Produksi Tanaman Terbesar di Dunia
Data dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa tebu menjadi tanaman dengan produksi terbesar di dunia, mencapai sekitar 1,94 miliar metrik ton per tahun. Angka ini melampaui jagung, beras, dan gandum, yang berada di posisi kedua hingga keempat. Produksi tebu yang sangat besar menunjukkan betapa pentingnya komoditas ini dalam berbagai industri, termasuk pangan, biofuel, dan pengolahan makanan.
Berikut adalah daftar 10 tanaman dengan produksi terbesar di dunia pada tahun 2024:
- Tebu – 1,94 miliar metrik ton
- Jagung – 1,22 miliar ton
- Beras – 820 juta ton
- Gandum – 798 juta ton
- Kelapa sawit – 418 juta ton
- Kacang kedelai – 397 juta ton
- Kentang – 390 juta ton
- Singkong segar – 341 juta ton
- Bit gula – 293 juta ton
- Tomat – 188 juta ton
Tebu mengambil posisi pertama dengan volume produksi yang jauh lebih besar dibandingkan komoditas lainnya. Hal ini menegaskan perannya sebagai salah satu tanaman paling penting di dunia. Produksi yang besar ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan tetapi juga mendukung industri-industri besar seperti biofuel dan pemanis.
Stok Beras Nasional Melimpah
Di Indonesia, tren produksi beras juga menunjukkan peningkatan signifikan. Pada tahun 2025, produksi beras nasional mencapai 34,71 juta ton. Kondisi ini membuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog pada Februari 2026 menyentuh angka 3,3 juta ton. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkirakan bahwa dalam tiga bulan ke depan, stok beras dapat menembus 6 juta ton.
Namun, kapasitas gudang Bulog di seluruh Indonesia saat ini hanya sekitar 3 juta ton. Untuk mengantisipasi lonjakan stok, Bulog telah menyewa tambahan gudang berkapasitas 1 juta ton. Meskipun demikian, peningkatan produksi yang sangat cepat membuat kebutuhan ruang penyimpanan diperkirakan masih akan bertambah dan memerlukan dukungan anggaran tambahan.
Dari Swasembada Menuju Ekspor Beras Premium
Melimpahnya stok beras membuka peluang ekspor baru bagi Indonesia. Bulog mulai menjajaki pengiriman beras premium melalui produk Beras Haji Nusantara ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jemaah Haji dan Umrah. Penjajakan dilakukan lewat business matching di Jeddah yang mempertemukan Bulog dengan importir dan penyedia katering haji.
Produk beras premium Indonesia mendapat respons positif karena teksturnya pulen, aromanya baik, dan sesuai selera konsumen setempat. Pemerintah telah menetapkan rencana pengiriman awal sebanyak 2.280 ton pada minggu ketiga Februari 2026. Langkah ini menjadi pintu masuk Indonesia dalam rantai pasok pangan untuk sektor Haji dan Umrah di Arab Saudi.
Dengan swasembada yang telah tercapai, impor yang ditekan, serta ekspor yang mulai dibuka, sektor pangan nasional kini bukan hanya menjadi penopang ketahanan dalam negeri, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di pasar global.









