Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Daerah  

Jalan Kaki 40 Km, Lusman Bagikan 40 Nasi Bungkus ke Korban Banjir di Wilayah Terisolasi

Warga Berjuang untuk Bantuan di Tengah Banjir dan Longsor

Di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat, banyak warga yang rela berjuang untuk memberikan bantuan kepada sesama. Salah satu contohnya adalah Lusman dari Kinali, Pasaman Barat, yang menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer dengan sepeda motor menuju Salareh Aia Timur, Agam.

Lusman bersama keluarganya, termasuk adik, istri, dan ibunya Sari Amin (60), berangkat dari rumahnya. Mereka hanya mengenakan sandal dan membawa kantong plastik berisi makanan. Medan yang mereka lalui sangat sulit, dengan jalan aspal yang hancur akibat banjir bandang dari Sungai Alahan Anggang. Jalur tersebut kini berubah menjadi ladang lumpur dan bebatuan besar.

“Kami datang mau kasih bantuan makanan,” ujar Lusman saat ditemui di Jorong Subarang Aia, Salareh Aia Barat, pada Minggu (7/12/2025) siang. Kelelahan terlihat jelas di wajahnya dan keluarganya, dengan peluh mengalir di kening dan pipi mereka.

Jembatan darurat yang awalnya ada untuk membantu akses menyeberang sungai kini hancur akibat peningkatan debit air yang disebabkan hujan deras. Hal ini memaksa masyarakat, termasuk Lusman dan keluarganya, untuk menyeberang dengan meniti batang pohon besar. Meski kondisi sulit, niat mereka tidak menyurutkan. Mereka berharap sekantong dua kantong makanan siap santap dapat membantu warga Subarang Aia yang terisolasi.

Lusman harus berhati-hati saat berjalan, kadang harus melambung untuk menghindari titik lumpur sedalam sekitar satu meter yang mengancam kakinya. Selain itu, warga juga harus bergantian meniti dua batang pohon besar yang licin dan berlumpur sepanjang 10-15 meter.

“Saya sudah tahu jalan seperti ini. Ini atas nama kemanusiaan,” kata Lusman. Sari Amin, ibunda Lusman, meski tak banyak berbicara, menunjukkan semangat kemanusiaan yang tinggi di wajahnya. “Iya jalannya memang susah, tapi kami datang untuk berbagi nasi,” kata Sari Amin.

Ia menambahkan, keluarganya membawa 40 nasi bungkus untuk dibagikan kepada warga Subarang Aia, yang semuanya dibeli dari patungan uang pribadi.

Pengalaman Warga Aceh Tamiang dalam Bencana Banjir

Sementara itu, warga Kabupaten Aceh Tamiang bertahan selama delapan hari meski tanpa bantuan pemerintah. Mereka bertahan hidup berkat bantuan sesama warga. Hal itu diungkap oleh Darussalam (29), warga Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Darussalam menceritakan detik-detik penyelamatannya dari banjir dahsyat yang menerjang pada 26 November 2025 dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Bersama istrinya, Mahyuni, dan empat anak mereka, Darussalam memutuskan meninggalkan rumah. Meski berada di atas bukit, rumah tersebut tetap tenggelam karena banjir yang begitu besar.

“Tetangga yang di bawah naik ke halaman rumah kami. Itu pun tenggelam juga, kami lihat air begitu deras,” ujar Mahyuni kepada Kompas.com pada Sabtu (6/12/2025). “Jam 02.00 WIB, kami putuskan pergi meninggalkan rumah ke lebih belakang, ke atas bukit,” imbuhnya.

Air diperkirakan mencapai enam meter dari badan jalan. Pada pukul 03.00 WIB, air terus meninggi. Listrik padam, hujan deras, dan angin kencang. Warga nekat menyeberangi anak sungai menggunakan batang pinang sebagai jembatan darurat. “Anak sungai itu hanya pohon pinang jadi jembatannya. Itulah yang kami lewati, ada yang bawa bayi dan lain sebagainya,” cerita Mahyuni.

Mereka berjalan menelusuri bukit, menghindari air bah yang mulai mencapai kaki bukit. Hujan deras dan jalan licin dilalui hingga menemukan sebuah rumah yang berada lebih tinggi, tempat mereka bertahan selama delapan hari. “Kami bertahan di situ hingga hari kedelapan. Warga bantu warga. Tidak bicara lagi bantuan pemerintah, tidak ada sama sekali,” katanya.

Bahan makanan diperoleh dari pedagang yang menjualnya lewat perahu, tetapi dengan harga sangat tinggi. Gas 3 kilogram yang normalnya Rp20.000 dijual Rp150.000. Beras lima kilogram dijual Rp120.000, dan mi instan Rp200.000 per kardus. “Kami tidak punya pilihan, anak-anak harus makan. Seberapa mahal pun kami beli. Padahal beras itu sudah terendam banjir, kami beli juga,” ujarnya.

Pada 2 Desember 2025, mereka akhirnya bisa keluar dari desa. “Desa kami sekitar 600 jiwa, 90 persen rumah hancur,” katanya. Kini Mahyuni dan anak-anak tinggal sementara di rumah saudara di Lhokseumawe. Sementara Darussalam kembali ke Aceh Tamiang untuk membersihkan rumah dan membantu warga lain. “Anak dan istri di Lhokseumawe itu. Biar aman,” pungkasnya.

Banjir di kawasan tersebut menghancurkan ratusan rumah, memutus listrik, dan menghambat evakuasi korban.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *