Peran Sabrang sebagai Tenaga Ahli di DPN
Sabrang, yang merupakan putra dari cendekiawan Emha Ainun Najib atau dikenal dengan Cak Nun, akhirnya memberikan pernyataan terkait penunjukannya sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN). Penunjukan ini sempat memicu reaksi publik, karena Sabrang dikenal sebagai sosok musisi yang jauh dari lingkup birokrasi. Namun, ia menegaskan bahwa perannya di DPN murni sebagai tenaga ahli, bukan pembuat kebijakan.
Posisi Sabrang di DPN
Sabrang menjelaskan bahwa tugas utamanya sebagai tenaga ahli adalah memberikan masukan strategis kepada pemerintah. Ia menekankan bahwa posisinya tidak membuat peraturan, melainkan menjadi indra mata, telinga, dan akal bagi pemerintah dalam menghadapi berbagai risiko yang ada.
“Tenaga ahli itu memberi masukan kepada pemerintah, mungkin bisa diteruskan ke presiden terhadap situasi resiko, dan rekomendasi,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa dirinya masuk ke dalam sistem negara, bukan sistem pemerintah.
Eksperimen dalam Interaksi antara Pejabat dan Rakyat
Terkait keresahan warganet, Sabrang mengaku sudah memprediksi hal tersebut. Ia memilih untuk menjadi “kelinci percobaan” dalam menciptakan standar baru dalam interaksi antara pejabat dan rakyat.
“Oke, saya akan jadi di sini kelinci eksperimen. Mari kita bikin framework bagaimana pejabat melaporkan atau berinteraksi dengan rakyat,” katanya. Ia berharap agar framework ini dapat menjadi standar bagi semua pejabat.
Ancaman Cognitive War
Menanggapi keraguan publik tentang kompetensinya di bidang pertahanan nasional, Sabrang menjelaskan bahwa ancaman bukan hanya sekadar perang fisik. Ia menyebutkan bahwa perang kognitif (cognitive war) sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
“Perang kognitif itu berhubungan dengan yang kamu pakai sehari-hari. Mempengaruhi otak itu bisa menghancurkan negara,” ujarnya. Ia mencontohkan bagaimana masyarakat saat ini terpecah belah satu sama lain.
Komitmen untuk Tetap Kritis
Sabrang juga menegaskan bahwa ia tetap akan kritis dan tidak akan menggadaikan suaranya. Ia memastikan bahwa integritasnya tetap terjaga, baik terhadap pemerintah maupun netizen.
“Mulut saya tidak akan saya gadaikan kepada orang lain karena yang ngasih mulut ya Tuhan. Jadi ini tanggung jawab saya terhadap mulut saya,” ujarnya. Ia juga berkomitmen untuk mempublikasikan rekomendasinya kepada publik.
Siap Mundur jika Tidak Efektif
Sebagai bentuk akuntabilitas, Sabrang menyatakan bahwa jika kehadirannya tidak efektif, ia siap mundur. Ia menegaskan bahwa jika rekomendasinya tidak didengarkan, ia akan keluar dengan mudah.
“Simpel aja karena memang saya tidak ada gunanya di sana ternyata kan gitu,” pungkasnya.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











