Penyakit yang Tidak Mudah Diketahui
Banyak orang mengalami penyakit-penyakit yang tidak terlihat secara kasat mata, sehingga sulit untuk didiagnosis oleh para ahli. Beberapa contohnya adalah penyakit autoimun dan gangguan saraf, yang penyebabnya bisa berasal dari faktor genetik maupun lingkungan.
Penyakit multiple sclerosis (MS) adalah salah satu contoh penyakit yang menyebabkan kerusakan pada lapisan pelindung saraf. Kondisi ini dapat menyebabkan mati rasa, tubuh lemah, kesulitan berjalan, gangguan penglihatan, dan lain-lain. Ketika seseorang menderita MS, sistem imunitas mereka menyerang lapisan pelindung saraf yang disebut dengan myelin. Hal ini mengganggu komunikasi antara otak dan seluruh tubuh kita.
Tipe-Tipe MS
Beberapa tipe MS yang umum dikenal adalah:
- Clinically isolated syndrome (sindrom terisolasi klinis): Tipe MS di mana gejala muncul dari satu serangan tunggal, lalu diikuti dengan pemulihan.
- Relapsing-remitting MS: Tipe MS yang mengalami gejala secara berulang lalu pulih total atau parsial. Periode tidak aktifnya kondisi di antara serangan disebut remisi.
- Secondary-progressive MS: Bentuk MS yang berevolusi dari sebelumnya. Serangan makin jarang terjadi tetapi masih dapat terjadi, dan penderitanya secara bertahap merasakan gejala yang stabil.
- Primary-progressive MS: Tipe MS yang jarang ditemukan. Penderita MS ini akan mengalami gejala yang secara progresif merusak tubuh mereka dari awal.
- Radiologically isolated syndrome: Tipe MS paling langka. Penderita kondisi ini akan menunjukkan hasil MRI yang sama persis seperti MS tapi tidak mengalami gejala-gejalanya.
Untuk diagnosis MS, beberapa tes seperti MRI, pungsi lumbal, atau tes penglihatan elektrik dapat digunakan untuk mengetahui dimana kerusakan terjadi.
Gejala yang Muncul
Pada awalnya, gejala yang dapat terjadi pada penderita adalah:
- Gangguan penglihatan, seperti peradangan yang dapat menyebabkan nyeri pada mata dan hilangnya indra penglihatan.
- Otot melemah, biasanya terjadi pada lengan dan kaki dimana otot akan menegang serta terasa rasa nyeri hebat.
- Mati rasa hingga nyeri pada lengan, kaki, hingga wajah.
- Kecerobohan, seperti kesulitan untuk menjaga keseimbangan.
- Sulit menahan kencing, kesulitan untuk mengontrol kandung kemih.
- Rasa pusing.
Lalu gejala yang dapat dirasakan adalah:
- Kelelahan secara fisik dan mental.
- Kesulitan untuk mengontrol emosi, seperti depresi.
- Melemahnya kemampuan kognitif, seperti sulit berkonsentrasi, berpikir, belajar, dan mengingat.
Karena adanya periode remisi, MS jadi sulit untuk didiagnosa. Selain itu, beberapa penderitanya tidak akan tahu bahwa mereka menderita MS karena gejala tersebut terasa normal bagi mereka. Pada beberapa kasus juga penderita suka lupa bahwa mereka mengidap MS karena periode remisi yang panjang.
Penyebab MS
Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan pada myelin, lapisan pelindung di sekitar sel saraf (neuron) pada otak dan tulang belakang kita. Kerusakan ini disebabkan oleh sistem imun kita yang seharusnya melindungi tubuh dari bakteri atau virus. Namun pada kondisi ini, sistem imun kita bekerja terlalu aktif dan mengira myelin kita sebagai musuh.
Tes MRI dapat membantu kita menemukan bukti kerusakan pada myelin. Seperti bekas luka, plak hingga lesi. Para dokter belum yakin pasti mengapa orang-orang dapat mengalami MS. Namun penelitian menemukan adanya korelasi antara beberapa hal ini dengan berkembangnya MS:
- Merokok
- Eksposur terhadap racun
- Rendah vitamin D
- Paparan virus
- Obesitas pada masa kecil
- Genetika
Orang-orang yang rentan akan kondisi ini biasanya adalah mereka yang keturunan Eropa Utara, berumur 20-40 tahun, dan paling sering ditemukan pada perempuan.
Pengobatan dan Penanganan
Sayangnya pada saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan seseorang dari MS. Namun ada terapi atau penanganan untuk mengurangi kerusakan, gejala hingga mencegah komplikasi. Biasanya dokter akan menyarankan beberapa macam pengobatan, terapi fisik hingga konseling kesehatan mental.
Ada pula alat-alat yang dapat membantu penderita MS. Seperti kacamata khusus, stimulasi otak, penggunaan tongkat jalan hingga kursi roda, obat pereda nyeri, dan lain-lain. Dokter dapat merekomendasikan untuk menerima donor plasma apabila tubuh pasien tidak dapat merespon dengan baik pengobatan yang ia terima.











