Kelurahan Lambung Bukit, Wilayah Berbukit yang Rentan Bencana
Kelurahan Lambung Bukit terletak di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Salah satu wilayahnya, Batu Busuk, kembali dilanda banjir bandang pada akhir November 2025. Peristiwa ini terjadi akibat hujan deras dan luapan sungai yang mengakibatkan air masuk ke dalam rumah warga dan memaksa sebagian penduduk untuk mengungsi ke lokasi aman.
Wilayah ini memiliki topografi perbukitan dan dekat dengan aliran sungai, sehingga sangat rentan terhadap bencana alam seperti banjir. Hal ini membuat kawasan ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, Damkar, serta relawan setempat turun tangan untuk melakukan evakuasi dan pemulihan akses jalan yang terdampak oleh banjir.
Informasi Umum tentang Kelurahan Lambung Bukit
Kelurahan Lambung Bukit merupakan salah satu kelurahan terluas di Kecamatan Pauh. Luas wilayahnya mencapai 38,80 kilometer persegi atau sekitar 26,52 persen dari total luas Kecamatan Pauh yang sebesar 146,29 kilometer persegi. Dengan luas ini, Lambung Bukit menjadi kelurahan dengan wilayah terluas dibandingkan delapan kelurahan lainnya di Kecamatan Pauh.
Secara administratif, Kelurahan Lambung Bukit berada di bawah Kecamatan Pauh yang terdiri dari sembilan kelurahan. Kantor Kecamatan Pauh sendiri berlokasi di wilayah Pasar Baru. Letak geografis Lambung Bukit menjadikannya sebagai bagian dari kawasan pinggiran kota yang memiliki akses menuju daerah pegunungan dan kawasan hinterland Kota Padang.
Jarak antara Kelurahan Lambung Bukit dengan ibu kota Kecamatan Pauh sekitar 3 kilometer, sedangkan jarak ke pusat pemerintahan Kota Padang sekitar 12 kilometer. Meskipun kondisi wilayah berbukit membuat sebagian kawasan memiliki akses jalan mendaki, keberadaan jaringan jalan penghubung tetap mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas pelayanan pemerintahan.
Kependudukan dan Karakter Permukiman
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang, jumlah penduduk Kelurahan Lambung Bukit pada tahun 2024 mencapai 4.306 jiwa. Jumlah ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan luas wilayahnya. Kepadatan penduduk di Lambung Bukit tercatat sekitar 111 jiwa per kilometer persegi, menjadikannya sebagai salah satu kelurahan dengan tingkat kepadatan terendah di Kecamatan Pauh.
Penduduk Lambung Bukit tersebar di empat Rukun Warga dan 13 Rukun Tetangga. Pola permukiman masyarakat cenderung menyebar mengikuti kondisi topografi wilayah. Permukiman tidak terpusat di satu kawasan saja, melainkan berada di beberapa kantong pemukiman yang dipisahkan oleh lahan pertanian, kebun, dan kawasan hutan.
Topografi dan Penggunaan Lahan
Kondisi geografis Kelurahan Lambung Bukit sangat memengaruhi jenis pemanfaatan lahan, pola mata pencaharian, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Wilayah ini termasuk dalam kategori daerah perbukitan dan sebagian berada di kawasan lereng dengan ketinggian yang bervariasi. Kecamatan Pauh secara umum memiliki ketinggian antara 10 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, dan Lambung Bukit menjadi salah satu kelurahan yang memiliki kontur wilayah paling beragam.
Pemanfaatan lahan di Kelurahan Lambung Bukit didominasi oleh lahan bukan sawah, seperti kebun, ladang, kawasan hutan, serta lahan terbuka lainnya. Aktivitas pertanian dan perkebunan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, terutama untuk komoditas hortikultura dan tanaman tahunan.
Banjir Bandang di Kawasan Batu Busuk
Kawasan Batu Busuk, yang merupakan salah satu permukiman di Kelurahan Lambung Bukit, kini menjadi perhatian setelah dilanda banjir bandang pada Kamis (27/11/2025). Peristiwa ini terjadi akibat intensitas hujan tinggi dan luapan sungai yang mengakibatkan air masuk ke dalam rumah dan merendam pemukiman.
Batu Busuk terletak di area yang topografinya berbukit dan berdekatan dengan aliran sungai yang membelah wilayah Lambung Bukit. Saat hujan deras, debit air cepat meningkat dan berdampak langsung pada permukiman warga. Banjir bandang yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memaksa ratusan warga untuk dievakuasi ke tempat aman oleh BPBD, Basarnas, Damkar, dan relawan setempat.
Respon datang dari berbagai pihak, termasuk tim gabungan dari pemerintah kota yang mengevakuasi warga dan membantu pemulihan akses jalan yang terputus akibat badan jalan tergerus oleh arus banjir. Upaya pemulihan pascabencana juga melibatkan pengerahan alat berat untuk memperbaiki drainase serta membangun tanggul di sepanjang aliran sungai Batu Busuk agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.











