Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang Menimpa Wanita Hamil Muda
Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa seorang wanita hamil muda kembali menjadi sorotan publik setelah kisahnya viral di media sosial. Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan perlindungan terhadap perempuan, terutama yang sedang mengandung.
Seorang wanita berusia 24 tahun bernama Aranee atau lebih dikenal dengan nama Bee, yang saat itu tengah mengandung tiga bulan, mengunggah rekaman CCTV yang memperlihatkan dirinya dianiaya oleh sang suami di area parkir. Unggahan tersebut dengan cepat menyebar luas dan menuai kecaman keras dari warganet.
Bee menceritakan perjalanan hidupnya dengan raut wajah tegar, meskipun tak mampu menyembunyikan air mata yang mengalir. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya ia tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki dan selama ini menjalani hubungan sesama jenis. Dalam perjalanan hidupnya, ia sempat memiliki pasangan perempuan berpenampilan tomboi. Hubungan tersebut diwarnai konflik berat hingga kekerasan fisik, yang akhirnya membuat mereka berpisah.
Bee juga mengaku telah berjanji kepada keluarganya bahwa apabila ia berpisah dari pasangan perempuannya, ia akan membangun keluarga dan memiliki anak. Hingga akhirnya, Bee bertemu dengan seorang pria yang kemudian menjadi suaminya. Ia merasa telah membuat keputusan yang tepat untuk membangun rumah tangga bersama.
Keduanya menjalani kehidupan sebagai pasangan selama dua tahun, hingga Bee diketahui tengah mengandung anak mereka selama tiga bulan. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena Bee mulai merasakan perubahan sikap pada diri suaminya.
Kecurigaan Bee memuncak pada malam hari tanggal 7 Juni 2020. Pada malam itu, ia memutuskan untuk mencari keberadaan suaminya dengan harapan dapat mengetahui secara langsung dengan siapa suaminya pergi. Sebelumnya, sang suami sempat mengantar Bee ke rumah kakaknya dan memintanya untuk tinggal di sana, dengan alasan bahwa ia akan membawa mobil ke bengkel modifikasi untuk menyetel mesin.
Merasa curiga dengan perubahan perilaku sang suami, Bee kemudian meminjam mobil adiknya dan pergi menuju bengkel yang disebutkan. Namun setibanya di lokasi, ia tidak menemukan suaminya di sana. Dari situ, Bee memutuskan untuk mengemudi sendirian mencari suaminya, meskipun saat itu hujan turun dengan deras dan ia sama sekali tidak mengetahui di mana keberadaan suaminya.
Dalam kondisi hujan lebat, Bee mengemudi sambil mengusap perutnya dan berbicara kepada bayi dalam kandungannya. Ia memohon agar anak yang dikandungnya dapat memberinya petunjuk untuk menemukan sang suami. Perjalanan tersebut dilalui Bee seorang diri dengan perasaan campur aduk antara cemas, sedih, dan marah.
Beberapa saat kemudian, Bee teringat komentar di akun Facebook milik suaminya yang menyebut sebuah kondominium di wilayah Tambon Map Yang Phon. Ia pun memutuskan untuk menuju lokasi tersebut. Setibanya di sana, Bee mendapati mobil suaminya terparkir di area parkir kondominium. Melihat hal tersebut, perasaannya seketika hancur.
Ia mengaku sangat marah, tubuhnya gemetar, dan matanya dipenuhi air mata. Bee sempat terlintas keinginan untuk mengetuk setiap pintu unit di kondominium tersebut. Namun niat itu diurungkan karena area tersebut merupakan wilayah pribadi. Ia kemudian memilih untuk menunggu di depan mobil suaminya.
Tak lama berselang, sang suami diduga mengetahui bahwa Bee datang mencarinya dan kemudian turun menemui Bee. Pertemuan tersebut berujung pada pertengkaran hebat antara keduanya. Bee mengungkapkan bahwa pada saat itu perasaannya seakan hancur berkeping-keping. Pertengkaran yang terjadi kemudian memanas hingga berujung pada tindakan kekerasan, sebagaimana yang terekam dalam video yang kemudian tersebar luas di media sosial.
Setelah kejadian tersebut, Bee kembali mengungkapkan isi hatinya. Ia menyebut bahwa rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan luka batin yang dirasakannya. Ia merasa sangat terpukul karena mengira telah membuat pilihan yang tepat dalam membangun keluarga hingga mengandung anak selama tiga bulan. Namun di tengah beban utang yang mereka bangun bersama, suaminya justru meminta cerai untuk menjalin hubungan baru, sesuatu yang menurutnya sangat kejam.
Sebagai tindak lanjut, Bee telah melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Ia melapor kepada Inspektur Polisi Dua Chanthi Wannupatham, penyidik di Polsek Pluak Daeng, Provinsi Rayong, atas dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh suaminya. Pihak kepolisian kemudian mengarahkan Bee untuk menjalani pemeriksaan medis di Rumah Sakit Pluak Daeng. Selanjutnya, pihak kepolisian akan memanggil suami Bee untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











