 miliar untuk multiyears, tiga tahun hingga 2027,” ujar Ringgo. Anggaran rinciannya adalah:
- Tahun 2025: Rp 24 miliar
- Tahun 2026: Rp 26 miliar
- Tahun 2027: Rp 31 miliar
Adapun titik pertemuan antara Ring Road I dan III di Winangun, Manado. Nantinya titik ini akan dibangun Simpang Winangun dan underpass dan underbout yang mempertemukan arus kendaraan dari empat arah, yakni dari Ring Road I, Manado, Tomohon dan Kalasey.
Selain itu, akan ada juga dua jembatan, yakni Pineleng I dan Pineleng II di Ring Road III ini. Satu di antaranya panjangnya hingga 50 meter karena besarnya cekungan daratan yang dilalui.
Adapun proyek ini bersifat multiyears dengan cakupan sampai 2027.
Data Rincian Pembangunan MORR III
Berikut data rangkuman rincian pembangunan MORR III:
MORR 3 Panjang: 11,39 Km.
Tahap I: 1,64 Km dengan Alokasi Anggaran Rp 47,62 Miliar (Selesai 2021)
Tahap II: 1,50 Km dengan Alokasi Anggaran Rp 42,04 Miliar (Selesai 2022)
Tahap III: 1,90 Km dengan Alokasi Anggaran Rp 37,04 Miliar (Selesai 2023)
Tahap IV: 2,60 Km.
– Tahun 2025: 0,5 Km dengan Alokasi Anggaran Rp 24,2 Miliar
– Tahun 2026: 2,1 Km dengan Alokasi Anggaran Rp 26 Miliar (proses)
– Tahun 2027: dianggarkan Rp 31 Miliar
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











