MINNEAPOLIS,
Penggerebekan besar-besaran oleh Petugas Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di Minneapolis memicu kemarahan terhadap pemerintah AS. Operasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mendeportasi jutaan imigran ilegal.
Seorang bocah berusia lima tahun bernama Liam Conejo Ramos ditahan dalam operasi tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa anak itu termasuk yang ditahan. Menurutnya, agen federal tidak punya pilihan setelah ayah sang anak kabur saat penggerebekan berlangsung.
“Apa yang seharusnya mereka lakukan? Apakah mereka tega membiarkan bocah berusia lima tahun membeku sampai mati?” ujar Vance dalam pernyataan. Pernyataan ini justru memicu kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk tokoh politik dan organisasi internasional.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk menyerukan agar otoritas AS mengakhiri tindakan yang tidak manusiawi terhadap migran dan pengungsi. “Saya terkejut dengan pelecehan dan penghinaan terhadap migran dan pengungsi yang kini menjadi hal yang sering terjadi,” ujarnya. Ia juga menanyakan di mana kepedulian terhadap martabat mereka dan kemanusiaan kita bersama.
Anggota Kongres Demokrat asal Texas, Joaquin Castro, secara terbuka menentang pernyataan Vance. Ia menyebut otoritas Keamanan Dalam Negeri sebagai “pembohong yang sakit jiwa.” Castro mengaku belum bisa menemukan keberadaan Ramos, yang disebut-sebut ditahan bersama ayahnya di San Antonio, Texas. “Staf dan saya sudah bekerja untuk mencari tahu keberadaannya, memastikan bahwa dia aman, dan untuk menuntut pembebasannya oleh ICE,” ujar Castro dalam video yang diunggah di media sosial X. Namun, hingga saat ini ICE belum memberikan informasi kepada Castro maupun timnya.
Protes warga dan kecaman pejabat AS
Seruan aksi protes terhadap ICE beredar luas di media sosial. Demonstrasi besar direncanakan berlangsung di pusat Kota Minneapolis pada Jumat (23/1/2026). Selain itu, sejumlah aktivis juga menyerukan boikot ekonomi sebagai bentuk perlawanan. Warga diminta tidak bekerja, tidak berbelanja, dan tidak bersekolah sebagai bagian dari aksi protes tersebut.
Mantan Wakil Presiden AS Kamala Harris menyatakan kemarahannya atas penahanan Liam Ramos. “Liam Ramos masih bocah. Dia seharusnya di rumah bersama keluarganya, bukan dijadikan umpan oleh ICE dan ditahan di pusat penahanan Texas,” tulis Harris di X. Harris juga membagikan foto Ramos mengenakan topi rajut biru dengan telinga kelinci putih, didampingi seseorang yang tampak memegang ranselnya. Foto lain menunjukkan Ramos dikawal pria berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup.
Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengecam keras tindakan aparat penegak hukum. Ia menuduh mereka meneror penduduk dan menggunakan anak-anak sebagai pion. Wali Kota Minneapolis Jacob Frey turut bersuara. Dia menyebut masuknya 3.000 agen federal ke kotanya terasa seperti “pendudukan.” “Anak-anak diperlakukan seperti penjahat oleh pemerintah federal,” ujarnya.
ICE bantah targetkan anak
Departemen Keamanan Dalam Negeri membantah bahwa Ramos menjadi target operasi. Menurut mereka, anak itu ditinggalkan oleh ayahnya saat agen sedang menangkap sang ayah, Conejo Arias. “Demi keselamatan anak, salah satu petugas ICE kami tetap bersama anak tersebut, sedangkan petugas lainnya menangkap (ayahnya),” tulis akun resmi ICE di X. Mereka juga mengeklaim sudah memberi pilihan kepada orang tua: Ikut ditahan bersama anak, atau menyerahkan anak kepada orang yang mereka percayai.
Ramos disebut sebagai satu dari sedikitnya empat anak yang ditahan di distrik sekolah Minneapolis bulan ini, menurut laporan media AS yang mengutip pejabat pendidikan setempat. Pada saat yang sama, Jaksa Agung AS mengumumkan penangkapan tiga aktivis yang dituduh mengganggu kebaktian gereja, dengan meneriakkan protes terhadap pendeta yang diduga bekerja sama dengan ICE. Video dari kejadian itu memperlihatkan puluhan demonstran meneriakkan “ICE keluar!” di dalam gereja.
Tensi tinggi di Minneapolis
Tensi di Minneapolis meningkat sejak agen federal menembak mati Renee Nicole Good, warga negara AS, pada 7 Januari 2026. Petugas ICE yang melakukan penembakan, Jonathan Ross, belum diskors dan tidak dikenai tuntutan pidana. Pemerintah membela tindakannya sebagai pembelaan diri.
Di tengah polemik, pengacara Ramos dan ayahnya, Marc Prokosch, menyatakan bahwa kliennya bukan warga negara AS dan sedang menjalani proses hukum permohonan suaka. Mereka tinggal di Minneapolis yang merupakan “kota suaka”, tempat polisi setempat tidak bekerja sama dengan operasi imigrasi federal. Namun, menurut Vance, kebijakan lokal seperti ini justru memperumit tugas federal. “Kurangnya kerja sama antara pejabat negara bagian dan lokal mempersulit kami untuk melakukan pekerjaan kami dan meningkatkan ketegangan,” kata dia.
Pemerintah Negara Bagian Minnesota saat ini sedang mengajukan permohonan perintah penahanan sementara terhadap operasi ICE di wilayah tersebut. Sidang atas permohonan itu dijadwalkan digelar pada Senin (26/1/2026).











