Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Pandangan Susno Duadji tentang motif pembunuhan anak Haji Maman di Cilegon

Kasus Pembunuhan Bocah 9 Tahun di Cilegon, Mantan Kabareskrim Beri Analisis

Kasus pembunuhan MAHM, seorang bocah berusia 9 tahun yang merupakan anak dari seorang politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menjadi perhatian banyak pihak. Kejadian ini terjadi di rumah mewah milik keluarga korban di Perumahan Bukit Baja Sejahtera, Kota Cilegon, Banten, pada Rabu (17/12/2025). Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Polri, Susno Duadji, memberikan analisisnya mengenai motif dan proses penyelidikan kasus tersebut.

Susno Duadji menyatakan bahwa kejadian ini hampir pasti merupakan tindakan pembunuhan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa tidak ada indikasi kehilangan barang-barang di tempat kejadian. Ia menilai, hal ini menunjukkan bahwa pelaku memiliki tujuan spesifik, bukan sekadar pencurian atau perampokan.

“Pertama-tama saya menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga atas meninggalnya sang anak,” ujar Susno Duadji dalam pernyataannya. “Saya setuju dengan pihak Polres bahwa 95 persen ini adalah pembunuhan. Mengapa? Karena tidak ada barang yang hilang.”

Menurut Susno, fokus utama penyelidikan saat ini adalah mengungkap identitas pelaku, karena melalui pelaku akan terungkap motif pembunuhan tersebut. Ia menekankan bahwa meskipun motif belum diketahui secara pasti, identitas pelaku dapat ditelusuri melalui keterangan saksi dan alat bukti yang tersedia.

“Dengan mengetahui siapa pelakunya maka motivasi pembunuhan akan terungkap,” jelasnya. Menurut Susno, kejahatan ini bisa saja ditujukan pada korban atau anggota keluarganya. Namun, ia memperingatkan agar penyidik tidak berspekulasi tanpa bukti kuat.

Motif Dendam dan Kemungkinan Pelaku dari Lingkungan Sekitar

Terkait kondisi korban yang mengalami banyak luka, Susno menyimpulkan kemungkinan besar adanya motif dendam. Ia menjelaskan bahwa jika hanya ingin membunuh, pelaku tidak perlu melukai korban secara berlebihan.

“Saya menyimpulkan bahwa itu ada semacam dendam ya, karena kalau misalnya hanya ingin membunuh saja tidak perlu terlalu banyak melukai, mencederai daripada korban,” ujarnya. Ia juga menyebut bahwa pelaku bisa saja berasal dari lingkungan luar maupun orang terdekat keluarga korban.

Namun, ia menegaskan bahwa penyidik harus tetap hati-hati dan tidak langsung mengarahkan dugaan pada orang terdekat tanpa bukti yang jelas. Menurutnya, Polri perlu mendalami latar belakang keluarga korban, lingkungan sekitar, serta jejak komunikasi elektronik seperti ponsel dan pesan singkat yang mencurigakan sebelum kejadian.

“Adakah petunjuk-petunjuk elektronik berupa HP yang menerima WhatsApp, yang menerima SMS atau yang menerima telepon dari pihak tertentu yang mencurigakan. Yang marah, yang mengarah kepada keluarganya baik bapaknya atau ibunya atau pembantu yang menerima pemberitahuan yang mencurigakan,” jelas Susno Duadji.

Ia juga menilai kecil kemungkinan terjadinya salah sasaran, karena pelaku diyakini sudah mengamati target dengan matang sebelum beraksi. “Kalau untuk salah sasaran kemungkinan kecil. Orang yang niatnya ingin mengederai atau ingin membunuh dia pasti paham betul siapa sasarannya. Paham dari wajah, nama, identitas.”

Pengamatan dan Persiapan Pelaku

Susno Duadji menduga, pelaku tidak langsung tiba-tiba melakukan perbuatannya. “Pasti dia sudah mengintai, sudah mengamati rumah itu. Sudah mengamati sasarannya siapa, kalau tidak ketemu yang ini, ketemu yang ini, dia harus hafal betul. Pasti sudah dipantau sekian hari sebelum peristiwa terjadi,” ujarnya.

Dalam mencari keterangan, Susno menekankan pentingnya pendampingan psikologis jika saksi anak di bawah umur. Ini dilakukan untuk menghindari trauma. “Semua orang-orang yang di bawah umur yang dimintai keterangan sebaiknya dan wajib didampingi oleh seorang ahli kejiwaan supaya tidak trauma,” tutupnya.

Pihaknya berharap polisi segera mengusut kasus ini dengan cepat dan tepat sasaran. “Kita berharap peristiwa ini harus bisa diungkap oleh Polri. Kalau tidak diungkap ini dampaknya selain kepada keluarga korban, kepada masyarakat, juga kepada orang tua yang lain. Mereka (orang tua lain) merasa takut, merasa was-was, meninggalkan rumah dan sebagainya, meninggalkan anaknya. Kalau terjadi peristiwa yang serupa, maka harus diungkap tuntas,” tegas Susno Duadji.

Keseharian MAHM yang Baik

MAHM, yang berusia 9 tahun, dikenal sebagai anak yang baik. Tetangga dekat bernama Gina (nama samaran) menyebut bahwa keluarga korban, termasuk ayahnya Haji Maman, memiliki perilaku yang baik. Gina mencontohkan ketika hendak pulang ke rumah pribadinya, Maman maupun istri kerap membuka jendela mobil untuk menyapa Gina yang kebetulan sedang berada di depan rumah.

“Haji Maman sosok yang baik banget. Dia menyapa kalau lewat. Misalnya pas ketemu, walaupun di dalam mobil dia buka jendela ‘bu, permisi bu’,” kata Gina. “Istrinya juga gitu, lewat itu ya menyapa juga,” tambahnya.

Rumah mewah Maman Suherman berdiri di kavling yang luasnya kurang lebih sekitar 500 meter persegi. Di depan rumah itu terdapat sejumlah karangan bunga ucapan duka cita atas wafatnya MAHM dari sejumlah pihak. Bangunan rumah tersebut dicat dengan warna putih di seluruh bagian dinding dengan perpaduan cat warna hitam serta emas pada bagian pagar maupun tralis-tralis yang terdapat pada bangunan rumah itu.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *