Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Penyebab Pratu Farkhan Dianiaya hingga Tewas di Papua

Kematian Pratu Farkhan: Kasus Penganiayaan Senior di TNI

Peristiwa tragis yang menimpa Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, seorang anggota TNI yang sedang bertugas menjaga perbatasan Indonesia-Papua Nugini, menjadi sorotan publik. Pratu Farkhan dianiaya oleh seniornya, Kopda Fitrah, hingga meninggal dunia. Kejadian ini memicu kekecewaan dan rasa marah dari keluarga korban terhadap institusi TNI.

Awal Peristiwa

Pratu Farkhan bersama anggota Titik Kuat (TK) Sanepa sedang melaksanakan tugas rutin berupa pembuatan tanggul pertahanan pos hingga pukul 12.00 WIT. Setelah itu, ia mengambil waktu istirahat dengan beristirahat di rumah. Namun, sekitar pukul 13.30 WIT, Pratu Farkhan terlihat berjemur di dekat dapur TK Sanepa dan mengeluhkan tubuhnya menggigil serta merasa sakit saat ditanya oleh Serda Muhammad Rizal.

Tidak lama kemudian, Pratu Farkhan dipanggil oleh Kopda Fitrah ke area samping dapur. Di lokasi tersebut, Kopda Fitrah diduga memerintahkan korban membungkuk dan memukul punggungnya menggunakan kayu ranting kering. Adu argumen pun terjadi setelah korban menyatakan dirinya dalam kondisi sakit.

Kopda Fitrah kemudian disebut memerintahkan korban melakukan sikap tobat, sebelum menendang dada kiri Pratu Farkhan hingga korban terjatuh dan merintih kesakitan. Peristiwa tersebut dilaporkan ke Dansatgas Pamtas RI–PNG Yonif 113/JS. Namun, sekitar pukul 14.15 WIT, tim kesehatan Bakes dan Takes TK Sanepa menyatakan Pratu Farkhan Sauqi Marpaung meninggal dunia.

Tanggapan Keluarga Korban

Orang tua Pratu Farkhan, Zakaria Marpaung dan Marsinah Wati Silalahi, mengaku sangat terpukul dan kecewa terhadap institusi TNI yang bertindak semena-mena terhadap juniornya. Marsinah mengungkapkan bahwa anaknya merupakan sosok yang sangat sayang dengan keluarga dan selalu memberi kabar meskipun sedang bertugas.

“Dia anak pertama, dia anak yang sangat sayang dengan keluarga, apalagi dia setiap hari menghubungi saya untuk memberi kabar,” ujar Marsinah. Ia juga menyampaikan bahwa Pratu Farkhan sempat mengabarkan dirinya sedang sakit sebelum meninggal dunia.

Ayah Pratu Farkhan, Zakaria Marpaung, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap seniornya yang diduga tidak memiliki empati. “Kenapa mereka tidak percaya kalau anak saya sakit. Kenapa mereka malah menganiaya anak saya,” pungkasnya.

Penanganan Kasus

Setelah kejadian tersebut, Kopda Fitrah diamankan ke Kotis untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Keluarga korban berharap adanya keadilan dan transparansi dalam proses penyelidikan kasus ini.

Zakaria Marpaung juga menyampaikan rasa trauma terhadap seragam TNI setelah anaknya diduga mengalami penganiayaan oleh seniornya. “Seragam TNI itu adalah seragam kebangganku, seragam kebanggan anakku. Tapi aku berharap, jangan ada yang pakai baju dinas TNI untuk ke rumah duka kami ini. Aku trauma,” katanya.

Ia juga menyatakan ketidaksukaannya terhadap Kopda Fitrah, yang diduga menjadi pelaku penganiayaan. “Kalau tidak, jumpakan aku dengan Kopral kurang ajar itu. Biar beradu nyawa aku juga sanggup dengan dia itu,” ujarnya.

Kasus ini menunjukkan pentingnya perlindungan terhadap para prajurit TNI, khususnya bagi para junior yang masih dalam proses pembentukan karakter. Diperlukan tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan dan peningkatan kesadaran akan hak asasi manusia dalam lingkungan militer.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *