Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Kasus Bunuh Ibu di Medan: Anak SD Diduga Pelaku, Tidak Ada Luka dan Suami Bohong

Kejanggalan dalam Kasus Anak SD yang Diduga Membunuh Ibu Kandungnya

Kasus kematian Faizah Soraya, seorang ibu rumah tangga yang ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara, mulai menimbulkan banyak pertanyaan. Kejanggalan-kejanggalan dalam peristiwa tersebut terungkap melalui pengakuan keluarga korban, termasuk Dimas, salah satu anggota keluarga Faizah.

Dimas mengungkapkan bahwa keluarga besar meragukan pengakuan Al, putri bungsu Faizah, yang mengaku sebagai pelaku tunggal pembunuhan tersebut. Menurut Dimas, ada beberapa hal yang tidak logis dalam kronologi kejadian. Pertama, waktu terjadinya penikaman disebut terjadi pada pukul 03.00 WIB. Saat itu, Al dan kakaknya diketahui tidur bersama ibunya di kamar lantai bawah, sementara suami korban berada di kamar lantai atas.

Menurut Dimas, hal ini memunculkan pertanyaan mengapa Faizah tidak berteriak atau mencoba meminta pertolongan saat diserang. “Jika seorang ibu diserang puluhan kali, apakah ia tidak melawan atau berteriak?” tanya Dimas. Hal ini menjadi salah satu kejanggalan yang tidak bisa diabaikan.

Kejanggalan berikutnya muncul setelah warga mengetahui bahwa Faizah diduga ditusuk hingga 20 kali. Dimas juga menyampaikan bahwa sopir ambulans sempat datang ke lokasi kejadian sebelum korban dinyatakan meninggal dunia. Namun, ambulans menolak membawa korban karena informasi awal menyebutkan pendarahan biasa, bukan penikaman.

Selain itu, Dimas mempertanyakan mengapa tidak ada upaya meminta bantuan warga sekitar dari pukul 03.00 WIB hingga ambulans datang. Hal ini membuat keluarga semakin curiga terhadap kejadian tersebut.

Permintaan terakhir korban juga menjadi kejanggalan lain. Menurut Dimas, Faizah sempat meminta minum saat masih hidup. Setelah ambulan tiba, polisi akhirnya datang ke rumah korban pukul 05.00 WIB setelah mendapatkan laporan dari warga.

Selanjutnya, jumlah luka tusukan di tubuh korban juga menjadi pertanyaan. Dimas ragu bahwa Al, yang masih duduk di kelas 6 SD, bisa melakukan penikaman sebanyak 20 kali. Selain itu, ia heran kenapa tidak ada luka pada tangan Al, sementara kakaknya justru memiliki luka setelah insiden tersebut.

Perkembangan Kasus dan Penyidikan

Polisi telah melakukan rekonstruksi di TKP pembunuhan dengan menghadirkan terduga pelaku yakni Al, kakaknya, dan sang ayah, Alham. Sebelumnya, Al sempat dibawa penyidik Polresta Medan untuk diperiksa secara intensif. Dalam olah TKP tersebut, Al didampingi oleh KPAI serta keluarga.

“Pelaku sudah dibawa ke Polrestabes Medan, hingga kini masih proses pendalaman dan pemeriksaan dengan pendampingan,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto.

Kehidupan Keluarga Korban

Kehidupan keluarga Faizah Soraya dikenal tertutup dan jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. Faizah dan keluarga tinggal di kompleks Jalan Dwikora selama sekitar 20 tahun. Meski demikian, hubungan mereka dengan tetangga terbilang sangat terbatas.

“Kalau bertemu dengan korban, paling hanya sekadar menyapa, tidak pernah berbincang lama atau berkumpul,” ujar N, seorang warga.

Faizah lebih sering menghabiskan waktu bersama kedua anaknya, Shamikha Alzena Siagian dan SAS (12), yang diduga sebagai pelaku. Aktivitas harian Faizah meliputi mengantar dan menjemput anak-anaknya ke sekolah serta kerap mengajak mereka berjalan-jalan.

Namun, warga jarang melihat kebersamaan Faizah dengan suaminya, Alham Humala Siagian, di luar rumah. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pasangan suami istri tersebut telah lama pisah ranjang. Faizah tidur bersama kedua anaknya di lantai satu, sementara sang suami menempati kamar di lantai dua.

Meski dari luar keluarga itu terlihat baik-baik saja, warga mengaku sempat mendengar pertengkaran dari dalam rumah. Suara cekcok antara Faizah dan suaminya, termasuk suara barang dibanting, kerap terdengar. Korban juga sering memarahi putri sulungnya sampai suaranya terdengar ke luar rumah.

Sementara itu, suami korban diketahui sering bepergian ke luar kota untuk bekerja, sehingga jarang berada di rumah.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *