Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Hukum  

Kapan Batas Akhir Bayar Utang Puasa Ramadan? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad



Pertanyaan tentang batas akhir untuk membayar utang puasa Ramadan sering kali muncul, terutama jika Ramadan berikutnya sudah tiba. Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, bepergian jauh (musafir), hamil, menyusui, atau halangan lain yang dibenarkan oleh syariat, seseorang diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya di kemudian hari.

Penggantian puasa ini disebut dengan istilah qadha puasa. Lalu, kapan batas akhir untuk membayar utang puasa Ramadan?

Beberapa waktu lalu, Ustaz Abdul Somad pernah menjelaskan tentang pertanyaan ini. Dalam sebuah sesi Q&A, seorang jamaah bertanya tentang batas waktu untuk membayar utang puasa Ramadan. Menurut Ustaz Abdul Somad, seseorang yang ingin membayar utang puasa Ramadan tahun lalu masih memiliki waktu hingga bulan Ramadan tahun ini. Artinya, qadha puasa bisa dilakukan hingga akhir bulan Syaban.



“Batasnya (qadha puasa Ramadan tahun lalu) kapan? sampai Ramadan (tahun) ini,” ujar Ustaz Abdul Somad.

Selain itu, Ustaz Abdul Somad juga menjelaskan hukum orang yang ingin membayar utang puasa di bulan Syaban pada hari Senin. Ia menyebut bahwa orang tersebut akan mendapatkan tiga keuntungan: utang puasanya lunas satu hari, mendapat keutamaan puasa sunah Syaban, dan juga puasa hari Senin.

“Siapa yang mengganti puasa di bulan Syaban hari Senin otomatis dapat tiga, puasa qada lunas satu hari, puasa sunah syaban dapat, puasa hari Senin dapat,” tambah Ustaz Abdul Somad.

Namun, menurut sang ustaz, niatan puasa untuk mendapatkan tiga keuntungan itu hanya diucapkan satu saja, yakni niat untuk qadha puasa Ramadan. “Niatnya satu aja, saya niat puasa qada. Otomatis dapat tiga. Jadi enggak perlu niatnya tiga,” jelas Ustaz Abdul Somad.

Jika Belum Bayar

Bagaimana jika seseorang belum juga membayar utang puasa Ramadhan tahun lalu karena bulan Ramadhan tahun ini telah tiba? Menurut Ustaz Abdul Somad, seseorang tersebut masih bisa membayarkan utang puasanya setelah bulan Ramadhan tahun ini berakhir. Namun, dalam qadha puasa selanjutnya, orang tersebut harus membayar fidiah. Fidiah ini dilakukan dengan cara memberikan makanan kepada orang miskin selama satu hari.

“Kalau sampai Ramadhan dia belum men-qadha juga maka dia dapat qadha setelah Ramadhan plus fidiah. Fidiah apa? memberi makan fakir miskin selama satu hari. Bukan satu kali makan, tapi satu hari makan. Paling tidak tiga kali, makan pagi, siang, makan malam,” lanjut Ustaz Abdul Somad.

Kapan Batas Akhir Membayar Puasa Ramadan Menurut Hadis?

Dalam beberapa hadis, penjelasan tentang batas waktu qadha puasa Ramadan tersedia. Salah satunya adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunah, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari 1914 dan Muslim 1082).

Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa selama Sya’ban. Bahkan beliau melakukan puasa Sya’ban sebulan penuh. Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari 1970 dan Muslim 1156).

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *