JAKARTA — Presiden Benin, Patrice Talon, mengumumkan bahwa pemerintah dan angkatan bersenjata negara Afrika Barat ini berhasil menggagalkan upaya kudeta yang dilakukan oleh sekelompok tentara. Talon menegaskan bahwa pelaku akan dihukum sesuai hukum yang berlaku.
Pernyataan tersebut disampaikan pada hari Minggu (7/12/2025) malam, sekitar 12 jam setelah suara tembakan terdengar di beberapa wilayah Kota Cotonou, kota terbesar sekaligus pusat ekonomi Benin. Pada saat yang sama, sekelompok tentara muncul di televisi pemerintah dan mengklaim telah menggulingkan Talon dari jabatannya.
“Pasukan yang setia berdiri teguh, merebut kembali posisi kami, dan membersihkan sisa-sisa perlawanan para pemberontak,” ujar Talon dalam pidato yang disiarkan melalui televisi. “Komitmen dan mobilisasi ini memungkinkan kami mengalahkan para petualang tersebut serta mencegah hal terburuk terjadi pada negara kami. Pengkhianatan ini tidak akan dibiarkan tanpa hukuman,” tambahnya.
Talon menyampaikan belasungkawa kepada para korban akibat percobaan kudeta tersebut, serta kepada sejumlah orang yang sempat ditahan oleh kelompok tentara pembelot yang melarikan diri, meskipun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Hingga saat ini, jumlah korban tewas maupun sandera belum dapat dipastikan. Kerusuhan ini menjadi ancaman terbaru terhadap tatanan demokrasi di kawasan Afrika Barat, setelah dalam beberapa tahun terakhir militer merebut kekuasaan di negara tetangga seperti Niger dan Burkina Faso, serta Mali, Guinea, dan bulan lalu di Guinea-Bissau.
Namun, peristiwa di Benin terbilang tidak terduga mengingat kudeta terakhir yang berhasil terjadi di negara tersebut berlangsung pada 1972.
Juru bicara pemerintah Benin, Wilfried Leandre Houngbedji, mengatakan hingga Minggu sore sebanyak 14 orang telah ditangkap terkait upaya kudeta itu, tanpa merinci identitas maupun peran mereka.
Kantor Presiden Nigeria Bola Tinubu menyatakan bahwa atas permintaan pemerintah Benin, pihaknya mengirimkan jet tempur Angkatan Udara untuk mengambil alih pengamanan wilayah udara negara tersebut guna membantu mengamankan stasiun televisi pemerintah dan sebuah markas militer dari para perencana kudeta. Nigeria juga mengerahkan pasukan darat.
Blok regional Afrika Barat ECOWAS serta Uni Afrika mengecam keras upaya kudeta tersebut. ECOWAS selanjutnya memerintahkan pengerahan segera pasukan siaga ke Benin, termasuk kontingen dari Nigeria, Sierra Leone, Pantai Gading, dan Ghana.
Tembakan Guncang Cotonou
Sedikitnya delapan tentara bersenjata tampil di televisi pemerintah pada Minggu pagi dan mengumumkan pembentukan komite militer di bawah pimpinan Kolonel Tigri Pascal. Mereka menyatakan membubarkan lembaga-lembaga negara, menangguhkan konstitusi, serta menutup seluruh perbatasan udara, darat, dan laut Benin.
“Angkatan bersenjata dengan khidmat berkomitmen memberikan harapan bagi rakyat Benin untuk era baru yang menjunjung persaudaraan, keadilan, dan kerja,” demikian pernyataan para tentara tersebut.
Mereka menyinggung memburuknya kondisi keamanan di wilayah utara Benin serta pengabaian terhadap rekan-rekan seperjuangan yang gugur sebagai salah satu alasan tindakan tersebut.
Presiden Talon dikenal berhasil menghidupkan kembali perekonomian sejak menjabat pada 2016. Namun, Benin juga menghadapi peningkatan serangan kelompok jihadis yang sebelumnya menimbulkan kekacauan di Mali dan Burkina Faso.
Menteri Luar Negeri Benin Olushegun Adjadi Bakari mengatakan bahwa kelompok pembelot hanya sempat menguasai stasiun televisi pemerintah dalam waktu singkat.
Tembakan terdengar sejak Minggu pagi di sejumlah kawasan Cotonou ketika warga tengah bersiap menuju gereja. Kedutaan Besar Prancis melaporkan suara tembakan di sekitar kediaman Presiden Talon dan mengimbau warga negaranya untuk tetap berada di rumah.
Menjelang siang, polisi tampak dikerahkan di sejumlah persimpangan utama pusat kota.
Pemilu di Depan Mata
Benin tengah mempersiapkan pemilihan presiden pada April mendatang, yang diperkirakan akan menandai berakhirnya masa jabatan Talon.
Bulan lalu, Benin mengesahkan konstitusi baru yang membentuk lembaga Senat dan memperpanjang masa jabatan presiden dari lima menjadi tujuh tahun. Para pengkritik menilai kebijakan tersebut sebagai upaya konsolidasi kekuasaan oleh koalisi penguasa, yang telah mengusung Menteri Keuangan Romuald Wadagni sebagai kandidat presiden.
Partai oposisi Demokrat, yang didirikan oleh mantan Presiden Thomas Boni Yayi, gagal mengajukan calon setelah pengadilan menolak pencalonannya karena dianggap tidak memenuhi syarat dukungan parlemen.
Direktur Program Afrika di Egmont Institute for International Relations, Belgia, Nina Wilen, menilai memburuknya situasi keamanan di wilayah utara kemungkinan menjadi faktor pendorong aksi para tentara.
Menurutnya, Benin merupakan negara pesisir Afrika Barat yang paling terdampak aktivitas kelompok jihadis dari kawasan Sahel tengah. Serangkaian serangan besar pada Januari dan April lalu menewaskan puluhan tentara.
Meski demikian, Wilen menyebut percobaan kudeta kali ini tetap mengejutkan mengingat stabilitas relatif Benin selama setengah abad terakhir.
“Tidak ada kudeta selama 50 tahun merupakan pencapaian besar bagi negara Afrika Barat,” ujarnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











