Peristiwa Penyiraman Air Keras terhadap Wakil Koordinator KontraS
Pada malam hari tanggal 12 Maret 2026, Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), menjadi korban penyiraman air keras di kawasan Jakarta Pusat. Kejadian ini berlangsung di Jalan Talang, dekat Jembatan Talang, saat Andrie sedang mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I-Talang, Senen, Jakarta Pusat.
Detik-Detik Penyiraman Air Keras
Andrie baru saja menyelesaikan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia yang membahas topik “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”. Saat melintas di lokasi kejadian, dua orang pelaku yang mengendarai sepeda motor diduga Honda Beat keluaran tahun 2016 hingga 2021 mendekati korban dari arah berlawanan.
Pelaku pertama, yang bertindak sebagai pengendara, mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap yang diduga berbahan jeans, serta helm berwarna hitam. Sementara itu, pelaku kedua yang duduk di belakang mengenakan penutup wajah atau masker menyerupai buff berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos biru tua, serta celana panjang biru yang dilipat hingga pendek dan diduga berbahan jins.
Saat berpapasan dengan korban, pelaku yang datang dari arah berlawanan langsung menyiramkan air keras ke arah Andrie. Seketika korban menjatuhkan motornya di pinggir jalan hingga berteriak histeris. Teriakan korban tersebut kemudian mengundang perhatian sejumlah warga sekitar dan mendatangi yang bersangkutan.
Tanggapan dari Saksi Mata
Buyung (32), salah satu saksi mata, menceritakan penyiraman terhadap Andrie terjadi menjelang tengah malam. Saat itu, Buyung sedang bermain gitar bersama rekannya di ujung Jembatan Talang.
“Tiba-tiba terdengar ‘Tolong! Tolong!’, suaranya kencang tuh ‘Tolong, tolong!’. Terus saya taruh gitar, saya ke asal suara,” ujar Buyung kepada Kompas.com saat ditemui di Jembatan Talang, Jumat (13/3/2026) malam.
Buyung melihat motor sudah tergeletak, korbannya sudah kepanasan gitu. Bajunya juga sudah sobek, disobek sendiri sama dia karena kena air keras ya. Saat itu Buyung melihat belasan warga telah mengerumuni korban.
Warga kemudian menanyakan apa yang terjadi kepada Andrie yang saat itu meringis kesakitan. “Ditanya ‘Kenapa nih, kenapa?’, ‘Saya disiram air keras’, ‘Kenapa, gimana?’. Dijawab, enggak tahu tuh sama orang enggak dikenal,” tutur Buyung.
Dugaan Upaya Pembunuhan oleh Novel Baswedan
Eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan turut buka suara mengenai penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Novel meyakini serangan tersebut bukan sekadar aksi kekerasan biasa. Ia menilai ada dugaan upaya pembunuhan di balik penyerangan terhadap Andrie.
“Pelaku menyiram air keras di area muka. Kalau muka kena air keras, ada kemungkinan gagal napas dan bisa (menyebabkan) meninggal,” kata Novel. “Paling tidak pelaku ini menghendaki cacat permanen.”
Penyerangan terhadap Andrie digambarkan sebagai kekerasan serius oleh Novel. Ia menuturkan bahwa Andrie merupakan sosok yang baik, kritis, dan mencintai negara ini.
Kondisi Korban
Selain tubuhnya, baju dan speedometer motor Andrie pun melepuh. Hal itu dicurigai karena air keras yang mengenai tubuh Andrie mengandung suatu kandungan asam. “Jadi dicurigai ini adalah asam yang memang melepuh. Jadi bajunya itu seperti baju langsung dibakar. Bahkan speedometer motornya pun melepuh,” kata Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur.
Andrie saat ini sudah menjalani operasi di RSCM yang ditangani oleh 22 dokter. Dimas Bagus Arya, Koordinator Badan Pekerja KontraS, menyebut ada enam dokter spesialis yang menangani Andrie Yunus, yakni dokter mata, dokter saraf, dokter THT, dokter kulit, dokter organ dalam (pernapasan), serta dokter forensik.
Penilaian Komnas HAM
Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menilai serangan terhadap Andrie Yunus tak terlepas dari aktivitasnya sebagai penggiat hak asasi manusia. “Yang aktif bersikap kritis dalam melakukan kerja-kerja pembelaan hak asasi manusia, menjadikan serangan yang ia terima patut diduga kuat merupakan bagian dari serangan yang ditujukan terhadap pembela hak asasi manusia,” ucapnya.
Komnas HAM pun mendesak kepolisian untuk menangani perkara itu secara independen, cepat, transparan, dan akuntabel. Mereka juga meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk memberikan akses perlindungan kepada korban dan pihak yang berkaitan dengan serangan tersebut jika dibutuhkan.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











