Perang AS-Israel Melawan Iran Memasuki Hari ke-26
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-26 dengan serangan yang semakin meluas di berbagai wilayah. Eskalasi militer terus berlangsung, ditandai oleh serangan rudal dan drone di kawasan Teluk serta rencana pengiriman 3.000 pasukan AS ke kawasan tersebut. Al Jazeera melaporkan bahwa serangan udara, rudal, dan drone terjadi di Iran, Israel, serta negara-negara Teluk, sementara upaya diplomasi masih berjalan dengan klaim saling bertentangan.
Serangan Intensif di Iran
Serangan terbaru di selatan Teheran dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 28 lainnya. Ledakan juga terjadi di wilayah timur Teheran yang menghancurkan sebuah sekolah serta sejumlah bangunan permukiman. Di tengah situasi tersebut, warga Iran dilaporkan mengalami kebingungan terkait klaim negosiasi dari Amerika Serikat, sementara serangan masih terus berlangsung.
Analis Negar Mortazavi menilai Iran ingin mengakhiri perang dengan syaratnya sendiri, sekaligus membangun efek jera agar konflik tidak terulang di masa depan.
Klaim Negosiasi dan Bantahan Teheran
Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Iran sedang berlangsung untuk mengakhiri perang. Ia bahkan mengklaim Teheran siap memberikan konsesi besar, termasuk terkait minyak, gas, dan Selat Hormuz. Namun Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak ada pembicaraan resmi yang terjadi.
Al Jazeera melaporkan, perbedaan narasi ini memperkuat ketidakpastian di tengah perang yang masih berlangsung.
Rencana Damai 15 Poin
Sejumlah laporan menyebut Washington telah mengirimkan proposal perdamaian 15 poin kepada Iran. Rencana tersebut dilaporkan difasilitasi oleh Pakistan, termasuk melalui peran kepala angkatan daratnya. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan kesiapan negaranya menjadi tuan rumah perundingan. Sementara itu, China dan Prancis juga mendesak Iran untuk membuka jalur diplomasi guna mengakhiri konflik.
Serangan Meluas ke Negara Teluk
Konflik juga meluas ke kawasan Teluk. Sebuah drone menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait dan memicu kebakaran. Otoritas setempat melaporkan tidak ada korban jiwa, namun insiden tersebut memicu prosedur darurat. Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat setidaknya 32 drone dan satu rudal balistik yang menargetkan wilayah fasilitas minyak strategis seperti Ras Tanura, Ghawar, dan Abqaiq. Di Bahrain, serangan dilaporkan menewaskan seorang warga sipil.
AS Perkuat Militer
Di tengah eskalasi, Amerika Serikat berencana mengerahkan sekitar 3.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah. Langkah ini dinilai sebagai sinyal peningkatan kesiapan militer Washington terhadap kemungkinan konflik yang lebih luas. Selain itu, AS juga melonggarkan sebagian sanksi terhadap minyak Iran untuk meredakan tekanan pada pasar global.
Israel Perluas Operasi
Militer Israel melaporkan Iran terus meluncurkan rudal ke wilayahnya. Sistem pertahanan udara diaktifkan setelah lebih dari selusin peringatan serangan dalam satu hari. Israel juga mengumumkan rencana pembentukan zona keamanan sejauh 30 kilometer di Lebanon selatan untuk menghadapi Hizbullah. Pemerintah Israel menegaskan operasi militer akan terus berlanjut hingga kemampuan nuklir dan rudal Iran dinetralisir.
Dampak Besar di Lebanon dan Irak
Di Lebanon, lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas sejak awal Maret akibat meningkatnya serangan. Ancaman invasi darat oleh Israel di selatan Sungai Litani juga semakin menguat. Hizbullah menyatakan telah membalas serangan Israel dengan roket, artileri, dan drone. Sementara di Irak, kelompok bersenjata pro-Iran meningkatkan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat. Pemerintah Irak bahkan berencana memanggil diplomat AS dan Iran menyusul eskalasi konflik tersebut.
Krisis Energi Global Kian Nyata
Konflik ini memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi global. Gangguan di kawasan Teluk menghambat distribusi minyak dan gas ke berbagai negara. Sejumlah negara mulai mengambil langkah darurat, termasuk penghematan energi. Sri Lanka bahkan memerintahkan pemadaman lampu jalan dan reklame untuk mengurangi konsumsi energi. Sementara Filipina mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional akibat lonjukan harga bahan bakar.
Meskipun berbagai upaya diplomasi terus dilakukan, eskalasi militer yang meningkat menunjukkan konflik masih jauh dari kata selesai. Perang ini kini tidak hanya menjadi konflik regional, tetapi juga krisis global yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan energi dunia.











