Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Survei Mandiri 2025: Omzet UKM Terganggu, Sektor Ini Paling Terpuruk

Tren Kondisi Omzet UKM di Tahun 2025

Hasil survei Mandiri Business Survey 2025 menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) mengalami stagnasi atau penurunan kondisi omzet pada tahun ini. Hal ini bahkan lebih rendah dibandingkan dua tahun terakhir. Dari total 1.211 responden yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, sebanyak 51% menyatakan bahwa kondisi usahanya stagnan dan cenderung memburuk.

Secara lebih rinci, 36% responden mengaku kondisi usahanya stagnan, turun dari 56% pada tahun 2024. Sementara itu, 15% responden menyatakan kondisi usahanya memburuk, meningkat dari 10% pada tahun lalu. Di sisi lain, 48% responden menyatakan kondisi usahanya membaik atau meningkat, naik dari 34% pada tahun sebelumnya.

Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Mandiri Institute–Office of Chief Economist, disebutkan bahwa pertumbuhan omzet bersih UKM tercatat negatif sebesar 9%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 3%. Pertumbuhan omzet UKM yang stagnan tercatat sebesar 0%, sedangkan UKM yang mengalami pemburukan mencatat pertumbuhan omzet minus 29%, meningkat dari 28% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan omzet UKM yang membaik mencapai 20%, namun lebih rendah dibandingkan 25% pada tahun lalu.

Perbedaan Sektor dalam Pertumbuhan Omzet

Sektor industri pengolahan mengalami pemburukan kondisi omzet, baik dari sisi jumlah unit usaha maupun rata-rata pertumbuhan omzet. Dari 44% responden di sektor ini yang menyatakan kondisi bisnisnya membaik, rata-rata pertumbuhan omzetnya hanya mencapai 17%. Namun, sebanyak 41% responden mengaku omzetnya memburuk dengan penurunan mencapai 36%. Dengan demikian, rata-rata pertumbuhan omzet sektor industri pengolahan menjadi yang paling rendah di antara sektor lainnya, yakni negatif 20%.

Sementara itu, sektor perdagangan serta konstruksi dan real estat masih relatif lebih resilien dibandingkan sektor lainnya. Sebanyak 51% responden di sektor perdagangan menyatakan kondisi bisnisnya membaik dengan rata-rata pertumbuhan omzet sebesar 18%. Kemudian, 34% responden menyatakan kondisi bisnisnya stagnan, dan 15% menyatakan kondisi bisnisnya memburuk dengan rata-rata pertumbuhan omzet turun 24%. Dengan kondisi tersebut, rata-rata pertumbuhan omzet sektor perdagangan tercatat negatif 6%.

Adapun sektor konstruksi dan real estat, sebanyak 52% responden menyatakan kondisi bisnisnya membaik dengan rata-rata pertumbuhan omzet 21%, sementara 33% responden menyatakan kondisi bisnisnya stagnan. Selanjutnya, 15% responden mengaku kondisi bisnisnya memburuk dengan rata-rata pertumbuhan omzet turun 7%. Dengan demikian, rata-rata pertumbuhan omzet sektor ini tercatat negatif 7%.

Tantangan yang Dihadapi UKM

Office of Chief Economist menyebutkan bahwa tantangan UKM pada 2025 menunjukkan bahwa setiap sektor menghadapi hambatan yang berbeda-beda. Namun secara umum, tantangan utama UKM meliputi persaingan usaha yang semakin ketat sebesar 52%, daya beli konsumen yang rendah sebesar 38%, serta kenaikan harga bahan baku sebesar 32%.

Posisi usaha dengan tingkat persaingan tertinggi terdapat pada sektor akomodasi, pengangkutan dan pergudangan, makanan dan minuman, serta industri pengolahan. Selanjutnya, proporsi usaha yang menghadapi tantangan daya beli konsumen paling besar terdapat pada sektor makanan dan minuman, perdagangan, akomodasi, serta industri pengolahan.

Sementara itu, proporsi usaha yang menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku terbesar berada pada sektor industri pengolahan, pertanian, peternakan dan perikanan, konstruksi dan real estat, serta perdagangan.

Strategi UKM Menghadapi Tantangan

Sektor perdagangan dengan margin yang tipis menjadi sektor yang paling sulit bertahan, sedangkan sektor akomodasi makanan dan minuman cenderung lebih “lengket” karena tingkat persaingan yang lebih ketat. Dalam menghadapi kenaikan biaya input, mayoritas UKM cenderung memilih menahan harga dibandingkan meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen, khususnya pada sektor makanan dan minuman. UKM yang menghadapi tantangan daya beli konsumen juga cenderung menghindari kenaikan harga jual, terutama pada sektor dengan karakteristik margin rendah seperti perdagangan.

Ekspansi Usaha dan Ekspektasi Masa Depan

Dari sisi ekspansi usaha, sebanyak 45% pelaku UKM menyatakan telah melewati fase ekspansi, sementara 10% lainnya berencana melakukan ekspansi ke depan. Pinjaman perbankan masih menjadi pilihan utama pelaku UKM untuk membiayai ekspansi usaha.

Terkait ekspektasi, mayoritas pelaku UKM optimistis terhadap kondisi omzet hingga 2026 sejalan dengan membaiknya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi nasional. Pada 2026, 58% UKM optimistis omzetnya akan membaik atau tumbuh 18%, sedangkan 39% UKM pesimistis omzetnya akan stagnan atau tumbuh 1%, serta sebanyak 4% berekspektasi bisnisnya memburuk atau dengan penurunan omzet 7%.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *