Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Dugaan Pemotongan 30 Persen Dana DPRD Jombang, Santri Marah: Jangan Jadikan Pesantren Korban!

Dugaan Pemotongan Dana Pokir DPRD Jombang Mengundang Kecaman

Pembahasan mengenai dugaan pemotongan dana bantuan pokok pikiran (pokir) yang dilakukan oleh oknum anggota DPRD Jombang, Jawa Timur, telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk kalangan santri dan aktivis pesantren. Isu ini muncul setelah dana pokir sebesar Rp 200 juta yang diperuntukkan bagi perbaikan pondok pesantren kecil di Kecamatan Diwek diduga dipotong hingga 30 persen atau sebesar Rp 60 juta.

Bantuan pokir tersebut awalnya diajukan dalam proposal sebesar Rp 250 juta. Namun, dalam proses pembahasan, hanya Rp 200 juta yang terakomodasi dalam anggaran pokir DPRD Jombang Tahun Anggaran 2026. Meski begitu, kasus pemotongan kembali muncul ketika dana yang disebut telah disetujui ternyata dipotong hingga 30 persen. Artinya, dana yang diterima hanya sekitar Rp 140 juta.

Kritik Terhadap Praktik Pemotongan Dana Pokir

Aan Anshori, aktivis Jaringan Alumni Santri Jombang (JasiJo), menyampaikan kekecewaannya terhadap praktik pemotongan dana pokir tersebut. Ia menegaskan bahwa hal ini sangat berbahaya karena bisa menyeret banyak pihak dalam pusaran hukum. Aan juga mengingatkan para anggota DPRD, bupati, serta lingkaran mereka untuk memastikan tidak ada praktik pemotongan dalam bantuan apapun.

Ia menyoroti kasus dana pokir DPRD Jawa Timur tahun anggaran 2019–2022 yang menyeret banyak pihak dan berujung pada proses hukum di Pengadilan Tipikor Jawa Timur. Menurutnya, kasus ini harus menjadi pelajaran serius bagi DPRD Jombang agar tidak mengulangi kesalahan serupa.

Selain itu, Aan juga mengingatkan para calon penerima hibah, khususnya lembaga keagamaan seperti pesantren, agar tidak tergoda menerima dana pokir yang tidak sesuai ketentuan. Ia menegaskan bahwa penerima bantuan bisa ikut terseret masalah hukum jika mengetahui adanya pemotongan namun tetap menerima dana tersebut.

Penyangkalan dari Anggota DPRD Jombang

Sementara itu, anggota DPRD Jombang dari Fraksi PPP, Junita Erma Zakiyah, membantah adanya pemotongan bantuan pokir 30 persen seperti yang dituduhkan. Ia memastikan seluruh desa penerima bantuan pokir darinya tidak dikenai potongan. “Anda bisa cek mas, seperti di Kwaron, Bulurejo, Balongbesuk, Cukir, Ceweng, itu nol (tanpa potongan),” ujarnya.

Namun, ia mengaku belum bisa memastikan sosok LK dari Desa Kayangan, karena dalam satu desa terdapat beberapa operator penghubung program pokir. “Nanti saya cari, karena satu desa itu ada tiga orang, kayak nama Rini itu ada tiga. Nanti saya cek lagi,” pungkasnya.

Peran Operator dalam Pemotongan Dana

AZ, pengurus yayasan pondok pesantren di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menjelaskan bahwa bantuan pokir yang seharusnya diterima utuh justru dipotong hingga 30 persen oleh oknum yang disebut berkaitan dengan anggota dewan. Menurut AZ, operator berinisial LK dari Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, berperan mengoordinir calon penerima bantuan serta mengumpulkan potongan dana pokir tersebut.

“Operatornya bernama Bu LK dari Desa Kayangan yang bagian mungut lembaga yang direkom, potongan 30 persen. LPJ dan pajak buat sendiri,” paparnya. Ia juga menyebut bahwa dana yang disetujui Rp 200 juta hanya diterima sekitar Rp 140 juta, sementara biaya pembuatan LPJ dan pajak dibebankan kepada penerima bantuan.

Perspektif dari Pengurus Pesantren

AZ mengungkapkan bahwa saat ini proses verifikasi dana pokir masih berlangsung dan diperkirakan akan cair pada bulan Maret. Ia meminta agar namanya tidak dipublikasikan secara lengkap. Meski begitu, ia tetap merasa khawatir dengan dugaan pemotongan yang terjadi.

Dari sudut pandang pengurus pesantren, kasus ini menjadi peringatan bahwa dana pokir yang bermasalah bisa mendekati haram dan berpotensi merugikan pondok serta santrinya. Oleh karena itu, para kiai dan bu nyai diminta untuk lebih waspada dan tidak mudah tergoda menerima bantuan yang tidak sesuai ketentuan.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *