
Saat masih kecil, tidur siang seringkali dianggap sebagai hal yang membosankan. Kita dipaksa berhenti bermain, dipaksa untuk tidur meskipun sedang menonton acara favorit, dan rasanya dunia masih terlalu menyenangkan untuk dilewatkan. Namun, ketika kita tumbuh dewasa, tidur siang justru menjadi sesuatu yang sangat berharga. Bisa tidur tanpa gangguan, tanpa alarm, dan tanpa merasa bersalah, terasa seperti hal yang sulit dicapai. Tak heran, banyak orang dewasa yang mengatakan “pengen deh jadi anak kecil lagi” atau mencoba memenuhi kebutuhan emosional mereka melalui inner child.
Dulu, saat masih kecil, bayangan kita tentang masa dewasa adalah masa di mana seseorang bisa bebas melakukan apa saja. Bisa pergi ke mana pun, membuat pilihan sendiri, dan tidak harus patuh pada aturan orang tua. Namun, setelah benar-benar masuk ke fase dewasa, kebebasan itu datang bersama tanggung jawab, tekanan, dan tuntutan sosial yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Pada titik ini, kita mulai menyadari bahwa hidup dewasa tidak selalu indah seperti yang kita bayangkan saat kecil.
Imajinasi Masa Kecil tentang Dunia Orang Dewasa
Saat masih kanak-kanak, kita melihat orang dewasa sebagai sosok yang memiliki kendali penuh atas hidupnya. Mereka bisa pergi ke mana saja tanpa izin, tidak perlu patuh pada jam tidur, dan bisa membeli barang yang mereka suka. Dalam pikiran kita, dunia dewasa tampak sederhana: bekerja, memiliki uang banyak, lalu hidup nyaman selamanya. Tidak pernah terpikir oleh kita bahwa kehidupan dewasa juga penuh dengan tekanan dan kegagalan.
Ingat? Ketika masih kecil, kita berani bermimpi, “Pokoknya nanti kalo aku sudah besar, aku mau jadi dokter atau astronaut.” Impian itu terasa dekat dan mudah untuk diwujudkan. Namun, ketika dewasa, mimpi itu terasa semakin jauh karena realitas yang ada, entah itu kondisi ekonomi atau tuntutan sosial lainnya. Ini membuat kita bertanya-tanya, “Apakah saya masih layak untuk bermimpi seperti itu?”
Yang tidak terlihat oleh anak kecil adalah harga dari kebebasan yang kita dapatkan di masa dewasa. Tanggung jawab diri, tekanan sosial, dan tuntutan pendidikan yang tidak pernah muncul dalam bayangan masa kecil. Saat itu, kita tidak pernah membayangkan bahwa setiap keputusan dan konsekuensi hanya akan menjadi tanggung jawab sendiri. Maka, ketika sudah dewasa, banyak dari kita sadar bahwa realitas kehidupan tidak sesuai dengan imajinasi masa kecil.
Realitas Dewasa yang Menguras Energi

Dunia dewasa penuh dengan tekanan sosial, tuntutan pendidikan tinggi, urusan karier, hubungan yang semakin rumit, dan tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Dalam proses menjadi dewasa, kita sering kali dipaksa untuk kuat, rasional, dan sabar, bahkan ketika hati sedang lelah dan tidak baik-baik saja. Tidak ada banyak tempat untuk mengeluh, apalagi berhenti untuk berjuang.
Sebuah studi kesehatan masyarakat yang dilakukan terhadap 4.338 pekerja dewasa—dalam rentang usia 18-65 tahun di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina—menunjukkan bahwa sekitar 62,91% responden mengalami tingkat burnout yang tinggi sampai sangat tinggi. Burnout ini dikaitkan dengan beberapa faktor, seperti tekanan kerja, tuntutan ekonomi, serta meningkatnya risiko stres, kecemasan, dan depresi pada usia tersebut.
Di tengah rutinitas yang melelahkan, sering kali kenangan masa kecil muncul tanpa diundang. Melihat foto lama, melewati tempat wisata yang dulu sering dikunjungi keluarga, atau mengingat momen sederhana bersama orang tua. Semua itu bisa memicu rasa rindu yang sulit diungkapkan. Bukan karena kehidupan dewasa buruk, tetapi karena kita terlalu lelah dan ingin kembali ke masa di mana hidup terasa lebih ringan dan aman.
Apa yang Sebenarnya Dirindukan?

Kerinduan masa kecil bukan hanya tentang mainan, tidur siang, atau libur panjang, tetapi lebih dari itu. Ini adalah keinginan untuk merasa tenang. Masa ketika kita boleh melakukan kesalahan tanpa takut dicap gagal, fase di mana kita boleh menangis tanpa alasan, dan boleh bergantung pada orang lain tanpa merasa bersalah.
Anak kecil sering diberi ruang untuk rapuh. Ketika mereka jatuh, ada yang membantu mereka bangkit. Namun, mengapa ketika kita jatuh saat dewasa, kita hanya diminta untuk “kuat”, tanpa ada yang berusaha memahami apa yang kita alami? Pada akhirnya, kita sadar bahwa yang kita butuhkan bukan kembali menjadi anak kecil, melainkan harapan agar bisa kembali merasakan fase di mana dunia terasa tenang.
Hidup tanpa dikejar-kejar oleh sesuatu, entah itu bayang-bayang pencapaian karier, target masa depan, atau tuntutan sosial untuk segera menjadi “sesuatu” yang bahkan tidak mudah untuk diwujudkan.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











