Kondisi Sekolah yang Memprihatinkan di Dusun Nekto
Di tengah keindahan alam yang menyejukkan, sebuah bangunan sederhana yang nyaris tidak layak berdiri sebagai sekolah dasar di Dusun Nekto, Desa Raiulun, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. SD Nekto, sekolah kelas jauh dari SD Inpres Ninma, menjadi tempat pendidikan bagi 16 siswa yang berjuang untuk mendapatkan akses pendidikan.
Bangunan yang Nyaris Runtuh
Gedung SD Nekto terdiri dari dua ruangan yang saling bergandengan. Atapnya terbuat dari daun gewang, dindingnya dari bambu, dan lantainya dari tanah liat. Struktur bangunan ini sangat rapuh dan sudah mulai miring. Atapnya bolong di beberapa bagian, sedangkan daun gewang yang lapuk jatuh berserakan di tanah. Beberapa dinding bahkan telah roboh dan tergeletak di sekitar gedung.
Ruang bagian depan sekolah tampak kosong dan terbuka, sementara di ruang belakang masih terdapat meja kayu, bangku kayu, serta papan tulis kusam yang digunakan oleh siswa untuk belajar. Meski kondisi bangunan memprihatinkan, lingkungan sekitar sekolah justru menyuguhkan keindahan alam yang luar biasa. Hamparan rumput hijau membentang luas di halaman sekolah, sementara Gunung Mande’u terlihat kokoh dari kejauhan.
Perjuangan Seorang Guru
Goreti Ulu (41), satu-satunya guru yang masih setia mengabdi di SD Nekto, menceritakan perjuangannya dengan mata berbinar dan suara bergetar. Ia mulai mengajar di sekolah tersebut sejak tahun 2022 bersama seorang guru lain dari SD Inpres Ninma. Menurut Goreti, keberadaan sekolah kelas jauh ini bermula dari keprihatinan terhadap jarak tempuh yang harus dilalui anak-anak Dusun Nekto jika ingin bersekolah ke Desa Kusa atau Raimanuk.
Jarak yang jauh dan medan yang berat membuat anak-anak, terutama yang masih kecil, sering kesulitan dan terancam putus sekolah. Untuk memastikan anak-anak tetap bisa belajar, mereka memilih membuka sekolah kelas jauh ini.
Namun, seiring waktu, keterbatasan tenaga pendidik menjadi masalah serius. Guru dari sekolah induk yang sebelumnya membantu mengajar kini tidak lagi mengajar di sana. Hingga akhirnya, Goreti harus berjuang sendiri mempertahankan sekolah tersebut ketika wacana penutupan sempat mencuat.
Kondisi Siswa dan Fasilitas
Saat ini, SD Nekto memiliki 16 orang siswa. Rinciannya, kelas satu berjumlah empat orang, kelas dua satu orang, kelas empat sembilan orang, dan kelas lima dua orang. Sedangkan kelas tiga dan kelas enam tidak ada murid. Sekolah lain terdekat berjarak sekitar tujuh kilometer, baik menuju sekolah di Buitae, pusat Desa Raiulun, maupun ke sekolah induk SD Inpres Ninma.
Sekolah ini dibangun pada tahun 2022 melalui swadaya masyarakat Dusun Nekto, khususnya para orang tua murid. Tanah tempat berdirinya sekolah merupakan milik pribadi Goreti Ulu yang ia serahkan untuk kepentingan pendidikan. Hingga kini, ia mengajar secara sukarela dengan insentif sebesar Rp 200.000 per bulan dari sekolah induk. Insentif tersebut kerap diterima tidak menentu, bahkan bisa enam bulan hingga satu tahun baru dibayarkan.
Kondisi Bangunan yang Semakin Rusak
Seiring waktu, kondisi bangunan sekolah mulai rusak parah sejak tahun 2024 akibat hujan deras dan angin kencang. Saat musim hujan dan angin, proses belajar terpaksa dipindahkan ke rumah Goreti dengan izin kepala sekolah. Jika cuaca memungkinkan, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan di gedung sekolah meski dalam kondisi penuh risiko.
Sebagai guru, Goreti tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat kondisi sekolah dan murid-muridnya. Ia mengaku pernah berada di titik hampir menyerah, namun rasa prihatin terhadap anak-anak membuatnya kembali bangkit dan bertahan.
Masalah Administrasi dan Akses
Secara administrasi, siswa SD Nekto tercatat dalam penerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) melalui sekolah induk. Namun hingga kini, belum ada bantuan fasilitas belajar mengajar yang bersumber dari dana tersebut. Meja, bangku, dan papan tulis yang digunakan saat ini merupakan fasilitas lama yang dibawa dari sekolah induk sejak awal berdirinya sekolah kelas jauh itu. Dari 16 siswa, hanya lima orang yang menerima bantuan beasiswa, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP).
Tak hanya bangunan sekolah yang memprihatinkan, akses jalan menuju lokasi pun sangat sulit. Jalan menuju sekolah masih berupa tanah dan bebatuan licin, berjarak sekitar tiga kilometer dari jalan lintas Malaka–Belu. Selain itu, sekolah dan seluruh perkampungan Dusun Nekto hingga kini belum teraliri jaringan listrik.
Harapan untuk Masa Depan
Di tengah keterbatasan fasilitas, minimnya perhatian, dan kondisi gedung yang kian rapuh, semangat belajar anak-anak Dusun Nekto serta pengabdian seorang guru bernama Goreti Ulu tetap menjadi nyala kecil harapan. Di bawah atap daun gewang yang nyaris runtuh, mimpi-mimpi tentang masa depan masih berusaha bertahan, menunggu uluran tangan kepedulian dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”









