Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Psikolog Jelaskan Alasan Remaja Mudah Terprovokasi Hingga Tawuran

Penyebab Tawuran di Kalangan Pelajar

Psikolog Miryam A Sigarlaki menjelaskan bahwa keterlibatan remaja dalam tawuran bukan sekadar kenakalan, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut mencakup kebutuhan diterima oleh kelompok sebaya, emosi yang labil, serta lingkungan yang permisif terhadap perilaku agresif.

Tekanan teman sebaya sering kali membuat remaja lebih berani mengambil risiko, bahkan tanpa ajakan langsung, karena takut dikucilkan atau dianggap lemah. Dalam situasi tertentu, imbalan sosial yang dirasakan secara langsung oleh remaja sering kali terasa lebih kuat dibandingkan risiko bahaya yang dianggap masih jauh.

Kadang-kadang dalam momen tertentu, imbalan sosial yang terasa langsung sering kalah kuat oleh risiko yang terasa jauh. Bagi remaja, diterima di kelompok teman sebaya, dianggap berani, tidak dicap pengecut, atau merasa solid dengan teman bisa terasa sangat bernilai. Dalam suasana yang memanas, terutama ketika disaksikan oleh teman-teman sebaya, pertimbangan jangka pendek sering kali lebih dominan dibandingkan perhitungan terhadap bahaya yang mungkin terjadi di masa depan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kehadiran teman sebaya dapat meningkatkan kecenderungan pengambilan risiko pada remaja. Situasi sosial tersebut membuat remaja menjadi lebih sensitif terhadap nilai atau “hadiah” dari tindakan berisiko. Bagi sebagian remaja, ada perasaan keren ketika dia bisa dilihat atau beraksi di antara teman-temannya, apalagi jika didukung oleh kelompoknya.

Dari sudut pandang psikologi remaja, keterlibatan pelajar dalam tawuran umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Miryam menilai ada beberapa faktor yang saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain. Salah satu faktor yang berperan adalah emosi, terutama ketika remaja merasa dipermalukan, dipancing, marah, atau tersinggung. Kondisi ini semakin dipengaruhi oleh perubahan hormon yang masih berlangsung pada masa remaja.

Kalau kita lihat, remaja ini hormonalnya masih naik turun. Hal ini sangat mempengaruhi emosi mereka. Selain faktor emosi, lingkungan juga memiliki pengaruh besar. Remaja yang tumbuh di lingkungan yang akrab dengan kekerasan, konflik, atau norma yang menganggap agresi sebagai sesuatu yang wajar berpotensi lebih mudah terlibat dalam perilaku serupa. Miryam juga menyebut kemungkinan adanya pengalaman traumatis di masa lalu yang turut membentuk respons remaja terhadap konflik.

Di sisi lain, kebutuhan akan pengakuan dari teman sebaya menjadi faktor yang sangat kuat pada masa remaja. Tindakan nekat, termasuk tawuran, kadang dipersepsikan sebagai cara untuk memperoleh status, menunjukkan loyalitas, atau membuktikan rasa memiliki terhadap kelompok. Jadi bukan memilih salah satu antara emosi, lingkungan, atau pengakuan. Justru ketiganya ini sangat kuat saling menguatkan.

Perilaku agresif pada remaja juga berkaitan dengan fase perkembangan psikologis mereka. Masa remaja merupakan periode ketika individu sedang mencari identitas diri dan menjadi lebih peka terhadap penilaian sosial. Pada tahap ini, remaja cenderung lebih reaktif terhadap situasi emosional dan masih mengembangkan kemampuan untuk mengatur emosi serta mengendalikan diri.

Remaja ini sebenarnya sedang belajar membedakan antara bereaksi dan merespons. Kalau bereaksi itu spontan, sedangkan merespons sudah melalui pengolahan secara kognitif. Dari sisi perkembangan otak, masa remaja juga ditandai dengan perubahan besar pada sistem yang peka terhadap ganjaran sosial dan emosional. Sementara itu, kemampuan kontrol diri dan pengambilan keputusan yang matang berkembang secara bertahap.

Kondisi tersebut membuat remaja lebih mudah bereaksi agresif ketika berada dalam situasi terprovokasi atau ketika merasa dipermalukan di hadapan teman-temannya. Tekanan dari kelompok sebaya juga memiliki pengaruh besar dalam keputusan seorang pelajar untuk ikut tawuran. Namun tekanan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk ajakan langsung. Sering kali tekanan muncul secara lebih halus, seperti rasa takut dikucilkan, takut dianggap tidak solid, atau khawatir dicap lemah oleh kelompok.

Tekanan kelompok tidak selalu berupa ajakan langsung seperti “ayo ikutan”. Kadang lebih halus, misalnya seseorang takut dianggap tidak solid atau ingin menjaga nama kelompoknya. Sejumlah studi eksperimental bahkan menunjukkan bahwa remaja cenderung mengambil lebih banyak risiko ketika berada bersama teman sebaya dibandingkan ketika mereka sendirian.

Artinya, keputusan untuk ikut tawuran sering kali bukan murni keputusan personal, melainkan hasil dari dinamika sosial di dalam kelompok. Miryam juga menyoroti peran media sosial yang kerap menjadi pemicu konflik di kalangan remaja. Banyak kasus tawuran bermula dari komentar atau ejekan yang terlihat sepele di ruang digital.

Menurutnya, media sosial mengubah cara konflik berkembang. Komentar atau ejekan bisa menyebar dengan cepat, dilihat banyak orang, dan meninggalkan jejak digital yang dapat terus diulang. Komunikasi berbasis teks juga sering kehilangan isyarat nonverbal seperti ekspresi wajah atau nada suara yang biasanya membantu meredakan kesalahpahaman. Kalau hanya tulisan saja, maksudnya bisa salah diartikan.

Karakteristik media sosial yang bersifat publik, cepat, dan meninggalkan jejak membuat konflik kecil lebih mudah membesar. Ejekan ringan pun dapat terasa sebagai penghinaan di depan publik dan akhirnya berkembang menjadi persoalan harga diri kelompok.

Upaya Pencegahan Tawuran di Kalangan Pelajar

Dalam upaya mencegah tawuran di kalangan pelajar, Miryam menilai pendekatan yang efektif tidak cukup hanya berupa ceramah atau hukuman sesaat. Pencegahan perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Ia menekankan pentingnya membangun keterhubungan antara siswa dengan lingkungan sekolah. Ketika siswa merasa ada guru yang peduli, merasa aman, dan merasa dilihat sebagai individu, risiko kekerasan dapat menurun.

Remaja sebenarnya ingin diterima. Jadi pendekatannya harus dengan cara didengarkan, diterima, dan tidak dihakimi. Pendekatan yang lebih kuat juga melibatkan berbagai lapisan, mulai dari penguatan hubungan dengan sekolah, pelatihan regulasi emosi, pembelajaran penyelesaian konflik, hingga keterlibatan orang tua.

Selain itu, deteksi dini konflik di media sosial dan peran teman sebaya sebagai agen pengaruh positif juga dinilai penting dalam mencegah terjadinya kekerasan di kalangan pelajar. Miryam menegaskan bahwa tawuran remaja tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan kenakalan atau ketidaktahuan akan bahaya.

Menurutnya, fenomena tersebut sering kali merupakan hasil pertemuan antara emosi yang meledak, kebutuhan akan penerimaan kelompok, lingkungan yang permisif terhadap kekerasan, serta kemampuan regulasi diri yang masih berkembang. Pencegahannya harus menyentuh banyak aspek sekaligus, mulai dari relasi, budaya sekolah, hingga ruang digital tempat mereka berinteraksi.

Tawuran Maut di Bandung

Sebuah rekaman video menampilkan dugaan tawuran antara pelajar SMAN 5 dan 2 Bandung, viral di media sosial. Peristiwa yang diketahui terjadi pada Jumat (13/3/2026) malam hingga Sabtu (14/3/2026) dini hari itu, menewaskan satu orang siswa. Dalam rekaman video yang beredar, terlihat para pelajar tengah berkelahi dan saling mengeroyok. Terlihat satu orang pemuda tergeletak di pinggir jalan.

Peristiwa itu pun dibenarkan oleh Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson. Menurutnya, peristiwa pengeroyokan antar pelajar SMAN 5 Bandung dengan SMAN 2 Bandung, Jumat (13/3/2026). Akibat kejadian itu, satu orang pelajar SMAN 5 Bandung tewas.

“Dugaan sementara (aksi pengeroyokan) anak SMAN 5 Bandung dengan SMAN 2 Bandung,” ujar Riki, Sabtu (14/3/2026). Riki menyebut, satu orang siswa SMAN 5 Bandung meninggal akibat peristiwa tersebut. “Iya meninggal dunia anak SMAN 5 Bandung,” katanya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *