Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Trump Anggap Latihan Militer Tiongkok di Sekitar Taiwan sebagai Aktivitas Biasa

Presiden Trump Tidak Khawatir dengan Latihan Militer China di Sekitar Taiwan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak merasa cemas terhadap latihan militer besar-besaran yang dilakukan oleh China di sekitar Taiwan. Termasuk dalam latihan tersebut adalah penembakan roket yang dilakukan Beijing pada hari kedua simulasi perang.

Trump menilai manuver militer China sebagai aktivitas rutin yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Dalam wawancara dengan wartawan pada Senin (29/12/2025), ia mengaku tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai latihan bertajuk Misi Keadilan 2025. Meski demikian, ia menegaskan bahwa situasi ini tidak menimbulkan kekhawatiran baginya.

Trump juga menyebut hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping berjalan baik, meskipun tidak ada komunikasi langsung mengenai latihan tersebut. Ia mengatakan bahwa hubungan antara dirinya dan Xi Jinping baik, namun belum ada informasi spesifik dari Xi tentang latihan tersebut. Ia menambahkan bahwa ia tentu saja melihat latihan tersebut, tetapi tidak merasa khawatir karena hal itu sudah menjadi kebiasaan lama.

Latihan Militer dan Dampaknya terhadap Penerbangan Sipil

Latihan militer ini digelar kurang dari dua pekan setelah Washington mengumumkan paket penjualan senjata senilai 11,1 miliar dollar AS kepada Taiwan. Penjualan senjata ini disebut sebagai yang terbesar ke pulau tersebut.

Beijing menegaskan bahwa latihan ini merupakan “peringatan keras” terhadap gerakan separatis dan campur tangan pihak asing. Pada hari kedua latihan, militer China mengerahkan kapal serbu amfibi terbaru, pesawat pembom, serta kapal perang untuk mensimulasikan pengepungan Taiwan.

Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China menyatakan bahwa unit angkatan laut dan udara mereka berlatih menyerang target laut dan udara, termasuk operasi antikapal selam di wilayah utara dan selatan Taiwan. Otoritas penerbangan sipil Taiwan mengungkapkan bahwa China menetapkan tujuh zona berbahaya sementara di sekitar Selat Taiwan untuk latihan penembakan roket, yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 18.00 waktu setempat.

Penutupan wilayah udara tersebut berdampak pada hampir 850 penerbangan internasional dan lebih dari 100.000 penumpang, sementara lebih dari 80 penerbangan domestik dibatalkan. Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa puing-puing hasil latihan tembak langsung memasuki zona perbatasan maritimnya.

Dalam kurun 24 jam, tercatat sekitar 130 pesawat militer China serta 22 kapal angkatan laut dan penjaga pantai beroperasi di sekitar pulau. Sedikitnya 14 kapal penjaga pantai China juga terlibat konfrontasi dengan kapal Taiwan.

Pemerintah Taiwan mengecam keras langkah Beijing, menyebutnya sebagai tindakan agresif dan sembrono yang mengancam perdamaian serta stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Otoritas Taiwan mencatat China menembakkan sedikitnya 27 roket ke perairan sekitar pulau tersebut.

Respons dan Tekanan Regional

Sebagai respons atas meningkatnya tekanan militer, Taipei menegaskan komitmennya untuk mempercepat pembangunan sistem pertahanan udara “Taiwan Shield” guna memperkuat kemampuan pertahanan menghadapi potensi eskalasi di masa depan.

Menurut laporan The Guardian, Selasa (30/12/2025), Beijing terus menegaskan klaimnya atas Taiwan sebagai bagian dari wilayah China. Bahkan menurut informasi intelijen Amerika Serikat beberapa tahun lalu, China menargetkan kesiapan militer untuk melakukan invasi pada 2027.

Di tengah eskalasi ini, Amerika Serikat tetap menjadi penopang utama Taiwan, meski sikap Presiden Donald Trump kerap dinilai tidak konsisten. Trump sempat bertemu Presiden Xi Jinping pada Oktober lalu dan menyebut isu Taiwan tidak dibahas, sementara rencana kunjungan lanjutan ke Beijing disebut-sebut akan berlangsung tahun depan.

Militer Pembebasan Rakyat (PLA) dan media pemerintah China menyatakan latihan terbaru difokuskan pada simulasi blokade pelabuhan strategis Taiwan, penangkalan “campur tangan asing”, serta uji koordinasi laut-udara untuk memburu dan melumpuhkan target presisi, termasuk kapal selam.

Presiden Taiwan Lai Ching-te mengecam keras langkah Beijing dan menegaskan komitmen mempertahankan kedaulatan tanpa memprovokasi konflik. Nada serupa disampaikan Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo yang menilai latihan tersebut melanggar norma internasional dan bertujuan melemahkan ketahanan psikologis serta kohesi masyarakat Taiwan.

Ini menjadi latihan keenam dan terbesar yang menargetkan Taiwan sejak 2022, ketika Beijing mengepung pulau itu menyusul kunjungan Ketua DPR AS kala itu, Nancy Pelosi. Meski lazim membutuhkan perencanaan panjang sebagai bagian dari pelatihan rutin, PLA kerap mengaitkan latihan dengan respons atas langkah yang dianggap provokatif, kali ini termasuk persetujuan penjualan senjata Amerika senilai 11 miliar dollar AS ke Taiwan.

Risiko regional pun menguat, Jepang mengisyaratkan potensi keterlibatan jika konflik pecah, memicu reaksi keras Beijing. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan latihan militer tersebut merupakan respons keras terhadap apa yang disebutnya sebagai provokasi kelompok pro-kemerdekaan Taiwan, penjualan senjata Amerika Serikat, serta tantangan atas kedaulatan China. Ia menegaskan pesan latihan itu juga ditujukan kepada Jepang, yang dinilai Beijing turut bersikap konfrontatif di kawasan.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *