Transformasi Sistem Transportasi di Kota Manado
Transformasi sistem transportasi di Kota Manado melalui pengalihan fungsi mikrolet menjadi feeder bus Trans Manado memicu berbagai perbincangan di tengah masyarakat. Kebijakan yang diinisiasi oleh Wali Kota Andrei Angouw bertujuan menciptakan tatanan kota yang lebih efisien dan modern.
Dr. Eng. Ir. Pingkan Peggy Egam, MT., IPM, akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) sekaligus pengamat tata kota, memberikan analisis terkait efektivitas sistem ini bagi mobilitas warga. Menurut Pingkan, kehadiran feeder adalah tulang punggung bagi keberhasilan transportasi massal. Tanpa pengumpan yang efisien, akses masyarakat dari wilayah pemukiman menuju jalur utama akan terhambat.
“Feeder berfungsi menghubungkan kawasan pemukiman atau titik perjalanan kecil dengan moda transportasi utama, sehingga akses masyarakat terhadap transportasi massal menjadi lebih mudah dan efisien,” jelas Pingkan kepada Wartawan Tribun Manado, Minggu (25/1/2026).
Ia menambahkan bahwa sistem ini bukan sekadar alat angkut, melainkan strategi besar untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi yang selama ini menjadi biang kemacetan di Manado. Dengan sistem yang terintegrasi, efisiensi mobilitas akan meningkat drastis.
“Feeder mampu menciptakan sistem transportasi yang terhubung dan berkelanjutan, sehingga penataan dan manajemen kota akan lebih tertata,” ujarnya.
Lebih jauh, Pingkan menyoroti dampak positif bagi masyarakat di wilayah penyangga. Sistem feeder diyakini mampu mendukung konsep Transit Oriented Development (TOD) yang memaksimalkan efisiensi ruang kota. Dengan akses transportasi yang merata hingga ke pinggiran, pemerataan ekonomi dan sosial dapat lebih mudah tercapai.
Meski memiliki potensi besar, Pingkan memberikan catatan mengenai implementasi di lapangan. Ia menekankan bahwa keberhasilan sistem pengumpan sangat bergantung pada jumlah armada dan sinkronisasi jadwal.
“Jika armada tidak mencukupi dan koordinasi antar moda tidak tertata dengan baik, layanan feeder bisa menjadi tidak efektif,” terang dia.
Selain masalah teknis, kondisi infrastruktur jalan lokal dan kelayakan armada juga menjadi perhatian. Penggunaan kendaraan yang tidak standar berisiko menimbulkan polusi udara dan suara di area hunian warga. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk mengambil langkah yang seimbang antara ketegasan aturan dan pendekatan kepada para sopir mikrolet.
“Oleh sebab itu perlu ada regulasi dan kebijakan pemerintah yang tegas tetapi humanis, agar dampak negatif dapat diminimalisir,” tegas Pingkan.
Manado tidak sendirian dalam langkah ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung telah lebih dulu mengadopsi sistem serupa untuk mengurai keruwetan lalu lintas. Pingkan menegaskan bahwa visi jangka panjang adalah kunci.
“Feeder harus dipandang sebagai bagian dari strategi integrasi sistem perkotaan berkelanjutan, yang didukung kebijakan cerdas dan humanis dari aspek sosial, ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.
Strategi Wali Kota Andrei Angouw Amankan Nasib Sopir Mikro
Pemerintah Kota Manado mulai mematangkan skema rute feeder atau pengumpan sebagai solusi bagi eksistensi mikrotel. Mikrolet adalah angkutan umum minibus berkapasitas kecil hingga 10 penumpang yang melayani rute tertentu dengan tarif terjangkau.
Wali Kota Manado, Andrei Angouw, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam melihat dampak operasional bus terhadap pendapatan sopir mikro. Dalam konferensi pers awal tahun yang digelar di Cafe D Tang, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (23/1/2026), ia menjelaskan rencana pengalihan fungsi mikrolet. Nantinya, mikrolet akan difokuskan untuk menjangkau wilayah pemukiman yang selama ini belum tersentuh transportasi umum, lalu menghubungkan penumpang ke jalur utama yang dilalui bus.
“Kita berupaya seminimal mungkin menahan dampaknya, tapi perkembangannya seperti ini,” ujar Andrei.
Rencana ini memancing reaksi beragam dari para pelaku transportasi di lapangan. Jofan, salah satu sopir yang biasa mangkal di area Pasar 45, berharap pemerintah tidak setengah hati dalam menyusun regulasi baru ini. “Kalau memang ada perubahan jalur, pemkot harus betul-betul matangkan rencananya,” kata Jofan.
Ia menilai koordinasi langsung dengan para sopir sangat krusial agar konsep feeder tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas. Di sisi lain, Erwin, sopir mikro lainnya, melihat rencana ini sebagai peluang di tengah sulitnya mencari penumpang saat ini. Ia berharap kebijakan ini benar-benar berpihak pada kesejahteraan mereka.
“Sekarang ini cari penumpang juga susah. Semoga pemkot bisa memperhatikan kami,” ungkap Erwin.
Meski ada kekhawatiran, sebagian sopir memilih untuk tetap optimis. Mario, pengemudi rute Malalayang, menganggap perubahan adalah hal yang wajar demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat Manado. “Yang penting kita bisa kasih kenyamanan buat penumpang. Semua sudah diatur Tuhan,” ujarnya.











