Kematian Bripda Juventus Edowai Mengguncang Kabupaten Dogiyai
Bripda Juventus Edowai, anggota Polres Dogiyai, ditemukan meninggal dunia di dalam parit di Kampung Kimipugi, Distrik Kamuu, Dogiyai, Papua Tengah, pada Selasa pagi (31/03/2026). Korban diduga dibunuh oleh Orang Tak Dikenal (OTK) menggunakan senjata tajam, mengalami luka bacok serius di leher dan jari tangan. Kematian Bripda Juventus ini menyebabkan situasi di Dogiyai mencekam, memicu kericuhan di Pasar Moanemani, hingga muncul rangkaian kekerasan susulan.
Buntut peristiwa ini, Kompol Yotbech Mince Mayor dicopot dari jabatannya sebagai Kapolres Dogiyai dan digantikan oleh AKBP Dennis Arya Putra. Hal itu untuk memulihkan situasi Kamtibmas pasca kericuhan. Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini, S.I.K., M.Si., lewat surat perintah nomor: sprin/295/IV/KEP.2026 memerintahkan Kompol Yotbech Mince Mayor untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab jabatan sebagai Pamen Polda Papua Tengah dan menunjuk AKBP Dennis sebagai Pelaksana tugas (Plt) Kapolres Dogiyai.
“Iya, ditarik ke Polda,” kata Kapolda Papua Tengah singkat saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026). Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kapolres Dogiyai, AKBP Dennis Arya Putra, mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang fokus mengendalikan situasi kembali kondusif. Oleh karena itu, Dennis meminta kepada seluruh pihak, Pemerintah Daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kamtibmas.
“Sekarang yang kita utamakan adalah keselamatan masyarakat. Kita menjaga kondusifitas dulu baru melakukan semua pendalaman,” ujar Dennis. “Saya baru ditunjuk sebagai Plt, fokus saya kita menjaga kondusifitas dulu. Saya pastikan, kita memulihkan kondisi masyarakat, ekonomi masyarakat, sehingga masyarakat bisa nyaman dalam beraktifitas,” sambungnya.
Jumlah Korban dari Kepolisian dan Sipil
Sebagaimana diberitakan, kericuhan yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah pada Selasa, 31 Maret 2026, tak hanya menyebabkan korban meninggal dari Kepolisian tapi juga dari warga sipil. Dari laporan yang diterima Komnas HAM Papua, terdapat lima warga sipil yang meninggal dunia dalam kericuhan yang terjadi.
“Dari data yang kami terima ada lima warga sipil dan satu Polisi meninggal dunia dalam kericuhan di Dogiyai pada Selasa lalu,” kata Ketua Komnas HAM Papua, Frits Ramandey pada Senin (6/4/2026). Meski begitu, Frits mengatakan, pihaknya akan ke Dogiyai untuk melakukan verifikasi terhadap jumlah pasti korban dari warga sipil. “Rencana hari Rabu besok kami ke sana untuk lakukan verifikasi terhadap korban meninggal dari warga sipil,” ujarnya.
Berbeda dengan Juru bicara Jaringan Damai Papua dan advokat HAM, Yan Christian Warinussy, yang mengatakan jumlah warga sipil yang tewas akibat tertembak senjata api mencapai sembilan orang. Kematian mereka diduga akibat balas dendam kepolisian setempat atas kematian Bripda Juventus. Yan mendesak Komnas HAM RI membentuk tim dan melakukan investigasi langsung ke Dogiyai dan menetapkan kasus ini sebagai pelanggaran HAM.
Ia juga mendesak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memerintahkan anak buahnya menghentikan tindakan sewenang-wenang terhadap warga sipil di Kabupaten Dogiyai dan sekitarnya. “Kasus Dogiyai tidak bisa diselesaikan hanya sekedar melalui jalan mediasi dan bayar membayar adat semata. Penyelesaian hukum atas dugaan pelanggaran HAM berat mesti menjadi pertimbangan semua pihak,” katanya.
Kronologi Penyerangan Mapolres
Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini mengungkap kronologi penyerangan Mapolres Dogiyai yang terjadi pada Selasa (31/3/2026) malam. Aksi tersebut bermula dari penganiayaan berat terhadap personel Polres Dogiyai, Bripda Juventus Edowai atau Bripda JE (24), yang ditemukan tewas mengenaskan di Pertigaan Gereja Kingmi Ebenhaezer, Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
“Kejadian tersebut terjadi pada hari Selasa tanggal 31 Maret 2026 pukul 10.40 WIT, yang ditemukan di Pertigaan Gereja Kingmi Ebenhaezer, Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai berinisial JE (24) yang dilakukan oleh OTK dan mengakibatkan korban meninggal dunia,” kata Kapolda. Korban ditemukan dalam kondisi mengalami luka bacok pada bagian leher hingga kepala belakang, serta luka pada jari kelingking dan jari manis tangan kanan.
Sekitar pukul 11.40 WIT, saksi LR (44) bersama personel Polres Dogiyai yang sedang patroli di kompleks Ikebo melihat warga berlarian di sekitar pertigaan Puskesmas. “Saat personel tiba di pertigaan Puskesmas, masyarakat yang berlarian menyampaikan bahwa aksi tersebut diduga dilakukan sesama masyarakat setempat. Namun, salah seorang warga juga menginformasikan adanya seseorang yang tergeletak di parit depan Gereja Ebenhaezer, sehingga personel segera menuju lokasi tersebut untuk melakukan pengecekan,” lanjut Kapolda.
Saat tiba di lokasi, personel mendapati korban telah tergeletak bersimbah darah dalam kondisi meninggal dunia akibat luka benda tajam. Korban kemudian dibawa ke RSUD Pratama Dogiyai. “JE langsung di bawah ke RSUD Pratama Dogiyai oleh personel saat tiba di TKP,” ujar Kapolda.
Sekitar pukul 12.10 WIT, saat patroli di Jalan Trans Nabire-Enaro, Kampung Ikamenida, personel Polres Dogiyai mendapat serangan dari sekelompok warga. “Ada anggota kami juga yang terkena tembakan senjata PCP pada bagian bahu kiri berinisial Bripda AR (23), pada saat melaksanakan patroli di jalan Trans Nabire-Enaro Kampung Ikamenida,” kata Kapolda. Situasi memanas hingga malam hari. Sekitar pukul 18.30 WIT, sekelompok masyarakat kembali melakukan penyerangan terhadap personel dan Mapolres Dogiyai menggunakan panah dan batu.
“Itu kejadiannya sekitar pukul 18.30 WIT, dan salah satu anggota terkena busur panah di bahu belakang sebelah kanan berinisial AY (22),” tambahnya. Akibat peristiwa ini total personel gabungan yang diberangkatkan ke Papua Tengah berjumlah 148 orang, termasuk di dalamnya 100 personel Brimob, 10 personel tim Badan Intelijen dan Keamanan (BIK), serta 20 personel tim Bareskrim.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











