Kesadaran Kosmik dan Nilai-nilai Keagungan Alam
Di masa lampau, seorang filosof Iran, Mulla Shadra, melalui kejernihan “Hikmah al-Arsyiyah,” mensinyalir bahwa manusia sejatinya merupakan alam besar (alam al-akbar), bukan alam yang kecil. Bahkan dalam diri manusia, lanjut Mulla Shadra, telah ada potensi dan kualitas surgawi maupun aroma neraka, serupa penyakit dan obat, sekental rindu dan benci, agresif dan destruktif, sejenis kemalasan dan konsistensi, dan lain-lain. Itulah hal-hal naturalistik yang melekat dalam diri tiap-tiap diri sebagai hamba. Tersedia cukup baik dan lengkap.
Terang bahwa manusia bukan materi dan eksistensi serta esensi yang biasa-biasa saja. Ia aktualisasi semesta yang telah mempunyai daya dan energi kesemestaan. Apa yang manusia perbuat dalam kondisi apapun, disadari atau tidak, memang tak bisa dilepaskan dari konteks sosio-kesemestaan. Senantiasa terikat dan mengikatkan, minimal secara potensi dan esensi dari dan untuk alam semesta. Integrasi manusia dengan alam semesta, sedemikian nyata. Kepaduan dan kemenyatuan berbasis ilahiah. Kurang etis kalau diabaikan, apalagi benar-benar dilupakan dan didistorsi secara eksploitatif-manipulatif.
Ketika alam terluka dan berduka, manusia otomatis mengalami hal sama. Dalam beberapa tradisi luhur (lokalitas), manusia dan alam semesta dianggap sebagai “sepasang-tunggal,” “sehati,” dan “sejiwa.” Bukan semata ibarat simbolisasi “suami-istri,” melainkan konstruksi “energi,” “esensi,” dan “substansi” dalam wujud yang satu. Memiliki arah ketunggalan untuk terus saling melengkapi dan menguatkan. Wujud aktual tajalliyat ilahi Rabbi. Wujud yang sampai kapan pun sedemikian sulit dicerai-beraikan. Bahkan, dalam bahasa lain, manusia dan alam semesta, merupakan bagian “penyangga” langit dan bumi beserta segala isinya.
Kesadaran Kosmik
Beranjak dari hal di atas, sepatutnya siapa saja dari manusia harus memiliki kesadaran kosmik. Kesadaran yang secara nilai maupun esensialistik mesti lebih tinggi dari kesadaran materialistik semata. Kesadaran luhur yang melampaui kesadaran individualistik, egoistik, dan sekali-kali bukan kesadaran disorientatif-eksploitatif, apalagi manipulatif dan kapitalistik. Artinya, kesadaran kosmik merupakan manifestasi dari kesadaran spiritualitsik tiap manusia kapan dan dimana pun. Sehingga ia senantiasa terkoneksi dan berinteraksi langsung dengan realitas kesemestaan.
Lebih dari itu, kesadaran kosmik ini akan terus menerus menempatkan bahwa realitas alam semesta bukan sekadar benda mati, pasif, “kaku” maupun “beku.” Namun ditempatkan dan dimaknai sebagai realitas produktif, konstruktif, hidup dan berbasis spiritualitas. Semangat dan orientasi substansialistik ini yang dialirkan Mulla Shadra. Sehingga perilaku dan mentalitas yang melekat pada diri manusia bukan laku parsial dan temporal dalam memosisikan keberadaan sekaligus kelangsungan alam semesta. Perspektif ini pelan tapi pasti akan mengantarkan, mengarahkan, dan mendampingi manusia melahirkan komitmen etik dan sikap obyektif-empatik kesemestaan.
Tak berlebihan bilamana sebagian filosof menegaskan bahwa alam semesta berada dan mengada sebagaimana manusia bereksistensi, berkreasi, berkolaborasi, dan beraktualisasi. Pada titik tertentu, ketika kelak manusia maksimal melakukan gerakan dandani jalan alam, secara otomatis mereka telah menguatkan histori dan substansi dirinya sendiri. Ini hal yang cukup luhur dan mahal. Luhur karena berkait langsung dengan ketulusan mencegah pelbagai kerusakan alam semesta. Mahal, sekali lagi, lantaran pertaruhannya adalah loyalitas kehambaan sekaligus keimanan terhadap Sang Maha Kuasa.
Iman ka Tana
Kesadaran kosmik merupakan kesadaran spiritualitas universal dari dan untuk memahami, memaknai, dan mentransformasikan aspirasi semesta. Kesadaran berbasis intuisi dan kualitas batini. Sehingga sebagai sesama makhluk, tiap-tiap manusia tiada henti mesti dandani jalan alam atasnama cinta terhadap dirinya sendiri. Cinta demi mengawal amanah ilahi. Sebab hanya manusia yang oleh Allah SWT ditugasi sebagai khalifah di muka bumi. Tugas yang tidak pernah ringan, lantaran melampaui predikat kehambaan semata.
Bagian dari kesadaran kosmik, meminjam uraian Dewi Kanti S (04/12/25), ialah iman ka tana atau iman kana tana. Istilah iman ka tana, merupakan prinsip dan keyakinan (tradisi) kearifan masyarakat Sunda Wiwitan. Masyarakat yang hingga saat ini terus menyelami, mengalami, dan menginternalisasi sakralitas alam semesta selayaknya sakralitas diri selaku manusia itu sendiri. Iman yang mengandaikan utuhnya keterpaduan maupun kemenyatuan eksistensial sekaligus esensial. Iman yang benar-benar tidak “menjarakkan” nilai potensial dan nilai aktual dalam berkehidupan.
“Iman kana tana,” jelas menyuguhkan nilai-nilai dan makna yang tidak sederhana. Ketika tanah diimani, berarti (ke)semesta(an) dijunjung tinggi, tidak dieksploitasi, dimanipulasi, bahkan dikapitalisasi, baik langsung maupun tidak langsung. Cukup logis dan arif sekira masyarakat Sunda Wiwitan menempatkan tanah amparan (ulayat) dan tanah adegan (spiritual), sebagai dua hal yang mesti dirawat, didandani, difasilitasi, dimediasi denyut-denyut kelangsungannya. Bahkan dimana dan kapan pun tanah seyogianya dikelola berbasis simpati, empati, dan kehangatan, bukan kerakusan dan pengrusakan.
Filosofi “iman ka tana,” sesungguhnya mengajak tiap diri lebih bijaksana mengalami dan menyelami gerak serta memaknai (ke)hidup(an) atas tanah. Tanah mesti dikembalikan pada posisi dan potensi ekologis-naturalistiknya, bukan dicabik dan dikebiri seturut orientasi pragmatis-kapitalistik global. Jika konstruksi “iman ka tana” dilestarikan seoptimalkan mungkin, ia akan menambah energi integralistik dalam konteks menyemai, membumikan, dan mencahayakan komitmen ekoteologis. Kita (mungkin) selalu mawas akan kelangsungan jagad besar dan jagad kecil.
Harmonisasi Alam dan Manusia
Dengan ber-“iman ka tana,” maka sakralitas alam tidak boleh dikuliti dan dilucuti. Ia juga memiliki aspirasi, orientasi, dan nilai-nilai eksistensial sekaligus esensial guna mengawal amanah Tuhan. Alam dan manusia itu “sedarah.” Harus diharmonikan, demi keseimbangan kesemestaan. Eksploitasi dan kapitalisasi alam tidak bisa dibiarkan berlanjut. Ruh alam dan ruh manusia, berasal dari sumber dan jantung yang sama. Tak berlebihan bila kaum sufi menegaskan siapa saja mencabut dan memotong selembar daun atau sehelai dahan tanpa baca “bismillah,” mereka berdosa. Sebab daun dan dahan sejatinya tiada henti bertasbih kepadaNya. Naudzubillah!
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











