Tantangan Media Konvensional di Era Digital
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, masyarakat kini semakin mengandalkan konten digital untuk memperoleh informasi. Namun, tren ini juga membawa berbagai tantangan, terutama dalam hal kepercayaan terhadap sumber informasi. Salah satu isu yang menonjol adalah munculnya konten tanpa sumber jelas, seperti yang sering ditemukan dalam bentuk “jemaah sesat” di platform digital. Hal ini membuat media konvensional terancam menjadi “gelandangan” dalam dunia digital, terdesak oleh algoritma dan bahkan terindikasi sebagai kubangan permainan oligarki.
Dalam sebuah wawancara khusus dengan Pikiran Rakyat Kuningan, Kaprodi FIKOM Unpad sekaligus peneliti komunikasi dan media, S. Kunto Adi Wibowo, M.Comn., Ph.D, menjelaskan tantangan yang dihadapi media konvensional. Ia menyampaikan bahwa fenomena disrupsi dan pengaruh algoritma telah menggerus kredibilitas berita di tengah hiruk-pikuk perilaku konsumsi informasi masyarakat yang makin terdistorsi.
Implikasi “In the Name of God”: Tren Konsumsi Informasi yang Terdistorsi
Kunto menyoroti tren masyarakat yang kini cenderung mengonsumsi informasi dari sumber sekunder atau bahkan platform digital tanpa otorisasi jelas. Ia menganalogikan kecenderungan ini dengan dampak film dokumenter Netflix berjudul, “In the Name of God: A Holy Betrayal.” Meskipun film tersebut adalah konten jurnalistik investigasi, cara masyarakat mengonsumsi dan menyebarkannya sering kali lepas dari konteks asli media pembuatnya.
Selain itu, Kunto juga membahas tentang fenomena “homeless media,” di mana konten-konten berkualitas dari media mainstream kehilangan “Ownership of News” dan beredar bebas, bahkan di tangan pihak yang salah.
Peran KOL dan Influencer dalam Memperkuat Berita Mainstream
Sekarang ini, banjir konten telah membuat peran Key Opinion Leader (KOL) dan influencer menjadi sangat krusial. Namun, sering kali mereka disalahgunakan. Menurut Kunto, seharusnya KOL tidak menciptakan isu baru yang spekulatif, melainkan membahas isu yang sedang “in” atau menjadi perhatian media mainstream yang telah melewati proses verifikasi.
Sikap ini bukan hanya untuk menjaga kualitas informasi, tetapi juga untuk membantu media konvensional merebut kembali “Ownership of Issue”—kepemilikan atas isu yang dibawakan. Jika KOL dan media utama bersinergi, kredibilitas dan otoritas informasi akan kembali berpusat pada sumber yang teruji.
Frenemy Digital dan Oligarki Algoritma
Pendekatan fenomena “frenemy—friend and enemy” (teman sekaligus musuh) digunakan untuk menjelaskan hubungan antara media massa dengan platform digital. Di satu sisi, platform digital memberikan akses luas. Tapi di sisi lain, mencuri traffic dan mengancam eksistensi media melalui disrupsi oleh Artificial Intelligence (AI).
Kondisi ini diperparah oleh dugaan Agenda Setting Oligarki, yaitu kemampuan segelintir platform besar untuk menentukan isu yang dilihat dan didengar publik melalui kendali algoritmanya yang dimainkan oligarki, misalkan menggunakan buzzer.
Media konvensional harus mendalami dan menguasai algoritma ini, tidak hanya sebagai alat distribusi tetapi sebagai kunci untuk melawan disrupsi. Namun, ini membutuhkan kekuatan modal besar untuk mempekerjakan SDM andal. Sementara “kue” atau iklan direct sekarang lebih besar diperuntukan bagi KOL dan influencers.
Kekuatan Sejati: Komunitas dan Akademik
Lalu, bagaimana media dapat bertahan dari badai disrupsi ini? Jawabannya terletak pada keterikatan yang kuat. Kunto menyarankan media harus membangun “engagement community.” Komunitas memberikan loyalitas dan kepercayaan yang tidak bisa dibeli atau dicuri oleh algoritma.
Selain itu, kolaborasi dengan pihak akademik menjadi semakin penting. Jurnalisme investigasi, seperti yang terlihat dalam film dokumenter Netflix berjudul, “In the Name of God: A Holy Betrayal,” membutuhkan kedalaman riset dan metodologi ilmiah yang dapat disumbangkan oleh akademisi. Kolaborasi ini memastikan konten media memiliki basis EEAT (Expertise, Experience, Authoritativeness, Trustworthiness) yang tinggi, sesuai tuntutan era digital.
Pilar Keempat Demokrasi yang Tangguh
Inti dari wawancara ini adalah peran fundamental media dalam demokrasi. Kunto mengingatkan pentingnya memahami ‘Teori Agenda Setting.’ “Media memiliki kekuatan untuk menentukan apa yang dipikirkan publik, meski bukan bagaimana publik memikirkannya,” ujarnya.
Menjawab tantangan “mediamorfosis,” Kunto menegaskan platform digital bukan musuh mutlak, melainkan alat yang harus dikendalikan dengan etika dan visi redaksional yang kuat. Ia mengingatkan, jika media mampu mempertahankan kekuatan sosialnya, maka pers akan tetap menjadi pilar keempat demokrasi yang tangguh.
Di tengah disrupsi, pesan Kunto adalah bahwa media massa harus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, berkolaborasi tanpa kehilangan independensi, dan memanfaatkan teknologi tanpa menyerahkan agenda publik sepenuhnya pada algoritma.
Jika media konvensional berhasil beradaptasi—menguasai algoritma, membangun komunitas loyal, dan memastikan Ownership of News—maka dapat membangun kekuatan sosial yang tak tertandingi. Bahwa adaptasi bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi tentang mempertahankan fungsi kritis media dalam menjaga keseimbangan kekuasaan dan mencegah kekalahan narasi pada dominasi platform dan AI.











