Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Opini  

Ketika Hati Nurani Menjadi Pedoman

Peran Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi

Manusia seringkali disebut sebagai makhluk unik. Hal ini muncul karena manusia memiliki tiga unsur atau potensi yang membedakannya dengan makhluk lain, yaitu jasmani beserta pancaindra, akal, dan hati (unsur rohani). Dengan modal tersebut, manusia bukan hanya dinilai sebagai puncak ciptaan, tetapi oleh Sang Maha Pencipta sendiri ia dijadikan sebagai “khalifah” di muka bumi.

Innī jã’ilun fi al-ard khalīfah: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi (Qs. Al-Baqarah/2: 30). Kata “khalīfah”, secara bahasa, berasal dari bahasa Arab: khalafa-yakhlufu-khalfan-khilafatan, berarti: pengganti, wakil, penerus atau belakang. Kata ini merujuk pada seseorang yang menggantikan peran, fungsi atau kedudukan orang sebelumnya. Namun secara hakiki kata “khalīfah” dapat pula dimaknai sebagai: manusia diutus untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, menebar kemaslahatan, serta menjaga alam dari kerusakan.

Namun demikian menjadi khalifah di muka bumi bukanlah satu-satunya tujuan penciptaan manusia. Dalam Qs. Az-Zariyat/51: 56, Allah juga berfirman: Wa mâ khalaqtul-jinna wal-insa illâ liya‘budûn : Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Dengan demikian, di saat menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi manusia sejatinya mengintegrasikan nilai-nilai Ketuhanan bersumber dari nilai-nilai ibadah yang ia jalani.

Boleh jadi karena perannya itulah manusia dianggap sebagai puncak daripada ciptaan Tuhan, suatu peran yang tak dimiliki makhluk lainnya.

Unsur-Unsur Manusia

Jika jasmani merupakan unsur yang keberadaannya nyata atau dapat terlihat, akal dan hati justru sebaliknya: bersifat rohaniah. Akal dan hati yang dimaksud bukanlah dalam artian fisik atau berwujud sebongkah daging (al-kabidu), tetapi merupakan suatu potensi kemampuan berfikir dan merasa. Dan di antara ketiga unsur tersebut, hati boleh dikata merupakan core (inti) dari eksistensi seorang manusia.

Agar ketiga unsur tersebut sustainable, berfungsi dengan semestinya, tentulah ia butuh maintenance (perawatan). Caranya pun tak mesti sama. Jika potensinya berupa unsur jasmani atau fisik tentu butuh asupan makanan bergizi agar tumbuh sehat, istirahat dan olahraga teratur, pengobatan serta dijaga kebersihan dan kesuciannya. Begitu pula unsur akal dan hati. Selain dioptimalkan, ia juga butuh perawatan atau disucikan agar fitrahnya terjaga.

Dalam dunia filsafat pendidikan Islam terdapat beberapa disiplin ilmu terkait ketiga unsur/potensi manusia tersebut, misalnya ilmu fikih, filsafat Islam (terutama ilmu mantiq/logika) serta tasawwuf. Jika bidang ilmu yang pertama banyak berkaitan dengan urusan yang bersifat jasmaniah (seperti pada bab thaharah yang membahas tentang bersuci terkait anggota tubuh), yang kedua berkaitan dengan olahfikir atau akal, sedangkan yang ketiga adalah bersinggungan dengan masalah olahrasa atau batin (hati).

Dalam ilmu fikih khususnya bab thaharah, misalnya, mensucikan unsur jasmaniah manusia dapat dilakukan dengan tayamum, berwudhu ataupun mandi. Sementara melalui filsafat atau ilmu mantiq (logika), dengan mengarahkan akal berfikir secara logis dan sistematis tentang sesuatu, potensinya pun diyakini akan teraktualkan sehingga tak mudah alami degradasi atau penurunan fungsi seperti mudah pikun dan lain-lain. Semakin sering akal digunakan untuk berfikir logis, semakin berkembang pula potensinya.

Begitu pula dengan tasawwuf atau sufi, merupakan ilmu, pendekatan atau metode yang digunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Hati–yang merupakan inti manusia–pun perlu didekatkan dengan cara mengingat Sang Penciptanya agar ia menjadi tenang (nafs al-muthmainnah).

Peran Jasmani, Akal dan Hati

Dalam menjalankan peran dan fungsinya, antara jasmani, akal serta hati tentu saling kait-mengait. Jasmani ataupun panca indera, misalnya, dalam melakukan sesuatu didasari atas logika akal sehat serta niat atau kemauan hati. Begitu pula akal. Dalam berfikir tentang suatu persoalan pun ia seringkali merujuk pada kehendak hati. Sedangkan hati sendiri, karena menjadi pusat rujukan bagi jasmani dan akal, maka ia bukan sekadar penentu di ruang pusat komando, melainkan wajah bagi diri (nafs) manusia itu sendiri.

Karenanya, agar hati dapat memberi keselamatan (qolbun salīm) bagi diri manusia maupun seisi alam semesta niscaya hati pun tak boleh berjauh-jauh dari Tuhan sekaligus Tuannya itu. Ia harus mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian orang itu pun akan menjadi pribadi yang utuh: sebagai khalîfah di muka bumi sekaligus sebagai ‘abid (beribadah kepada Tuhannya).

Ibarat barang elektronik yang digunakan terus-menerus namun tak pernah dapatkan maintenance, maka hati bahkan diri (nafs) manusia pun akan menemui gangguan bahkan kerusakannya. Itulah mengapa di antara manusia masih ada saja yang menjadi “srigala” bagi manusia lainnya, karena hati yang menuntun akal serta jasmani orang tersebut jarang atau bahkan tak pernah mendekatkan diri kepada Penciptanya. Sehingga apa yang ia lakukan pun jauh dari nilai-nilai Kebenaran.

Karena itu, di saat seseorang memerankan mode sebagai khalîfah di muka bumi, entah itu sebagai pemimpin perusahaan, karyawan, atau apapun itu profesinya, ia pun tak serta-merta mematikan alarm atau mode sebagai ‘abid. Sehingga di dekatnya terhampar “sejadah” tempat ia menyungkurkan dahinya. Inilah makhluk yang disebut sebagai puncak ciptaan Tuhan itu. Ia tak hanya kenal dirinya, tapi juga mengingat akan Penciptanya.

Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (Barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya dia akan mengenal Tuhannya). Eksistensi manusia yang kenal akan diri dan Tuhannya bukan saja dapat menjadikannya terhindar dari menjadi petaka bagi makhluk lainnya, tapi juga akan menjadi khalîfah di muka bumi yang hatinya selalu terbimbing oleh rahmatNya. Eksistensinya yang menebar cinta di lingkungannya digambarkan seolah ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) sedang berada di bumi–sesuatu yang juga dipraktik oleh Nabi s.a.w semasa hidupnya.

Irhamū man fi al-‘ard yarhamkum man fi al-samā: Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang dilangit pun akan menyayangimu (HR. At-Tarmidzi, No. 1924).

Seluk-Beluk Hati

Sebagai core (inti), tak ada sesuatu yang lebih bernilai dari diri seseorang selain dari bercahayanya hati. Jika ia dirawat, yakni dengan konsisten mengingat Allah (dzikrullāh), cahayanya pun akan terpantul dalam perilaku akhlak mulia (akhlak al-karimah)–sebagaimana dicontohkan dalam perilaku hidup Nabi s.a.w.

Perumpamaan hati digambarkan laksana sebuah istana yang terletak dalam rongga dada seorang Bani Adam. Ia boleh dikata merupakan miniaturnya (Mikrokosmos) alam semesta yang maha luas (Makrokosmos). Dalam sebuah Hadis Qudsi (seperti dikutip Tudjimah, 1961: 224), Allah Ta’ala berfirman: “Telah Kubuat dalam rongga Bani Adam sebuah Istana, dalam Istana itu ada Shadr, dan dalam Shadr ada Qolbu, dalam Qolbu ada Fu’ād, dalam Fu’ād ada Shāghāf, dan dalam Shāghāf ada Lubb, dan dalam Lubb ada Sirr, dan dalam Sirr ada Aku”.

Merangkum dari karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniri (abad 17 M) berjudul Asrār Al-Insān Fī Ma’rifa Al-Rūh wa Al-Rahmān (dalam Tudjimah, 1961: 224-225), serta karya Al-Hakim Al-Tirmidzi berjudul Biarkan Hatimu Bicara, terjemahan dari kitab Bayān Al-Farq Bayna Al-Shadr wa Al-Qalb wa Al-Fu’ād wa Al-Lubb, (Jakarta: Zaman, 2011), gambaran seluk-beluk hati dapat diilustrasikan sebagai berikut.

Bahwa hati itu bagaikan sebuah istana yang dibuatkan Allah Ta’ala dalam rongga dada Bani Adam. Tampak dari halaman luar ia dinamakan Shadr (dada, tempatnya cahaya al-Islam). Di dalam Shadr ada Qolbu (hati, tempatnya cahaya al-Iman), di dalam Qolbu ada Fu’ād (hati-lebih-dalam, tempatnya cahaya al-ma’rifat). Selanjutnya di dalam Fu’ād ada Shāghāf (cahaya cinta manusia kepada sesama makhluk), dan di dalam Shāghāf ada Lubb (inti-hati-terdalam, tempatnya cahaya al-Tauhid). Lalu, di dalam Lubb terdapat suatu tempat paling rahasia yang disebut dengan Sirr. Di sinilah sesungguhnya tersembunyi rahasia daripada Allah Ta’āla.

Syaikh Nuruddin Ar-Raniri (dalam Tudjimah, 1961: 226), menjelaskan: Ibn Umar berkata, bahwa Nabi pernah ditanya oleh seorang sahabat: “Allah itu dimana? Di bumi atau di langit?” Maka jawab Nabi s.a.w: “Dalam hati hambaNya yang mu’min”. Dengan demikian, kembali kepada hati nurani (Arab: Nūr, cahaya; hati nurani = hati yang bercahaya) merupakan salah satu ikhtiar melihat Tuhan dari jarak dekat.

Semakin seseorang kembali kepada hati nuraninya, semakin terang lentera Kebenaran itu terihat. Istafthi qalbak, mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan hati dan keburukan adalah sesuatu yang menggelisahkan hati. Wallāhu a’lam.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *