Kasus Kematian Faizah Soraya yang Mencengangkan
Kasus kematian Faizah Soraya (42) yang diduga dibunuh oleh anak kandungnya, berinisial AS (12), terus menjadi sorotan masyarakat. Kejadian ini mengejutkan banyak pihak, terutama para tetangga dan warga sekitar yang mengenal korban sebagai sosok yang baik, ramah, serta religius.
Hubungan Rumah Tangga yang Tidak Harmonis
Menurut informasi yang diperoleh dari tetangga dekat, kehidupan rumah tangga Faizah dengan suaminya, Alham Siagian, disebut telah lama tidak harmonis. Rossa, tetangga yang tinggal tepat di sebelah rumah korban, menyatakan bahwa Faizah dan Alham dikabarkan sudah menjalani pisah ranjang. Meski begitu, mereka masih tinggal serumah.
“Pisah ranjang saja katanya. Suami masih sering datang. Itu yang ngomong orang tuanya,” ujar Rossa saat berbicara di lokasi kejadian. Ia juga menjelaskan bahwa pengaturan tempat tidur mereka terpisah antara lantai satu dan lantai dua.
Hubungan Emosional dengan Tetangga
Sebagai tetangga dekat, Rossa mengaku memiliki hubungan emosional dengan Faizah. Keduanya mulai saling mengenal sekitar setahun terakhir. Dalam keseharian, Faizah dikenal sebagai sosok yang ramah dan tidak banyak masalah dengan lingkungan sekitar. Meskipun tidak terlalu aktif bersosialisasi, sikapnya dinilai sopan dan bersahaja.
“Pokoknya ramah, baik. Orangnya gak macam-macam. Dia sudah seperti adik saya dan dia anggap saya seperti kakaknya,” kata Rossa, Rabu (17/12/2025).
Aktivitas Harian yang Positif
Menurut keterangan tetangga, Faizah memiliki rutinitas yang cenderung positif. Ia kerap mengikuti kegiatan pengajian dan rajin berolahraga. Hal itu membuat warga sekitar tak pernah melihat adanya konflik terbuka yang melibatkan korban. Karakter Faizah yang tenang dan tertutup justru membuat kabar kematiannya mengejutkan banyak pihak, termasuk para tetangga terdekat.
Rossa dan warga sekitar mengaku sangat terpukul saat mengetahui Faizah meninggal dunia secara tragis. Yang paling membuat mereka tak menyangka adalah dugaan bahwa pelaku merupakan anak kedua korban sendiri.
Penyebab Anak Bunuh Ibu Kandung di Medan
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menjelaskan bahwa fenomena ini disebut sebagai parisida, yaitu pembunuhan anak terhadap orang tuanya. Berdasarkan hasil penelusuran KPAI, AI mengaku merasa tidak nyaman dengan perilaku ibunya yang dinilai suka marah pada kakak dan sang ayah.
“Anak ini sebenarnya membela kakaknya, yang mungkin sering diiniin ibunya. Kemudian juga membela ayahnya. Jadi yang kami dapatkan informasi, anak ini merasa tidak nyaman dengan perilaku ibunya yang kadang sering marah-marah kepada kakaknya dan ayahnya, terutama kakaknya,” ungkap Diyah, dalam tayangan YouTube TV One News, Rabu (17/12/2025).
“Jadi lebih ke motif utama (pelaku membunuh) mungkin dendam atau sakit hati (kepada ibu),” tambah Diyah. Selain itu, AI mengaku memendam sakit hati karena korban memiliki sifat tempramen.

Keluarga Menyangkal
Namun, pengakuan Al ini diragukan oleh pihak keluarga besar. Dimas, salah seorang anggota keluarga korban, merasa janggal jika bocah kelas 6 SD mampu melakukan belasan tusukan seorang diri.
“Adek Al mengaku dia yang membunuh mamanya tapi semua kejanggalan mulai tampak dan kita hanya bisa nunggu laporan resmi dari kepolisian dan saya harap penyidik bisa mengungkap kebenarannya karena ini terlalu banyak kejanggalan,” tulis Dimas dalam postingannya di Instagram, Selasa (16/12/2025).
“Logika, ini adek masih kelas 6 SD bukan SMP ya kawan-kawan dan luka tusuk ada 20 tusukan, logika aja gak teriak mamaknya kalau gak dibekap,” tulis Dimas. “Penikaman lebih dari 20 tusukan di punggung, perut, tangan, kaki dan kepala korban,” sambungnya.











