Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Awal Mula Serangan Terhadap Ketua BEM UGM, Kampus Siap Bersikap Tegas

Awal Mula Rentetan Teror yang Diterima Ketua BEM UGM

Sejumlah ancaman dan teror yang dialami oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, memicu kekhawatiran dari pihak kampus. Teror tersebut dimulai dari pesan-pesan singkat yang dikirimkan oleh nomor asing, hingga tindakan penguntitan oleh seseorang tak dikenal. Pihak universitas langsung merespons dengan memberikan perlindungan dan pemantauan terhadap Tiyo.

Peristiwa Awal yang Memicu Teror

Teror yang dialami oleh Tiyo bermula dari aksi BEM UGM yang mengirimkan surat kepada Nations Children’s Fund (UNICEF). Surat tersebut ditujukan karena melihat adanya ironi di tengah masyarakat Indonesia. Contohnya, seorang anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli pena dan buku. Sementara itu, negara menggelontorkan dana besar-besaran untuk program seperti iuran Board of Peace (BoP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tiyo menjelaskan bahwa tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak proporsional. Ia menyatakan bahwa hal ini menjadi dasar bagi BEM UGM untuk mengirimkan surat ke UNICEF.

Jenis-Jenis Teror yang Dialami

Setelah mengirimkan surat ke UNICEF, Tiyo mulai menerima berbagai pesan ancaman dari nomor asing. Pesan-pesan tersebut berisi kata-kata kasar seperti “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, dan lainnya. Pesan-pesan tersebut dikirimkan secara terus-menerus, meskipun tidak semua direspons.

Selain pesan, Tiyo juga mengaku sempat dikuntit oleh dua orang tak dikenal. Kedua orang tersebut difoto dari kejauhan, namun berhasil menghilang saat dikejar. Hal ini menunjukkan bahwa teror yang dialaminya semakin intens.

Teror Serupa yang Pernah Terjadi

Tiyo mengungkapkan bahwa teror serupa pernah dialaminya sebelumnya. Contohnya, fotonya dipasang di lokasi Abu Bakar Ali dengan tulisan “antek asing”. Selain itu, ia juga mengalami teror penculikan saat sedang berada di kereta setelah mengikuti demo besar-besaran pada Agustus lalu.

Menurut Tiyo, teror yang dialaminya adalah bagian dari bahasa kekuasaan. Ia menilai bahwa setiap ekspresi rakyat yang mencerminkan kepedulian terhadap bangsa harus dilindungi, bukan dianggap sebagai ancaman.

Kampus Siap Memberikan Perlindungan

Peristiwa teror yang dialami oleh Tiyo telah diketahui oleh pihak kampus. Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan komitmennya untuk melindungi civitas akademikannya jika terjadi ancaman terhadap keselamatan.

Juru Bicara UGM, Dr I Made Andi Arsana, menyatakan bahwa pimpinan universitas telah melakukan komunikasi dengan Tiyo. Pihak kampus kemudian menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan.

“Pada prinsipnya, atas nama institusi dan berdasarkan konstitusi, UGM berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika UGM dari ancaman atau teror yang berasal dari mana pun,” ujar Made Andi dalam keterangan resminya.

Harapan dan Pernyataan Tiyo

Tiyo berharap bahwa teror yang dialaminya adalah yang terakhir. Menurutnya, teror tersebut merupakan alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia masih memiliki banyak tantangan.

Ia menegaskan bahwa kebebasan dalam negara demokrasi bukan hanya diberikan oleh negara, tetapi ada dalam diri setiap warga negara. Oleh karena itu, ia berharap tidak ada lagi kejadian teror terhadap individu atau lembaga lain.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *