Perjalanan Kepemimpinan Arafat Ali dari Rimba ke Parlemen
Arafat Ali, seorang tokoh yang kini menjabat sebagai Ketua DPRK Aceh Utara periode 2024–2029, memiliki latar belakang yang sangat berbeda dari kebanyakan pemimpin di parlemen. Ia tidak memulai perjalanannya dari rumah yang mewah atau ruang rapat yang nyaman. Justru, langkah awalnya dimulai dari tempat yang jauh dari kesan modern, yaitu Rimba Pase.
Di sana, langit menjadi atap, tanah menjadi tikar, dan pepohonan menjadi dinding yang melindungi sekaligus menguji. Hutan bukan sekadar tempat, tetapi menjadi rumah dan sekolah kehidupan yang membentuk ketangguhan dan arah langkahnya. Di medan itulah, ia memanggul senapan AK-47 buatan Rusia, memimpin sebuah regu kecil dalam situasi yang penuh ketidakpastian saat konflik Aceh masih terjadi.
Tahun 1999 menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai bagian dari pasukan Siwah Agam. Dua tahun kemudian, di usia yang masih muda, ia dipercaya menjadi komandan regu (danru) dengan 12 personel di bawah komandonya, sebuah amanah yang tidak ringan di tengah situasi penuh tekanan. Kemampuan memimpin, membaca situasi di lapangan, serta membangun komunikasi di tengah tekanan konflik menjadi fondasi awal yang membentuk karakter kepemimpinannya hingga hari ini.
Setelah dua dekade itu berlalu, langkahnya berlabuh di ruang demokrasi. Arafat kembali dipercaya memimpin parlemen Aceh Utara untuk periode kedua, sebuah perjalanan panjang dari rimba perjuangan menuju kursi kepemimpinan. Anggota DPRK Aceh Utara dari Partai Aceh (PA) asal Daerah Pemilihan (Dapil) III itu resmi kembali menjabat Ketua DPRK Aceh Utara periode 2024–2029. Penetapan tersebut dilakukan dalam rapat paripurna DPRK Aceh Utara yang berlangsung di Gedung DPRK Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon, Senin (28/10/2024). Arafat dilantik bersama tiga wakil ketua lainnya sebagai pimpinan definitif lembaga legislatif tersebut.
Sebelum memasuki fase tersebut, Arafat adalah anak desa dengan prestasi akademik yang menonjol. Ia dikenal sebagai siswa yang konsisten berada di peringkat tiga besar sejak sekolah dasar hingga menengah. Bahkan, ia pernah mewakili sekolahnya dalam lomba cerdas cermat di Lhokseumawe saat itu ibukota Kabupaten Aceh Utara. Prestasinya terus berlanjut hingga SMA. Ia berhasil meraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi di Kecamatan Kuta Makmur dan masuk tiga besar di Aceh Utara.
Kesuksesan itu mengantarkannya memperoleh undangan untuk kuliah gratis di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya harus mengubur impian tersebut. Untuk membantu keluarga, Arafat sempat bekerja sebagai barista di warung kopi di desanya. Masa ini menjadi fase penting yang membentuk kedekatannya dengan kehidupan masyarakat akar rumput.
Pasca perdamaian Aceh melalui perjanjian Helsinki, Arafat memilih jalur baru: pengabdian kepada masyarakat. Ia dipercaya menjadi imum mukim di sembilan desa wilayah Sagoe Tgk Chik Di Buloh, sebuah posisi yang membuatnya semakin dekat dengan persoalan sosial masyarakat. Karier organisasinya berlanjut ketika ia menjabat Sekretaris Dewan Pimpinan Sagoe sejak 2012. Dukungan masyarakat pun terus mengalir.
Dalam proses penjaringan calon legislatif, ia memperoleh dukungan signifikan dari tokoh agama, keuchik, dan tuha peut. Langkah politik Arafat dimulai pada Pemilu 2014. Meski berada di nomor urut lima, ia berhasil meraih sekitar 4.200 suara dan terpilih sebagai anggota DPRK Aceh Utara. Kariernya di parlemen berkembang secara bertahap—mulai dari Wakil Ketua Komisi C, Sekretaris Komisi D, hingga Ketua Badan Anggaran.
Popularitasnya semakin meningkat pada Pemilu 2019. Ia meraih 5.200 suara, tertinggi di Aceh Utara, dan dipercaya menjadi Ketua DPRK periode 2019–2024. Pada Pemilu 2024, Arafat kembali menunjukkan dominasinya. Dari total 639 calon legislatif yang memperebutkan 45 kursi, ia meraih suara tertinggi sebanyak 9.618 suara. Perolehan suara signifikan yang dikantongi Arafat memberi kontribusi besar terhadap capaian kursi Partai Aceh (PA), sekaligus memperkuat posisi caleg lain di dapil tersebut.
Ia kemudian dipercayakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh Muzakir Manaf atau Mualem dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PA Kabupaten Aceh Utara, M Jhoni SH. Penunjukan itu dinilai wajar dan proporsional, mengingat besarnya dukungan masyarakat yang ia peroleh.
Di tengah kesibukannya sebagai politisi, Ayah empat anak tersebut tetap menaruh perhatian pada pendidikan. Ia menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi pada 2020 dan Magister Manajemen pada 2023 di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI). Saat ini, suami dari Julina SPd, juga tengah menempuh pendidikan doktor (S3) pada bidang manajemen di Jawa Barat.
Sebagai pemimpin, Arafat dikenal dengan gaya kepemimpinan yang sederhana dan fokus pada penguatan fungsi kelembagaan DPRK. “Sebagai pimpinan, saya berupaya memastikan seluruh komisi dapat bekerja optimal sesuai tugas dan fungsinya,” ujarnya. Bagi banyak pihak, perjalanan hidupnya menjadi cerminan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang, pengalaman, dan kedekatan dengan masyarakat.
Arafat kini memikul harapan baru, mengawal aspirasi rakyat dan memastikan kebijakan yang lahir dari parlemen benar-benar berpihak pada kesejahteraan masyarakat Aceh Utara.











