Penjual Mantel Kresek dan Jas Hujan Berjaya di Acara Mujahadah Kubro 1 Abad NU
Di tengah hujan yang mengguyur Kota Malang, para penjual mantel kresek dan jas hujan di area Stadion Gajayana, lokasi penyelenggaraan Mujahadah Kubro 1 Abad NU, mendapat berkah. Acara besar ini menjadi momen yang sangat menguntungkan bagi para pedagang kecil, terutama mereka yang menjual perlengkapan anti-hujan.
Salah satu penjual mantel kresek, Hendrik, asal Sumberpucung, Kabupaten Malang, mengatakan bahwa awalnya ia hanya menjual alas duduk. Namun, melihat cuaca yang tidak menentu, ia memutuskan membawa mantel kresek sebagai langkah antisipasi. “Saya awalnya jualan alas duduk, tapi karena musim hujan jadi berjaga-jaga jualan mantel kresek juga,” ujarnya saat ditemui pada Sabtu (7/2/2026).
Hendrik mengaku, hujan yang turun sejak sore hari membuat penjualan mantel kresek meningkat drastis. Dalam waktu kurang dari satu jam, 11 dari 24 mantel kresek yang dibawanya sudah laku terjual. “Alhamdulillah ini kok dari sore tadi hujan, jadi laku jualan saya,” imbuhnya.
Menurut Hendrik, harga mantel kresek yang ia jual sebesar Rp10.000 masih terjangkau bagi jemaah. Ia menyebutkan bahwa harga tersebut tidak terlalu mahal, dengan untung yang tidak terlalu besar. “Harganya satu Rp10 ribu, tidak terlalu mahal. Harga tengkulaknya Rp7.000, jadi saya ambil untung juga tidak terlalu banyak,” kata dia.
Hal serupa juga dialami oleh Mursini, penjual jas hujan asal Kecamatan Klojen. Ia memang terbiasa berjualan saat ada acara-acara besar, termasuk acara keagamaan. “Saya memang jualan ketika ada acara besar, misal pengajian, haul. Sering jualan alas duduk dan jas hujan kalau musim hujan seperti ini,” katanya.
Mursini mengatakan, acara Mujahadah Kubro kali ini cukup ramai dan berdampak langsung pada penjualannya. Hingga sore hari, ia sudah menjual 17 jas hujan dengan harga yang sama, Rp10.000 per buah. “Alhamdulillah ini sudah laku 17 biji, harganya Rp10 ribu. Banyak dibeli ibu-ibu dan bapak-bapak rombongan,” tuturnya.
Bahkan, salah satu rombongan jemaah dari luar kota membeli dalam jumlah besar. “Tadi diborong sembilan biji dari rombongan Kediri,” tambah Mursini.
Jumlah Jemaah yang Hadir Sangat Besar
Sebagai informasi, Mujahadah Kubro 1 Abad NU yang digelar di Stadion Gajayana diperkirakan dihadiri sekitar 100.000 jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Acara tersebut berlangsung selama dua hari, 7–8 Februari 2026.
Sekretaris PWNU Jatim, HM Faqih, menjelaskan bahwa hingga H-2 (6/2), tercatat jemaah mencapai 104.541 orang atau kalau dibulatkan mencapai 105 ribu orang dengan 1.100 bus lebih dan ribuan kendaraan lainnya.
Jumlah tersebut meliputi 77.541 orang dari Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Jatim dan 27.000 warga Muslimat NU se-Jatim. Jumlah ini mengendarai 1.183 bus, 6.465 mobil, dan 5.413 sepeda motor yang semuanya terbagi dalam 9 zona dengan 9 PIC dari PWNU serta 45 ketua rombongan dan narahubung di tingkat lokal.
Rangkaian Kegiatan Harlah Satu Abad NU
Rangkaian Harlah Satu Abad NU yang diadakan PWNU Jatim telah menyelenggarakan beberapa kegiatan. Dalam informasi resmi yang dikeluarkan PWNU Jatim, Kick Off dan Sarasehan Pesantren di Unisma Malang akan diselenggarakan pada 7 Januari 2026.
Beberapa kegiatan lainnya antara lain Ziarah Muassis/Muharrik NU se-Jatim (24/1), Hadrah Lailatul Ishari di Masjid Kemayoran Surabaya (29/1/2026), dan pameran lukisan nasional di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dengan tema ‘Mangsa Kalasubo’ (30/1/2026).
Agenda lainnya, parenting dan pesantren sehat oleh LKKNU-RMI pada tujuh titik lokasi di Jatim yakni Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Blitar, Bondowoso dan Banyuwangi (27 Januari hingga 15 Februari 2026). Selain itu, Pameran NUConomic, GenZINU Bootcam, dan Talkshow 3 pilar ekonomi NU atau UMKM-Filantropi-Industri Pertanian (Kampung Coklat, Blitar) pada 5-7 Februari 2026. Puncak Harlah adalah Mujahadah Kubro (Stadion Gajayana, Malang) pada 7-8 Februari 2026.
Pameran NUConomic, GenZINU Bootcam, dan Talkshow 3 pilar ekonomi NU di Kampung Coklat, Blitar pada 5-7 Februari 2026 merupakan bentuk nyata kehadiran NU dalam kehidupan warganya, khususnya 3 pilar ekonomi (UMKM-Filantropi-Industri Pertanian), dan juga Generasi Z (GenZINU/Generasi Z Islami NU), kata Wakil Ketua PWNU Jatim DR Hakim Jayli di Blitar (5/2).
Selain kompetisi GenZINU, beberapa kegiatan dalam Fesival NUconomic 2026 adalah pameran produk pertanian, kehutanan, kelautan, pendampingan UMKM, bussiness couch, dan talkshow 3 pilar. Peserta pameran ada 53 stand/gerai dan mereka sangat antusias, bahkan minta NU adakan pameran rutin untuk angkat ekonomi nahdliyyin, katanya.
Terkait Festival GenZI-NU dengan serangkaian lomba, Koordinator Festival GenZINU Prof HM Noor Harisudin mengatakan berbagai lomba dalam Festival GenZINU. Seperti Lalaran Alfiyah, Qiroatul Qutub, Pidato Bahasa Arab dan Inggris, kompetisi AI (AI Booth Camp Competition), dan Lomba Video Pendek Reels Instagram dalam tema Historical Trips.
Khusus untuk Kompetisi AI atau “AI Booth Camp Competition” dikoordinasikan oleh IPNU/IPPNU. Berbagai lomba yang diadakan bertujuan untuk menumbuhkan tradisi yang selama ini ada di pesantren, khususnya Lalaran Alfiyah dan Qiroatul Qutub.
Untuk teknologi digital juga menjadi keniscayaan ke depan. Dalam finalis di Kampung Coklat, para GenZINU piawai bercerita lewat visual tentang kisah jam’iyyah, tradisi, kontribusi, dan peran NU dalam membangun peradaban.











