Diskusi KPM Praya: Memahami Data dan Membangun Kesadaran Bersama
Sejak siang, Aula Kantor Desa Bunut Baok dipenuhi oleh para Kader Pembangunan Manusia (KPM) se-Kecamatan Praya. Mereka datang dengan ponsel, catatan kecil, dan rasa ingin tahu untuk memahami berbagai tantangan yang selama ini mereka hadapi dalam pengelolaan data. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan kesempatan untuk mengeksplorasi masalah-masalah konkret terkait layanan yang telah diinput, tetapi tidak muncul, serta persentase yang tidak bergerak.
Dashboard e-HDW yang sebelumnya tampak abstrak kini menjadi bahan cerita yang lebih mendalam. Di balik setiap grafik terdapat proses kunjungan rumah, pendampingan keluarga, koordinasi lintas sektor, serta kerja sosial yang dilakukan KPM setiap hari. Dengan demikian, data tidak hanya menjadi angka, tetapi juga cermin dari kerja nyata yang dilakukan di lapangan.
Bu Faizah, salah satu peserta, menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang diskusi yang sangat penting. Banyak teknis yang selama ini membingungkan, dan tidak selalu bisa terjawab dalam pendampingan rutin. Ia mengaku sering bertanya-tanya mengapa data calon pengantin yang sudah diinput tidak terlihat di dashboard. Akhirnya, ia memahami bahwa ada proses sinkronisasi dan validasi sistem yang tidak instan.
Pengalaman serupa dialami oleh peserta lain. Saat menggulir layar ponsel, mereka menyadari bahwa persentase penginputannya tidak naik karena melewati batas waktu triwulan yang ditentukan sistem. Momen sederhana ini menjadi titik balik diskusi, karena menunjukkan bahwa persoalan data sering kali bukan soal kemauan atau kemampuan, melainkan keterbatasan pemahaman terhadap logika sistem dan kebijakan waktu.
Pendamping Desa Kecamatan Praya, Bu Ema, mengakui bahwa forum ini membantu menjawab banyak pertanyaan KPM yang selama ini sulit dijawab secara tuntas di lapangan. Penjelasan tentang cara membaca layanan yang belum diterima penerima manfaat, serta memahami relasi antara input, waktu, dan keluaran data, menjadi pembelajaran bersama bagi pendamping dan KPM.
Data e-HDW Kecamatan Praya Triwulan IV Tahun 2025
Dalam konteks data e-HDW Kecamatan Praya Triwulan IV Tahun 2025, total layanan tersedia sebanyak 132.192, dengan layanan diterima sebesar 111.503 atau 84,35 persen. Angka tersebut menunjukkan capaian yang cukup tinggi, namun masih menyisakan ruang refleksi tentang layanan yang belum menjangkau seluruh sasaran.
Alokasi dana sebesar Rp1,68 miliar terealisasi sebesar Rp1,39 miliar, yang menunjukkan bahwa realisasi tidak sepenuhnya linier dengan tingkat layanan, karena dipengaruhi waktu dan mekanisme pelaporan. Dalam klaster keluarga, persentase layanan mencapai 92,23 persen, dengan 25.825 layanan diterima dari total 28.001, mencerminkan kerja intensif KPM dalam pemantauan keluarga sasaran.
Layanan dasar seperti air bersih, jamban sehat, dan sanitasi layak bahkan menyentuh hampir 100 persen. Namun, jaminan kesehatan dan ketahanan pangan masih menunjukkan celah yang perlu perhatian. Di sisi anak usia 0–59 bulan, capaian layanan berada pada 82,62 persen, dengan keberhasilan tinggi pada imunisasi dasar lengkap dan tambahan gizi bagi anak gizi kurang.
Namun pemantauan tumbuh kembang dan partisipasi PAUD atau BKB masih belum maksimal, menandakan tantangan sosial dan akses yang tidak sepenuhnya bisa diatasi hanya dengan penginputan data. Pada remaja putri, persentase layanan 80,60 persen memperlihatkan bahwa pemeriksaan anemia dan distribusi tablet tambah darah masih membutuhkan penguatan lintas sektor dan pendekatan berkelanjutan.
Sementara itu, layanan ibu hamil dan nifas mencatat capaian 76,44 persen, dengan konsumsi tablet tambah darah hampir sempurna, namun partisipasi KB pasca persalinan masih sangat rendah. Data ini menjadi bahan refleksi bersama bahwa dashboard tidak hanya mencatat capaian, tetapi juga menunjukkan celah intervensi pembangunan manusia yang harus dibaca secara kritis.
Refleksi dan Tindak Lanjut
Di kelompok calon pengantin, capaian layanan 83,61 persen memperlihatkan progres, namun sekaligus menegaskan pentingnya ketepatan waktu penginputan agar data benar-benar terbaca dalam sistem. Diskusi kemudian bergerak dari angka menuju makna, bahwa keterlambatan input, meski kecil, dapat mengaburkan kerja lapangan KPM yang sesungguhnya telah dilakukan secara konsisten.
Dalam forum ini, KPM Praya tampil sebagai subjek aktif yang menyibak persoalan, saling belajar membaca data, dan memahami bahwa dashboard adalah alat bantu, bukan cermin mutlak kualitas kerja. Bu Ema menegaskan bahwa kegiatan ini memperkuat peran pendamping sebagai mitra belajar, bukan sekadar penyampai instruksi, karena sistem terus berubah dan menuntut adaptasi bersama.
Kesadaran kolektif pun terbentuk tentang pentingnya tenggat waktu akhir triwulan keempat, agar data pembangunan manusia terkunci dan merepresentasikan kondisi lapangan secara proporsional. Dari refleksi tersebut, disepakati perlunya pendampingan berkelanjutan dan pembentukan Forum KPM Kecamatan Praya sebagai ruang berbagi, klarifikasi, dan penguatan pemahaman sistem.
Forum ini diharapkan menjadi simpul horizontal yang menjaga agar KPM tidak bekerja sendiri menghadapi kompleksitas data, waktu, dan kebijakan pembangunan manusia. Bagi peserta, kegiatan di Bunut Baok bukan sekadar peningkatan kapasitas, melainkan proses membuka tabir persoalan data yang selama ini tersembunyi di balik grafik dan persentase.
Antusiasme sejak pagi hingga akhir kegiatan menunjukkan bahwa KPM membutuhkan ruang belajar yang jujur, dialogis, dan menghargai pengalaman lapangan mereka. Dari Praya, tersirat pesan bahwa persoalan data pembangunan manusia bukan soal kecakapan individu semata, melainkan soal sistem, waktu, dan kualitas pendampingan yang harus diperkuat bersama.
Di titik itulah dashboard dan lapangan akhirnya bertemu, sebagai proses pembelajaran kolektif Kader Pembangunan Manusia dalam menjaga arah pembangunan yang benar-benar berpijak pada manusia.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











