Keberlanjutan Ekonomi di Tengah Musim Durian
Seorang pria berusia 45 tahun dengan gerakan hati-hati mengangkat buah durian yang berduri tajam. Setiap gerakannya terlihat penuh perhatian, seolah-olah ia sedang memperlakukan sesuatu yang bernilai lebih dari sekadar buah. Baginya, durian bukan hanya sekadar barang dagangan, tetapi juga titipan rezeki yang harus diperlakukan dengan baik.
Sore itu, Pasar Pagi Taman Sari, Pangkalpinang, terasa hidup dan ramai. Suara pedagang bersahutan memanggil pembeli, kendaraan melintas perlahan, dan aroma durian menguasai udara. Musim durian selalu membawa suasana berbeda, membuat pasar menjadi lebih dinamis.
Nobi, seorang pedagang durian, menjelaskan bahwa musim durian adalah momen penting bagi kehidupannya. Ia sudah bertahun-tahun berjualan di tempat yang sama, mulai dari sayuran hingga durian saat musimnya tiba. Menurutnya, durian selalu dicari orang, berbeda dengan sayuran yang bisa untung atau rugi.
Durian yang dijual Nobi berasal dari kebun langganan di Desa Nangka, Bangka Selatan. Ukuran buahnya beragam, disesuaikan dengan selera pembeli. Buah besar biasanya diminati untuk makan bersama, sementara ukuran sedang lebih sering dipilih oleh ibu-ibu.
Perjalanan Panjang Sejak Dini Hari
Untuk mendapatkan durian berkualitas, Nobi dan rekannya harus berangkat sejak dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Mereka menyimpan durian di rumah sebelum membawanya ke pasar menggunakan sepeda motor atau mobil pikap saat permintaan meningkat.
Jumlah durian yang dijual bervariasi, mulai dari 100–150 buah pada hari biasa hingga 250–300 buah pada akhir pekan. Namun, kadang masih kurang karena permintaan tinggi.
Nobi dan Zaki tidak hanya berperan sebagai pedagang, tetapi juga penghubung antara petani di kebun dengan konsumen di kota. Informasi tentang kebun mereka diperoleh dari berbagai sumber, termasuk media sosial dan sesama pedagang.
Proses Seleksi yang Cermat
Setelah sampai di kebun, Nobi dan Zaki melakukan seleksi pohon dan buah dengan cermat. Mereka menyesuaikan dengan selera pasar yang telah mereka pahami selama bertahun-tahun. Kualitas dan harga saling terkait; jika buah sesuai selera pasar dan harganya masuk akal, kerja sama dengan petani bisa berlangsung lama.
Beberapa petani bahkan sudah bekerja sama selama empat hingga lebih dari sepuluh tahun. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam hubungan ini. Zaki mengatakan, mereka rela menjelajah hampir seluruh Pulau Bangka, termasuk wilayah yang sulit dijangkau.
Pengalaman Berkesan dan Manfaat Jangka Panjang
Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat mereka menemui petani yang menjual durian hanya Rp5 ribu per buah. Padahal, kualitas buahnya sangat baik. Mereka membeli dengan harga lebih tinggi, dan hasilnya laris di pasar. Petani pun merasa senang karena durian mereka dihargai layak.
Harga beli durian tahun ini rata-rata Rp20 ribu per buah karena sistem borongan dari pemilik kebun. Sekali ambil, modal bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp6 juta. Meski demikian, pengalaman panjang membuat Nobi paham risiko. Keuntungan bersih bisa berkisar Rp400 ribu hingga Rp2 juta per hari, tergantung jumlah pembeli.
Ketergantungan pada Cuaca dan Kebun Langganan
Meski durian dari kebun sendiri merupakan berkah, Nobi mengakui bahwa produksi durian sangat bergantung pada cuaca. Tahun ini, kebun pribadinya tidak berbuah lebat, sehingga ia kembali bergantung pada kebun langganan.
Musim durian yang hanya berlangsung 20–35 hari menjadi penopang utama ekonomi keluarga Nobi. Uang yang didapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan jajan anak-anak. Baginya, selama durian masih tumbuh di kebun Bangka dan tetap digemari masyarakat, ia akan tetap setia berdiri di lapaknya.
Dampak Ekonomi yang Signifikan
Menurut Edo Maryadi, Ketua Tim Kerja Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, durian Babel memiliki keragaman jenis yang tumbuh baik, mulai dari durian alam di kampung-kampung hingga durian unggulan hasil seleksi dan pembinaan pemerintah.
Pengembangan durian berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Saat musim durian tiba, perputaran uang dari desa hingga kota meningkat signifikan. Petani dan pedagang sama-sama untung, aktivitas jual beli meningkat.
Berdasarkan data Statistik Pertanian DPKP Babel, luas tanam durian pada 2024 mencapai 2.487,20 hektare dengan luas panen 841,74 hektare. Total produksi durian mencapai 7.061,90 ton dengan produktivitas rata-rata 8,39 ton per hektare per tahun.
Angka tersebut meningkat dibandingkan 2023 yang mencatatkan produksi 5.807,85 ton dari luas panen 672,23 hektare. Kenaikan produksi ini menunjukkan intensitas panen durian lokal di kebun-kebun rakyat, sekaligus menegaskan peran durian sebagai penopang ekonomi masyarakat, khususnya petani dan pedagang musiman.











